Tampilkan postingan dengan label Cerita Silat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Silat. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 Januari 2012

KECAPI NAGA (14)


14
“GRRRR…!”

Sepertu dugaan Nago Salapan, gadis yang berbonceng dengan lelaki tersebut memang Nadia. Lelaki itu, Mori. Mereka baru saja kembali dari rumah kost Sarah.
Tadi siang mereka berlatih di Taman Budaya. Setelah selesai berlatih, Nadia terperanjat, kalungnya hilang. “Kalung saya hilang, Sarah,” ujarnya.
“Tadi saya masih melihat kalung itu di lehermu,” sahut Sarah.
Termangu Nadia. Kalung itu berbandul dua mustika. Satu mustika air dan sebuah lagi mustika kayu. Dia berusaha mencari kalung tersebut di sekitar ruangan latihan. Namun sudah demikian mencari kalung tersebut tetap saja tak ketemu.
“Atau tercecer di rumah Sarah,” ujar Mori.
“Saya kurang tahu juga. Sebaiknya kita ke rumah kost saya,” usul Sarah.
Sampai di rumah kost Sarah, mereka langsung mencari. Mereka membalik karpet di ruang tamu. Lalu membuka laci buffet, lemari pakaian. Hasilnya sia-sia saja.
Mengeluh Nadia duduk di pinggir ranjang Sarah dalam kamar itu. “Saya sungguh tak mengerti di mana kalung itu tercecer. Aduh…gimana ini, “ gadis itu menepuk dahinya sendiri.
Sarah bersimpuh di lantai. Ia juga gelisah. “Atau kalung itu tertinggal di rumahmu,” ujar Sarah.
Nadia menggeleng. “Tidak mungkin, saat saya latihan kalung itu mengantung di leher ini.”
“Lalu ke mana mengirapnya?”
Nadia menarik nafas dan menghembuskan lepas-lepas. Ia tampak sedih. Bandulan kalung tersebut terdiri dari dua mustika. Mustika yang sangat langka. Dan amat berarti bagi saya.”
“Ya, saya juga melihat.”
“Andaikata jatuh ke tangan orang lain, terutama bagi mereka mengetahui kemukjizatan benda tersebut. Bila benda itu digunakan untuk maksud jahat. Maka habislah dunia ini.”
“Atau kita kembali ke Tabud (Taman Budaya),” ajak Sarah.
Terpaku sejenak Nadia.
“Ayo, “ Sarah menarik lengan Nadia.
“Tidak usah. Kamu sudah cape. Istirahatlah.”
“Jangan kamu pikirkan soal itu. Mari saya antar lagi ke Tabud.”
Sebelum Nadia menjawab, tiba-tiba kedengaran suara motor di halaman. Ternyata yang datang Mori.
“Ada apa, Bang,” sapa Sarah.
“Saya baru ingat.”
“Ya, apa Abang menemukan?”
“Bukan. Tapi saya melihat kaluing itu dipegang oleh Icha. Ia mempermainkan di tangannya. Kebetulan ia tidak ikut menari.”
“Icha itu siapa?”
“Dia anggota baru. Tapi saya tahu tempat tinggalnya,” Mori menjelaskan. “Biar saya antar kamu ke sana.”
Nadia berdebar-debar. Segera saja mereka berangkat ke rumah Icha di Lubuk Buaya. Akan tetapi sampai di Lubuk Buaya, mereka kecewa. Ternyata telah berangkat. “Gadis itu memang tinggal di sini. Dia baru seminggu di sini. Icha menyewa pavilyun, ” tutur pemilik rumah.
“Ke mana dia. Apa ada pesan ke mana perginya?”
“Wah, soal itu saya kurang tahu. Sore tadi ia tampak mengemasi barang-barangnya. Padahal pavilyun itu dikontraknya untuk setahun. Sudah ia bayar lunas. Ketika ia berangkat, ia beri pula kami hadiah,” ujar istri pemilik rumah yang mendampingi suaminya.
Nadia menggigit bibir kesal. Tiba-tiba Nadia ingat sesuatu, dan bertanya pada pemilik rumah. “Apakah gadis itu gelang di kedua belah tangannya?”
“Oya. Tampaknya gadis itu dari keluarga berada juga. Ia cantik dan suka memakai perhiasan. Sepasang lengannya dipenuhi gelang emas, sampai ke siku. Saat ia berjalan kedengaran bunyi gemerincing.” Suami istri itu saling berpandangan.
Nadia sudah menduga, siapa gadis tersebut. Pastilah dia Puti Galang Banyak atau Olivia.  “Nama gadis itu bukan Icha,” kata Nadia mengerling pada Mori.
“Dia, Puti Galang Banyak. Jelaslah ia mengenal benda tersebut. Sebaiknya kita tinggalkan tempat ini. Sia-sia menunggu di sini. Ia tahu bahwa saya akan mencari dia.”

*

Tiba di Sungailareh Nadia langsung masuk kamar. Bu Darmi, ibu angkat Nadia hanya menggeleng kepala melihat wajah cemberut gadis itu. Biasanya, perempuan itu bertanya setelah Nadia keluar kamar.
Nadia melonjorkan kakinya lurus-lurus di ranjang. Ia hembuskan nafas berkali-kali untuk menghilangkan stres. Kesal bukan main Nadia, menyesali ketidak-waspadaannya. Kurang awas dia!
Senja telah berlalu. Malam mulai beranjak perlahan tapi pasti. Puti Rinjani khawatir . “Jelaslah Puti Galang Banyak segera terbang ke Jakarta menyerahkan kedua mustika tersebut pada Kati Muno. Dan selanjutnya Anurangga dan Kati Muno akan memporak-berandakan dunia. Mungkinkah itu yang harus diterima?”
Gadis itu menangkupkan wajahnya ke bantal.  Ia ingin menyembunyikanrasa khawatir itu  Dengan bersatunya lima mustika tersebut maka Kati Muno sukar ditandingi.

**

Sementara itu Puti Galang Banyak malam tersebut telah tiba di bungalow Anurangga. Ia disambut Silangkaneh begitu memasuki ruang tamu. “Tuanku mencemaskan keselamatan Rangkayo Permaisuri,“ kata lelaki banci itu seraya menenteng tas yang dibawa Puti Galang Banyak
“Mana kanda Anurangga?”
“Tuanku bersama Guru di atas.”
Tersenyum lebar Anurangga melihat kedatangan perempuan itu. Lelaki tersebut bangkit dari sofa dan memeluk Olivia. “Denai merindukan kamu,” desahnya seraya mencium kening permaisurinya itu.
“Mana mustika itu?” Kati Muno tanpa basi langsung bertanya.
Olivia membuka jaketnya, menyampirkan di sofa. “Agaknya Guru sudah tak sabar lagi,” tukas perempuan itu. Ia menggamit Slang. “Sini tas itu Slang!”
Slang memberikan tas yang dibawanya pada Puti Galang Banyak. Puti Galang Banyak atau Olivia membuka tas tersebut. Cahaya membersit di ruangan tersebut ketika ia memperlihatkan kalung berbandul dua mustika itu.
“Sungguh berat perjuangan saya merebut mustika ini. Saya terpaksa menjelma menjadi seorang gadis. Icha nama gadis itu. Sosok itu tidak dikenal oleh Puti Rinjani dan Nago Salapan.”
“Syukurlah penyamaranmu tak ketahuan,” tukas Anurangga. Raja muda tersebut takjub melihat cahaya membersit yang keluar dari dua mustika tersebut.
“Rangkayo permaisuri memang ahli soal samar menyamar,” sela Silangkaneh.
Kati Muno mangut-mangut. Lelaki itu berdecak kagum. Kagum akan kepiawaian Puti Galang Banyak merubah sosoknya. Itulah ilmu “Seribu Wajah” yang diwariskannya kepada perempuan tersebut.
Setelah menatap Puti Galang Banyak, Anurangga dan Silangkaneh silih berganti, Kati Muno mengeluarkan tiga mustika yang lainnya. Mustika itu adalah mustika angin, mustika api, dan mustika tanah. Ruangan itu semakin bercahaya.
Olivia mengerling pada Anurangga. Anurangga mengangguk tanda setuju. Tanda Puti Galang Banyak tiba-tiba ketawa berderai. Dada gempal perempuan itu yang kelihatan bagai sepasang bukit kecil tersebut beguncang-guncang.    
Anurangga heran. Lelaki itu heran kenapa tiba-tiba permaisuri tersebut ketawa seperti itu. Apakah ia tidak menghormati suaminya dan Kati Muno?
“Anak manis. Kenapa kamu. Apa ada yang lucu?”
“Tidak…”
“Lalu?”
Sekali lagi Olivia mengerling pada Anurangga. “Saya tahu bila kelima mustika alam ini disatukan. Maka kesaktian Guru akan sempurna. Di dunia ini, Guru tak akan ada tandingannya.”
“Kati Muno ketawa lebar. “Nah, apa yang kamu tunggu. Mari denai satukan lima mustika itu!”
“Saya mengajukan syarat!” Tiba-tiba Puti Galang Banyak berkata.
Terperanjat bukan main Anurangga. Ia tidak menyangka Puti Galang Banyak melontarkan kata-kata itu. Etah setan apa yang memasuki pikiran perempuan itu sehingga dia mengajukan syarat. Syarat macam apa itu? Anurangga menunggu.
Sementara itu Slang yang dikenal mempunyai kemampuan berkelit berkilah dan bersilat lidah, pun tidak kuasa membaca maksud Puti Galang Banyak. Kenapa sang permaisuri tersebut mengajukan syarat.
“Kamu mengajukan syarat? “ Kati Muno kaget sesaat. Kemudian ia menatap Anurangga. Lalu menatap Silangkaneh. Akhirnya menukikan pandangan pada Puti Galang Banyak. “Apakah diantara kita tidak saling mempercayai lagi. Bukankah denai kembali ke dunia fana ini adalah untuk membantu cita-cita kalian? “
Olivia mengerling pada Anurangga. “Percayakah kanda, jika Guru Kati Muno menggabungkan lima Mustika Alam jadi satu. Dan dia akan menguasai bumi ini. Apakah Guru akan menjadi sekutunya? Jangan-jangan dia akan menghabisi kita.”
Dada Kati Muno turun naik menahan amarah. Ia tiba-tiba ketawa lebar. Setelah puas ketawa, ia melotot. Mata lelaki itu mencorong tajam.
Anurangga tidak berani menantang. Ia lebih suka memandang ke sudut lain.
Slang menjatuhkan pandangan ke lantai.
Olivia menyambut tatapan mata Kati Muno yang garang itu. Mata perempuan tersebut perih alang kepalang.
“Jadi kamu khawatir denai akan berkhianat. Baiklah…Ajukanlah syaratmu itu!”
Puti Galang Banyak tersenyum. Senyum penuh kemenangan. “Baik guru. Dengarlah!”
Kati Muno mendengus.
“Pertama, guru harus mengakui kanda Anurangga sebagai raja Pagaruyung yang berdaulat penuh.”
Lelaki itu mengangguk.
Wajah Anurangga tampak cerah.
“Kedua, saya adalah permaisuri raja Pagaruyung. Dan guru harus mengakuinya!”
Kati Muno mengerling pada Anurangga. Tampak Anurangga mengangguk tanda setuju. “Syarat pertama dan kedua denai terima. Demi bumi dan langit denai junjung syarat tersebut. Lalu apa syarat ketiga?”
“Syarat ketiga adalah syarat yang paling berat dan penting dari sebelumnya.”
“Katakanlah.”
“Guru siap mendengarnya?”
“Mmm…”
“Tidak akan menolak syarat ini?”
“Tidak!”
Puti Galang Banyak melempar senyum pada Anurangga. Ia mengangkat dagu tinggi sehingga tampak angkuh. “Inilah syarat ketiga itu. Saya permaisuri raja Pagaruyung  dengan ini menyatakan bahwa setiap langkah guru dan raja harus mendapat restu dari saya!”
Terhenyak Anurangga.
Slang merinding mendengar pernyataan tersebut.
Rahang Kati muno bergerak kencang. Darah lelaki tersebut mendndih. “Perempuan ini semakin cerdik. Dan sangat licik,” gumam Kati Muno. Ingin dia membakar perempuan tersebut dengan sorotan matanya. Tapi niat itu dia batalkan. “Baiklah. Semua syarat yang kamu ajukan denai terima!”
“Guru…”
“Denai harap Baginda raja tidak membantah.”
Renyah ketawa Puti Galang Banyak penuh kemenangan. Ia bangkit sambil berpangku tangan. Gaya perempuan itu sungguh pongah di hadapan lelaki tersebut. “Perlu diketahui bahwa Guru dan yang mendengarnya terikat pada janji itu. Jika Guru dan yang mendengarnya mungkir maka akan tumbuh bisul di tubuh setiap hari. Dan sembuhnya satu dalam setahun!”
Petir menggelegar. Kilauan cahayanya masuk ke dalam ruangan.
“Ya,” sahut Kati Muno.
Puti Galang Banyak mendekati Kati Muno. Bibirnya yang merah itu merekah basah. Ia angsur mustika air dan mustika kayu ke tangan Kati Muno.
Muncul dahaga birahi dalam pikiran lelaki itu. Ia berniat merengkuh pinggang perempuan itu, dan melumat bibir tersebut. Namun ia lebih memilih mengambil kedua mustika itu. Kemudian tanpa membuang waktu, kati muno mempersatukan kelima mustika tersebut.
Tiba-tiba kedengaran suara mendengung-dengung.
Petir menggelegar sambung bersambung.
Kati Muno menggenggam erat kelima Mustika Alam tersebut. Bergetar lengan lelaki itu diguncang mustika itu. Mustika tersebut seakan-akan berontak dari genggaman Kati Muno.
Kedengaran bunyi mendesis-desis. Raungan aneh membahana. Ketawa ramai kedengaran nyaring bagai ringkik kuntilanak. Lalu bunyi genderang perang bertalu-talu. Puput salung dan talempong mendayu-dayu, dan melengking tinggi. Semuanya bercampur aduk.
Ruangan itu jadi hingar bingar. Bergoyang bagai diguncang gempa hebat. Angin berputar di luar sana. Anurangga terlempar ke sudut itu. Sedangkan Silangkaneh mengelosor ke bawah meja. Meja itu menghantam punggung banci tersebut.
“Grrrrrhhh!”
Tubuh Kati Muno bergetar hebat. Rambut lelaki itu mencuat. Kelihatan ular-ular kecil  di atas kepala Kati Muno. Rambutnya berubah jadi ular kecil yang bergerak mencuat.
Sekonyong-konyong di ruangan tersebut tampak sosok ular raksana. Itulah bentuk asl Kati Muno. Cahaya biru membungkus ular raksana tersebut. Berderai bagai manik jatuh ke lantai sisik-sisik Kati Muno.
“Grrrrrrh!”
Cahaya biru membungkus ular raksasa jelmaan Kati Muno.
Anurangga ternganga-ngaga.
Puti Galang Banyak mendekat Anurangga.
Slang berusaha keluar dari runtuhan meja.
“Owaaaaa!”
Bagai roket meluncur, Kati Muno meluncur naik ke atas, ubun-ubunnya menghantam loteng. Berderai dan beserpihan loteng tersebut. Tubuh Kati Muno seperti kehikangan kendali, ia melayang membentur dinding. Menghantam apa saja yang menghalanginya. Ia kini melayang jauh keluar sana!
Penduduk di sekitar sana terbangun dari tidur lelap.
Kang...Akang. Bangun!”
“Ada apa. Akang udah cape.”
“Gempa. Rumah kita akan roboh!”
Lelaki itu terbangun. Ia melompat dari ranjang, terhuyung-huyung. Istrinya telah duluan keluar seraya menggendong sesuatu. Nun di sana, perempuan itu melihat api membakar hutan.
“Bukan gempa tapi kebakaran,” gumam perempuan itu.
Lelaki itu mengomel seraya menarik lengan istrinya. “Tunggu Kang. Nanti si Otong terbangun,” ujar perempuan itu. Tapi ketika melihat gendongannya, ternyata sebuah bantal guling. Tadi ketika ia terbangun ia merasakan gempa. Karena itu dia cepat keluar dan menyambar bantal guling yang dikiranya bayi.
Kebakaran hebat itu terjadi karena Kati Muno meluncur bagai roket dan jatuh di hutan belantara. Api yang menyelimuti tubuh Kati Muno terus melalap hutan belantara. Itulah proses kesempurnaan kesaktian lelaki tersebut !

SAMPAI JUMPA


** Kati Muno digambarkan sebagai tokoh jahat (ular raksasa) sezaman Datuk Perpatih Nan Sebatang. Tokoh ini dibunuh oleh Datuk Perpatih Nan Sebatang.



KECAPI NAGA (13)


13

Panggilan ke Tanah Suci

Atos tersentak, dan bersamaan Gugum pun terjaga. Sinar matahari pagi masuk lewat ventilasi. Terperanjat Atos ketika Nago Salapan tidak ada di pembaringannya. “Mas, Bang Nago tidak ada. Ke mana dia?”
Gugum meregang lengannya, menggeliat. Ia bangkit seraya mendekati Atos yang terpana memandang ke ranjang. “Kamu kan tidur di bawah ranjang. Apa kamu tidak melihat ia bangkit dan pergi?”
Gatal-gatal seketika kepala Atos. “Jangan-jangan penyakitnya kumat. Dan dia pergi begitu saja.” Lalu Atos segera ke belakang, ia berharap Nago Salapan ada di kamar mandi. Tapi lelaki itu tidak ada di sana.
Sementara itu Gugum membuka pintu depan. Pintu tersebut tak terkunci. Dia menyapukan pandangan, kalau-kalau Nago Salapan duduk di sana. Tidak apa-apa.
“Dia tidak ada di belakang,” ujar Atos.
“Dia sudah keluar. Pintu depan sudah terbuka kuncinya. Dan Nago tidak ada di halaman.”
Mondar-mandir Atos gelisah. Kepalanya terasa semakin gatal. Cemas anak muda tersebut. Kalau Nago keluar sendiri, bisa barabe, bisik Atos dalam hati.
Seorang lelaki berlari-lari kecil di jalan gang. Itulah Nago Salapan. Ia terbangun ketika mendengar azan Subuh. Setelah shalat ia keluar mencari udara segar. Atos dan Gugum masih mendengkur. Terasa tubuh Nago semakin segar menghirup udara pagi.
Ketka Atos melihat Nago Salapan berlari menuju rumah, Atos berseru,”Bang Nago!”
Gugum menoleh ke jalan. Ia melihat Nago.
“Saya kira Abang diculik orang,” sapa Atos asal bunyi.
Nago tersenyum. “Diculik? Buat apa saya diculik. Saya bukan politisi atau konglomerat. Saya bangun ketika kalian masih bermimpi di tempat tidur masing-masing.”
Atos mengamati Nago Salapan dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. Ia melihat ada perubahan di wajah lelaki tersebut. Wajah Nago berseri-seri. Kemaren ia masih tampak pucat bagai kertas tisu yang dihapuskan ke wajah seseorang. “Ke mana Abang pagi-pagi begini?”
Sambil menyeka keringat dengan handuk kecil, Nago berkata,”Selesai shalat Subuh, saya berjalan di halaman. Ketika saya melihat beberapa orang anak muda maraton pagi itu. Saya pun ikut lari. Eh, tau-taunya sampai di jalan Khatib Sulaiman.”
“Abang maraton sampai ke Khatib Sulaiman?”
“Apa itu aneh…”
“Ya…iyalah. Kalau kondisi Abang masih seperti dulu, ya tidak aneh. Tapi Abang kan masih sakit.” Sekali lagi menelusuri sekujur tubuh lelaki tersebut. Tampaknya lelaki itu memang segar bugar. “Tapi Abang tidak boleh begitu. Apapun alasannya, Abang harus memberi tahukan kepada kami.”
“Oke Bos,” canda Nago Salapan seraya ketawa terkekeh.
Atos pun ketawa lebar.

Beberapa saat kemudian ketiga orang tersebut kelihatan berbincang-bincang di teras, sambil minum kopi. “Syukurlah anda sembuh kembali. Cuma saya heran, tadi malam ketika saya datang, engkau mengerang menahan sakit. Dan engkau tidak mengenal saya. Sungguh luar biasa, pagi ini kamu sehat total,” ujar Gugum.
Nago Salapan menarik nafas panjang. “Ya, sebenarnya saya sudah pasrah Apa yang terjadi – terjadilah. Namun Allah berkehendak lain. Kun Fayakun! Seperti yang kalian lihat saya segar bugar hari ini.”
Gugum paham. Tidak mungkin ia mendesak bagai mana proses kesembuhan pendekar tersebut. Antara sadar dan tidak, tengah malam tadi ia merasakan goncangan hebat. Anehnya, ia tak mampu membuka matanya. Seakan-akan tiada daya untuk bangkit menyaksikan peristiwa tersebut. “Itulah kemukjizatan yang orang awam tak boleh melihatnya,” gumam Gugum.

*

Keesokan hari Gugum mengajak Nago Salapan ke kediaman tuan Logos. “Sebenarnya bapak sudah lama ingin bertemu dengan engkau. Beliau sangat menyesal tidak dapat menjenguk kamu ke rumah sakit. Dia sangat sibuk di Jakarta waktu itu.”
“Karena itukah tuan Logos mengundang saya?”
Tertegun sejenak Gugum, kemudian ia berkata,”Saya juga kurang tahu. Bapak hanya memberi perintah agar mengundang anda.”
Logos telah menunggu Nago Salapan di ruang tamu. Ia tampak ramah menyambut lelaki tersebut. “Pertama sekali, saya mohon maaf karena tidak sempat menjenguk anda di rumah sakit. Tugas saya di Jakarta tidak dapat ditinggalkan. Maklumlah, saya hanya seorang bawahan. Prajurit harus patuh pada pimpinan.”
“Tuan tidak perlu minta maaf. Mestinya saya minta terima kasih pada tuan. Tuan telah meringankan beban kami dalam melunasi biaya perawatan di rumah sakit.”
Komandan itu mengerling pada Gugum.
“perintah bapak telah saya laksanakan. Semua kuitansi yang ada di rumah sakit, yang berhubungan dengan segala biaya di sana. Sudah saya selesaikan.”
“Sudahlah, jangan dibesar-besarkan. Hanya itulah yang bisa saya bantu. Bahkan kalau anda bersedia, saya ingin mengajak anda menunaikan ibadah haji.”
Menunaikan ibadah haji? Terperanjat juga Nago mendengar ucapan tuan Logos. Belum pernah terlintas dalam pikirannya, bagaimana ia bisa menunaikan ibadah tersebut. Lagi pula dari mana ia dapat biaya ONH sebanyak itu.”
Tuan dapat membaca pikiran Nago Salapan. “anda tidak perlu bimbang. Segalanya sudah saya urus. Besok kita Manasik.
Nago Salapan sungguh tidak mengerti. Tidak mengerti kenapa Logos demikian peduli padanya. Apakah tawaran itu benar-benar ikhlas. Atau ada udang di balik batu? Ia menyandarkan punggungnya dalam-dalam ke sandaran sofa. “Apakah nsik haji itu sah jika bukan atas usaha sendiri?” ia menggumam dalam batin.
“Anda tidak usah bimbang. Selama ini anda telah banyak membantu saya, teutama dalam penggerebekan pengirim senjata senjata ilegal oleh Anurangga,” ujar Logos.
Nago Salapan mengalihkan pandangan pada Gugum. Gugum mengerdip memberi tanda agar menerima tawaran itu. “Akan saya pertimbangkan tawaran tuan, sahut lelaki itu kemudian.
Logos tersenyum.

Senja itu NagoSalapan kembali.Gugum menawarkan untuk mengantarkannya tapi lelaki tersebut menolak dengan halus. “Mungkin Mas masih diperlukan tuan Logos. Biarlah saya naik angkot saja.”
Agak lama juga Nago Salapan berdiri di pinggir jalan. Kendaraan yang distopnya selalu penuh. Sebuah sepeda motor melintas di depannya. Seketika lelaki itu terkesima, ia melihat gadis yang berbonceng di belakang itu memeluk erat pemboncengnya. Gadis berambut panjang sebahu itu adalah Nadia. Sedangkan lelaki pembonceng tersebut kurang diperhatikannya.
Ada rasa cemburu dalam Nago. Sampai hari ini ia belum bertemu dengan Nadia. Kemudian ia mendengar kabar Nadia berangkat ke negeri tetangga mengikuti pagelaran tari internasional. Mungkinkah Nadia atau Puti Rinjani melupakannya? “Ah, mungkin saya salah lihat,” gumamnya.
Di atas angkot Nago Salapan masih dibungkus cemburu. Ia tidak habis pikir, kenapa Puti Rinjani melupakan hubungan mereka. Cinta mereka dibangun sejak lama. Ratussan tahun yang lalu. Dalam waktu yang demikian lama memang sering terjadi masalah. “Cintaku tak akan lapuk oleh hujan dan tak lekang oleh panas,” bisik Nago dalam hati.
Atau Puti Rinjani cemburu pada Puti Galang Banyak? Ya, lelaki tersebut mengakui bahwa dia hampir saja terperdaya oleh istri Anurangga itu. Tapi aia tidak serendah itu, mau mengorbankan cinta sucinya, hanya karena kenikmatan sesaat. Atau perjalanan zaman membuat cinta mereka mudah rapuh?
*

Tiba di rumah, Nago membuka pintu. Lampu belum hidup. Atos belum kembali. Setelah menghidupkan lampu, ia bergegas ke kamar mandi, berudhuk. Ia berdoa selesai shalat Magrib. Kemudian duduk di ruang tamu. Termenung sendirian Ia masih memikirkan Puti Rinjani. Lelaki itu berusaha membuang jauh-jauh pikirannya pada gadis tersebut. Tapi makin ia berusaha membuangnya makin galau pikirannya.
Tiba-tiba pintu diketok.
“Oh, Pak Uyun. Mari masuk,” basa Nago.
“Tadi sore saya ke sini. Tapi kamu tidak ada. Pintu tertutup. Maka saya balik saja.”
“Ada apa, Pak.”
“Ya, saya ingin menjenguk nak Nago. Kebetulan saya akhir-akhir ini agak sibuk sehingga tak sempat datang menjenguk.”
Nago Salapan tersenyum. “Saya maklum. Mestinya saya mengucapkan terima kasih kepada bapak. Bapak telah bersusah papayah menjaga saya ketika di rumah sakit.”
“Ohoo…Antara sesama Muslim kita harus berbuat lebih dari itu. Apalagi saat nak Nago mendapat musibah. Dan saya kan Er-Te, itulah salah satu kewajiban saya.”
“Terima kasih, Pak.”
“Tapi…”
“Ada apa, Pak?”
“Sore tadi seorang perempuan mencari nak Nago. Ia bilang nak Nago kenalan lama. Saya antar dia ke sini. Tapi nak Nago sedang pergi “
“Lalu?”
“Ya, dia pergi. Katanya, nanti akan hubungi nak Nago lewat HP.”
Sejenak Nago Salapan berpikir,”Seorang perempuan. Siapa dia?” Nago Salapan tak ingin menduga-duga. Ia bertanya pada Pak Uyun,” Bagaimana ciri-ciri perempuan itu?”
Berpikir sejenak orang tua itu. “Dia…perempuan itu rancak bana. Gelang emas di lengannya banyak sekali, hampir sampai ke siku. Ketika ia melangkah kedengaran bunyi gemericing ramai.”
“Pastilah perempuan itu Puti Galang Banyak.”
“Ya, gelangnya banyak.”
“Maksud saya nama perempuan itu Galang Banyak.
“Oya.”
“Maaf, Pak. Dari tadi kita ngomong saja. Bapak belum disuguhkan minum,” ujar Nago seraya ke dalam. Tidak lama kemudian ia membawa dua cangkir kopi.
“Kamu kok repot-repot.”
“Biasalah… Oya, saya baru kembali dari rumah teman. Setelah kami bicara panjang lebar. Dia mengajak saya ikut menunaikan ibadah haji.”
“Syukurlah kalau begitu. Naik haji itu kan panggilan Tuhan. Kamu akan jadi tamu Allah di sana.”
“Tapi saya belum memutuskan. Memutuskan menerima tawaran teman tersebut. Ada sebagian pendapat yang mengatakan untuk melaksanakan ibadah haji tersebut harus dengan biaya sendiri. Kalau dibayarkan orang lain maka hajinya tidak sah,” tutur Nago.
Pak Uyun mereguk kopi. “Kadang-kadang kita memang ragu mengambil keputusan. Apalagi menyangkut menunaikan ibadah haji. Sebenarnya, titik persoalannya terletak pada keikhlasan. Apakah temanmu itu mengajak kamu ke Mekah naik haji?”
“Ia bilang sangat ikhlas.”
“Dan kamu punya niat untuk ke sana.”
“Sebagai sebagai seorang muslim, saya memang sudah lama berniat hendak ke Baitullah. Ya, tapi karena masalah dana itu, niat saya tersebut masih terkatung sampai kini.”
Kembali Pak Uyun menghirup kopinya.
Nago pun mengirup kopinya.
“Nak Nago…”
“Ya, Pak.”
“Sya pernah membaca sebuah hadis,”Rasullulah bersabda, : Ibadah yang kamu lakukan haruslah menurut keyakinanmu. Dan janganlah engkau berdusta.”  Pak Uyun menatap Nago Salapan penuh arti.. “Nah, jika kamu sudah yakin tentang sesuatu. Maksud saya dalam menerima tawaran temanmu itu. Ya, terima saja.”
Nago Salapan diam.
Pak Uyun menyelipkan sebatang rokok di bibir. Ia membakar, asap mengepul ke udara. “Ada tiga panggilan bagi orang yang hendak melaksanakan ibadah haji, “ ujar Pak Uyun tiba-tiba.
“Tiga panggilan. Bisakah bapak jelaskan?”
Pak Uyun mengangguk.  Lelaki itu kembali menghirup rokok dalam-dalam. “Pertama, panggilan setan. Panggilan ini adalah panggilan karena riya. Orang tersebut inin dipuji. Kebetulan punya banyak uang. Entah karena jerih payahnya, entah karena mendapat baru mendapatkan warisan. Atau mungkin karena korupsi dan duit haram. Lantas ia naik haji.” Batuk-batuk ia ketika menghirup rokok. Dan kemudian melanjutkan penuturannya,”Tahukah kamu apa yang terjadi setelah kembali dari Mekah?”
Nago menggeleng.
“Orang yang ke Baitullah karena dipanggil setan ketika ia kembali. Maka perilakunya tidak pernah berubah. Bahkan makin buruk dari semula. Tingkah lakunya tidak mencerminkan seorang haji.”
Mangut-mangut Nago Salapan menyikapi penuturan orang tua tersebut.
Lalu Pak Uyun melanjutkan,”Setan memang tidak pernah puas menggoda manusia, terutama mereka yang lemah iman. Dan kamu bisa melihat dalam kehidupan sehari-hari. Orang yang telah berkali-kali naik haji, mereka tetap berbuat zalim, berzina dan jadi ahli maksiat. Juga kikir dan sombong.”
“Dan bagaimana dengan orang kedua?”
“Orang kedua adalah orang yang menerima panggilan malaikat. Mereka ditakdirkan meninggal dalam melaksanakan ibadah haji.”
“Masyaallah…”
“Dan orang ketiga. Orang yang menerima panggilan Allah. Mereka datang ke Baitullah mengharap rida Allah. Setelah mereka kembali ke negerinya. Ia semakin tawaduk. Makin giat melaksanakan amal saleh. Dia selalu ingat bahwa dirinya selalu dalam pengawasan Allah. Bersyukur menerima nikmat dan sabar ketika mendapat ujian.”
Cukup lama Pak Uyun berbincang-bincang. “Wah, saya sudah bicara panjang lebar. Barangkali saya sepertinya menggurui nak Nago. Maaf kalau menggurui tupai melompat.”
“Ah, bukan begitu,Pak. Saya berterima kasih atas nasehat bapak.” (Bersambung....14)

Rabu, 11 Januari 2012

KECAPI NAGA (12)


12

COBAAN

Sekarang Nago Salapan telah kembali ke rumah. Kondisi lelaki tersebut sebenarnya belum pulih benar. Kadang-kadang ia muntah-muntah, dan pusing. Tatkala Puti Rinjani datang menjenguk, gadis itu menyalurkan hawa murninya ke tubuh Bago agar tenaga dalam lelaki tersebuit pulih seperti sediakala.
 Diluar kelihatan Nago Salapan seperti sudah sembuh tapi sebenarnya Tuba Pemutus Nayawa berangsur-angsur memusnahkan kesaktian lelaki tersebut. Kini ia tak lebih dari manusia biasa, tidak memiliki kesaktian apa-apa!
Suatu malam Nago Salapan bermimpi. Bermimpi bertemu dengan Imam Ali. Lelaki itu seperti biasanya murah senyum. Dia berkata,”Engkau memang sedang diberi cobaan oleh Yang Kuasa. Setiap orang yang mengaku beriman akan selalu diuji Allah.”
“Tapi saya tidak biasa berbuat apa-apa. Anurangga dan Kati Muno akan leluasa berbuat kemungkaran di muka bumi ini. Sementara itu saya tak berdaya. Hanya jadi makhluk lemah.
Imam Ali diam.
“Kapankah kesaktianku akan pulih?”
“Allah tidak akan memberi cobaan kepada umat-Nya, kecuali sesuai dengan kesanggupan yang dapat ia pikul. Karena itu hadapilah hidupmu dengan sabar. Orang yang sabar itu bersama Allah.”
“Jika demikian, saya harus menjalani hidup seperti orang biasa?”
Imam Ali mengangguk. Lelaki itu terssenyum, kemudian ia mengapung bagai asap dan sirna. Tersentak Nago Salapan dari tidurnya. Ia bangkit dan duduk di pinggir ranjang.
Hari-hari berikutnya, Nago menjalani hidupnya sebagai manusia biasa. Manusia biasaa yang memiliki kelebihan dan kekurangan. Memang demikianlah kehidupan manusia biasa. Namun ada yang berubah dalam kehidupan Nago Salapan, ia selalu taat shalat, kadang pergi shalat berjamaah ke masjid. Di masjid dia mendapat kedamaian. Lelaki itu bukan saja shalat di masjid dekat rumahnya. Tapi juga sesekali bertandang ke surau Katib Agam. Di sana ia bertemu dengan sahabat-sahabat lamanya.
Suatu hari dia naik bis kota. Bis kota yang penuh sesak. Penumpang berdempet-dempet bagai sardin dalam kaleng. Sedang kernet bis masih bersorak,” Kosong…kosong. Geser…geser ke belakang!”
Tiba-tiba ia melihat seseorang merogoh saku celana seorang lelaki tua yang berdiri di antara penumpang lainnya. Naluri kependekaran Nago terusik seketika, ia menangkap lengan pencopet itu. “Kembalikan dompet bapak itu!” ujar Nago.
Wajah pencopet itu berubah beringas. “Kamu kok menuduh saya!”
“Dompet itu kau ambil dari kantong bapak ini,” kata Nago menuding pencopet.
Seorang lelaki lain mendekati Nago Salapn. Matanya merah, bau mulutnya bau minuman keras. Ia mendelik seperti hendak melumat Nago. “Hai, jangan macam-macam!” Bersamaan dengan ancaman tersebut, lelaki tersebut memukul. Terasa pedas pukulan lelaki tersebut hinggap di pipi Nago.
Bis kota terus melaju. Bunyi musik bis kota keras mengghentak-hentak telinga. Si pencopet dan tukang pukul itu melompat di lampu merah. Penumpang lainnya hanya bungkam. Tidak ada yang berbuat. Seakan-akan kejadian tersebut biasa-biasa saja.
“Maaf Pak. Saya tidak bisa menolong bapak, “ ujar Nago sambil mengelus rahangnya yang ngilu kena bogem mentah tadi.
“Sudahlah Nak. Dompet saya itu hanya berisi sepuluh ribu,” tukas orang tua itu.
Nago Salapan mengangkat wajah, ia tidak melihat rasa simpati dari penumpang. Mereka acuh tak acuh pada peristiwa itu. Ia turun di jalan M. Yamin. Kemudian masuk ke sebuah gedung, biasanya di gedung ini mangkal Rusli, seorang penyair – teman lama Nago Salapan.
“Tumben anda muncul hari ini,” sapa Rusli.
Nago duduk tanpa menunggu dipersilahkan. Seorang perempuan bertubuh tambun duduk dekat Rusli. Ia tampak menikmati sebatang rokok. “Saya rindu juga akan suasana yang lain,” sahut Nago Salapan. Sejenak ia mengerling pada Eka, perempuan itu masih asyik dengan rokoknya.
Rusli mangut-mangut, ia tersenyum seadannya. “Dunia kami disini berbeda dengan dunia anda. Kami berbincang apa saja. Tapi tidak ada target yang akan dicapai. Orang luar bilang, kami hanya membuang-buang waktu.”
Di ruang tersebut Nago Salapan hanya menjadi pendengar yang baik. Sebab, apa yang mereka bicarakan bukanlah dunianya. Mereka kadang bicara rumit bahkan terkesan ngawuir. Tidak jelas ujung pangkalnya. Tapi itulah keunikan Rusli dan kelompoknya. Semakin tak jelas semakin itulah yang mereka sebut “berbudaya”
Eka menawarkan minuman pada Nago Salapan. “Anda mau ngopi?”
“Terima kasih. Saya tidak minum kopi atau teh,” sahut Nago. Tapi ia tak menolak ketika disuguhkan kemasan air mineral dalam gelas. Lalu setelah satu jam lebih duduk di sana, Nago mohon pada Rusli dan Eka.
Lelaki itu menyeberang, dan naik oplet jurusan Pasar Raya. Bingung juga Nago Salapan di keramaian pasar tersebut. “Bang…Abang Nago!” Tiba-tiba ia mendengar suara panggilan. Ia menoleh.
“Abang mau ke mana?” Atos menyapa
“Ya, mau ke ,mana lagi. Saya kan klenang-klenong,” tukas Nago tersenyum.
“Ayo naik,” ajak Atos. Dan Nago berbonceng di belakang. “Kalau Abang mau jalan-jalan, ya tunggu saya.”
“Tapi saya jenuh tinggal di rumah. Dan menunggu kamu…Kamu kan sibuk. Lagi pula saya tidak ingin mengganggu pekerjaanmu.”
Atos ketawa lebar. “Abang jangan berpikir begitu. Betapapun sibuknya aku. Kalau Abang beritahu, saya akan membawa Abang ke mana saja.”
“Okelah. Sekarang kita mau ke mana?”
“Terserah Abang.”
“Kita ke pantai.”
*

Sore itu di pantai.
Seekor burung elang melayang di kulit air. Burung itu menyambar seekor ikan lalu terbang menjauh. Nago Salapan kembali ingat akan pertemuannya dengan Puti Galang Banyak di pantai ini. Sungguh tega perempuan itu meracuni dirinya. Dan lelaki tersebut juga menyesali kebodohannya. Kenapa dia demikian gegabah, mau percaya saja pada bujukan Olivia alias Puti Galang Banyak.
Sekarang, semuanya telah terjadi, nasi sudah jadi bubur. Seorang pendekar harus selalu waspada. Jika ia lengah dalam kehidupan dunia persilatan yang keras ini, maka ia akan jadi pecundang.
Tiba-tiba Imam Ali ingat petuah Imam Ali. “Kamu harus sabar menghadapi cobaan ini. Imanmu sedang diuji Ilahi.” Bersamaan dengan itu, ia menyaksikan Atos bermain ombak.Tampaknya anak muda tersebut menikmati suasana itu. Atos memungut sebuah kerang, ia permainkan sejenak di tangannya. Lalu melemparnya ke laut. Ia pandang kerang itu masuk ke dalam laut. Atos ketawa senang.
Matahari sore kian condong ke barat. Seorang anak muda, sebaya Atos melangkah menghampiri Nago. Ia memakai baju kaos bertuliskan “Go To Hell” Kemudian tanpa basa-basi dia berkata pada Nago,”Bagi rokoknya Bung!”
Terkesima Nago menatap anak muda itu. “Maaf, saya tidak merokok,” sahut Nago.
Wajah anak muda tiba-tiba menjadi kaku mendengar jawaban Nago. Ia tampak sangar  Mulutnya bau minuman keras. “Kalau begitu bagi duit!”
Semakin terpana Nago melihat kelakuan anak muda tersebut. Baru seumur hidupnya dia dipaksa orang agar memberi uang. Dan lagaknya sungguh-sungguh tak bersahabat. Tapi Nago tetap tenang dan sabar. Ia rogoh kantong celananya, lalu ia sodorkan selembar uang lima ribuan.
Dengan kasar anak muda itu mengambil uang tersebut. Ia kemudian menatap Nago dengan mata disipitkan – memandang rendah. “Uang segini mana cukup Men. Kami bertiga. Harusnya dua puluh ribu!”
“Maaf. Bukankah kamu sendiri. Lagi pula uang saya hanya lima ribu itu,” sahut Nago.
Pemalak itu bersuit. Bebarapa  saat kemudian muncul dua orang pemuda. Soni, si mata juling mencekal krah baju Nago Salapan. “Kamu jangan main-main. Ayo keluarkan dompetmu. Atau kugebuk!,” ancam si mata juling.
Menggigil Nago menahan amarah. Tapi dia tak berdaya, tenaganya lemah. Padahal cekalan tersebut hanya cekalan biasa. Namun ia tidak mampu melumpuhkan pemuda tersebut. Dadanya terasa sesak, dari  sekujur mengucur keringat dingin. Lelaki itu hanya bisa menggumam ketika Soni merogoh kantongnya. Dari sana Soni mengambil dompet Nago.
Riang seketika Soni. Cukup lumayan uang yang berada dalam dompet Nago. Setelah menguras dompet Nago, Soni memberi isyarat pada Jek dan Ben. “Mari kita pergi.” Mereka lalu beranjak dari sana sambil melemparkan dompet Nago Salapan yang kosong.
“Awas kamu kalau berani ngadu sama polisi!”
“Bisa kupotong lehermu!”
Nago Salapan terhenyak di bangku beton. Tidak lama kemudian datang Atos. Anak muda itu heran melihat wajah Nago muram.
“Ada apa Bang?”
“Tidak ada apa. Cuma dada saya terasa sesak.”
Atos melihat dompet di tangan Nago Salapan. “Kenapa dompet Abang. Katakanlah apa yang terjadi?”
Nago menunduk. “Saya telah menjadi manusia tak berguna. Jangankan menolong orang lain. Menolong diri sendiri. Saya tidak bisa.”
“Maksudnya, Abang dirampok. Dikompas orang?”
Nago Salapan mengangguk lemah.
Atos menepuk kepalanya sendiri. “Aduh! Kenapa Abang tidak memanggil saya. Atau berteriak…”
“Sudahlah Tos. Barangkali ini merupakan bagian dari cobaan kepada saya.”
“Cobaan? Ya, boleh-boleh saja. Tapi sebagai manusia, Abang harus berikhtiar. Kita tidak boleh menyerah dengan keadaan. Bukankah Abang mengajarkan kepada saya bahwa tawakal itu adalah terpelihara. Nah, bagaimana mungkin kita terpelihara. Kalau kita hanya pasrah pada keadaan.”
Nago Salapan mengangkat wajah. Matanya berbinar-binar. Di dalam dadanya terasa hawa panas. Ada gelombang-gelombang. Sepertinya Nago Salapan terpicu oleh ucapan Atos. Ia segera bangkit. Lelaki tersebut melangkah pasti ke tanggul yang menjorok ke laut. Angin semilir bertiup. Angin itu bertiup menghembus wajah Nago.
Atos membiarkan lelaki itu berdiri di tanggul.
Lelaki itu turun ke bawah, ia melangkah perlahan di pantai. Kadang menatap langit. Kadang menyapukan kakinya pada ombak yang menyiram. Lalu terlihat ia merentangkan lengannya. Bibirnya komat-kamit, seperti berbicara dengan seseorang. Mungkin juga dengan dirinya sendiri.
“Hoaaa!”
Angin bertiup sepoi-sepoi.
Matahari mulai melembut jatuh ke laut.
“Hoaaaa!”
Nago Salapan berdiri kaku memandang laut yang bergelombang. Matahari kian condong hendak masuk ke kaki langit. Ombak-ombak kecil menggelinding ke pantai menyapu kaki lelaki tersebut. Tiba-tiba lelaki itu berlutut, matanya mencorong tajam melintasi ombak yang berlari ke pantai.
Seekor burung camar terbang di kulit laut. Suatu ketika camar menyambar ikan kecil. Lalu terbang membubung. Ada gelombang-gelombang kecil dalam ada Nago Salapan. Gelombang itu menyesak dada lelaki tersebut. Ia tarik nafas dalam-dalam, dan hembuskan perlahan-lahan
Ada gelembung-gelembung dalam dada Nago Salapan. Dada tersebut terasa menyesak. Ia hembuskan udara dari mulutnya perlahan-lahan. Bersamaan dengan itu bertiup angin lembut keluar dari tubuh lelaki tersebut. Asap abu-abu membersit dari setiap pembuluh darahnya. Nago Salapan berteriak.
“Hoaaa!”
Terakan itu membahana, menghempas ke bukit sana. Menukik ke dalam laut. Ombak bergelora. Angin pasat berputar-putar.
“Waaaaa!”
Rambut Nago Salapan berkibar-kibar. Sesak di dadanya masih tersisa. Jantungnya berpacu keras, berpacu bagai kendaraan yang melaju kencang. Sekonyong-konyong ia menghambur ke ke laut!
Dan lelaki itu berdiri tegar di permukaan laut. Sepasang lengan Nago Salapan merentang lebar. Ia berteriak menggema. “Ya, Allah…Peliharalah aku dari azab dunia dan dari azab-Mu!”
Ombak bergulung-gulung ke pantai. Ombak menerpa tubuh Nago Salapan. Ketika ombak menerpa tubuh lelaki tersebut, air laut mencrat tinggi sehingga mengyupkan sekujurnya.
“Woaaa!”
Nago Salapan memekik lagi. Ikan-ikan kecil meletik ke kulit air laut.

**

Atos merebahkan tubuh Nago Salapan di ranjang, di rumah kontrakan mereka. Anak muda itu menyeka keringat Nago yang mengucur deras. Tubuh lelaki tersebut panas dingin. “Abang jangan banyak berpikir,” kata Atos. Ia kembali menghapus keringat lelaki tersebut. Keringat terus mengalir membasahi tubuh Nago Salapan.
Senja datang.
“Saya haus,” desah Nago.
Atos mengambil air minum ke belakang. Ia regukan air pada lelaki tersebut. Air dalam gelas segera keras. Duduk Atos di depan ranjang. Ia merasa sedih melihat keadaan Nago Salapan. Lelaki di hadapannya itu, adalah lelaki yang demikian perkasa dan tangguh. Kini terbaring lemah.
Keringat menetes bagai manik-manik di dahi Nago. Setiap kali Atos menyeka keringat itu, keringat baru muncul lagi. Lelaki itu menggigau. Ia memanggil Nadia, Katib Agam, Gugum dan Atos. Atos megguncang-guncang bahu lelaki tetrsebut.
“Bang…Bangunlah Bang.”
Nago Salapan membuka mata. Mata itu menatap sayu. “Apakah mereka sudah datang?”
Atos termangu. Ia tidak mengerti maksud pertanyaan lelaki tersebut. “Mereka siapa?” Anak muda itu bingung. Setelah menyeka keringat di dahi Nago, ia berkata,”Abang ingin bertemu dengan Nadia. Biar aku SMS ya?”
Tatapan mata Nago sayu dan kosong. Lelaki itu mengibaskan tangan lembut. “Bukan. Saya ingin bertemu dengan Katib Agam. Panggilkan dia.”
“Katib Agam? Dia tidak mungkin dihubungi. Sekarang dia telah dipindahkan ke Nusa Kambangan.”
“Nusa Kambangan? Apakah dia koruptor. Saya kira sahabatku ini tak pernah korupsi. Dia bukan pejabat. Dan bukan pula anggota dewan. Bukan pula teroris.”
Tercenung Atos. Sungguh berat beban cobaan lelaki tersebut. Tampak matanya terbuka tapi jiwanya merantau jauh ke alam lain. Tiba-tiba Atos mendengar ketokan pintu. Kedengaran orang megucapkan salam.
“Maaf saya terlambat. Ketika kamu beritahu saya sedang di ruang ICU,” kata dokter Budi. Dokter itu memang janji akan terus mengecek kesehatan Nago. Dan ketika Atos menelpon dokter itu. Dia segera datang.
“Silahkan masuk dokter,” sapa Atos.
Dokter Budi segera memeriksa Nago Salapan. Dan Atos menunggu harap-harap cemas. Ia gelisah. Anak muda itu membatin, “Apakah penyakit lelaki semakin parah. Atau dia akan mati?” Pikiran buruk Atos itu muncul karena dokter Bud terlalu lama memeriksa Nago.
“Dia depresi,” ujar dokter Bud menjelaskan. “Tapi saya sudah memberi injeksi penenang.”
“Mengapa Bang Nago bisa depresi. Bukankah ia hampir sembuh dari racun laknat.”
“Ya. Kami hanya bisa memberi obat penghambat racun agar tidak menjalar ke otaknya. Namun kalau ia banyak berpikir atau jiwanya terganggu. Maka racun itu akan bergerak lagi.”
“Ya dok. Jiwanya terganggu ketika berhadapan dengan ketidak-adilan. Bang Nago sudah terbiasa menolong mereka yang tertindas. Tapi siang tadi dia menyesali dirinya. Jangankan menolong orang lain. Menolong dirinya sendiri pun ia tak berdaya. Ia sangat terpukul.”
“Kamu harus banyak menghiburnya.”
Atos mengangguk Setelah dokter Bud pergi, Atos menghubungi Nadia. Tapi HP gadis itu tidak aktif. Namun ketika ia hubungi Gugum, Gugum menyahut segera tiba.
*

Malam itu sunyi. Tiada angin berembus. Juga tidak ada suara jangkrik yang biasa berisik bila tengah malam tiba. Hanya jam dinding yang berdetak-detak memecah kesunyian.
Atos menggeletak di lantai beralaskan tikar. Ia lelah membujur di bawah ranjang Nago Salapan. Sementara itu Gugum yang datang menjenguk, kelihatan bergelung di sofa. Tadi mereka berbincang-bincang seraya menjaga Nago Salapan yang terbaring. Mungkin karena kelelahan dan malam pun telah larut. Akhirnya mereka pulas.
Nago Salapan terbangun tiba-tiba. Ia menyapukan pandangannya. Semula memandang Atos yang berbaring di bawah ranjangnya. Lalu menoleh pada Gugum yang berkeluk bagai angka tiga di sofa. “Ya, Allah. Saya telah menyusahkan mereka,” lelaki itu menggumam. Nago Salapan bangkit. Anehnya, kali ini tubuhnya merasa ringan. Langkahnya mengapung.
Entah kenapa, tiba-tiba tergerak hatinya untuk membuka lemari buffet yang terletak di sudut ruangan. Di sana ada sebuah kecapi. Nago Salapan terperanjat. Kenapa Kecapi Naga tersimpan dalam lemari buffet itu. Bukankah Kecapi Naga telah menyatu ke dalam tubuhnya? Ya, ia masih ingat ketika itu, ia berada bersama Tuan Janaka dan Imam Ali di Alam Antah Berantah. Kedua tokoh sakti itulah yang “menyatukan” antara Kecapi Naga dan dirinya.
Tapi Nago Salapan tak tahan untuk meraih Kecapi Naga tersebut. Ia duduk bersila di lantai. Berikutnya, ia petik dawai kecapi, kedengaran dentingan halus. Sekonyong-konyong muncul keinginannya untuk memetik kecapi. Dan ingin memainkan sebuah senandung. Senandung sedih yang sesuai yang suasana hatinya.
Di luar malam semakin sunyi.
Sambil memejamkan mata lelaki itu memetik dawai kecapi. Jemarinya bergerak lincah menari di atas dawai-dawai. Sebuah senandung sedih, bercampur kerinduan. Rindu yang tak bertepi.
Atos menggeliat ke samping kanan
Gugum di sofa pun menggeliat, bibirnya berdecap-decap. Tapi matanya masih merem.
Senandung yang dinyanyikan Nago Salapan lewat gesekan kecapi kedengaran mendayu-dayu. Andaikata Atos dan Gugum terbangun malam itu, mungkin mereka akan ikut hayut oleh tembang tersebut.
Angin semilir masuk ke dalam. Imam Ali tiba-tiba muncul.
Nago Salapan terus memetik kecapi.
“Petikan kecapimu mengundang saya.”
Nago Salapan menutup senandungnya. Ia duduk berhadapan dengan Imam Ali. “Saya sedang bimbang, Imam. Apakah hari-hari berikutnya, saya tidak dapat berbuat baik pada sesama manusia. Kondisi saya terus melemah. Aapakah beban ini akan terus berlanjut tanpa ujung?”
Imam Ali mengusap janggutnya yang putih menjuntai. Senyumnya ramah menatap lelaki tersebut. “Setiap awal pasti ada akhirnya. Engkau khawatir dengan kondisimu. Sesungguhnya manusia diciptakan dari sebaik-baik kejadian. Dan ia akan terlempar menjadi makhluk serendah-rendahnya. Kecuali bagi mereka yang beriman dan beramal saleh serta selalu meng-Esakan Allah.”
“Tapi Imam, racun dalam tubuh saya ini sebentar lagi akan menjalar ke otak. Menurut dokter saya lumpuh selama-lamanya. Bila racun tersebut masuk ke otak.”
“Allah Maha Kaya dan Maha Penyembuh. Manusia boleh saja berpendapat demikian. Jika Allah berkehendak engkau sembuh. Maka sembuhlah kamu. Tidak ada yang mampu menghalangi.”
Tiba-tiba Nago Salapan menangkup. Ia memegang kepalanyanya, kepala itu berdenyut-denyut seperti hendak meledak. Kecapi dalam pangkuan lelaki itu lepas!
Imam Ali menadahkan tangan ke udara, bibirnya komat kamit. Sepasang tangan Imam Ali bercahaya putih. Lalu ia usapkan tangannya ke kepala Nago Salapan. Kedengaran suara mendesis halus.
Dan sekonyong-konyong muncul asap biru dari kepala Nago Salapan. Tubuh lelaki itu bergetar hebat, sepasang kakinya mengejang. Matanya terbuka lebar. Saat itu asap biru tebal keluar dari ubun-ubunnya.
Bersamaan dengan kedengaran suara mendesis-desis. Kecapai naga yang menggeletak di lantai terbang ke udara, berputar di ruangan tersebut. Berkelabat menyerang Imam Ali.
Imam Ali mengibaskan tangan.
Kecapi tersebut surut tapi kemudian meluncur kembali menyerang Imam Ali. Lelaki itu mengibas lagi. Kecapi Naga berkelit, kedengaran suara mendengung bagai ribuan lebah terbang. Kemudian mendadak menerjang Imam Ali.
Melihat situasi tersebut, Imam Ali bangkit dari duduknya, ia menangkap kecapi. “Kembalilah engkau pada dia!”
Ruangan itu bergetar hebat bagai gempa. Gempa yang disertai raungan dahsyat!
Kecapi Naga melesat ke arah Nago Salapan. Sejenak benda itu berputar mengitari tubuh lelaki tersebut. Kecapi berubah jadi kabut tpis dan masuk ke dalam tubuh Nago Salapan. Bergetar tubuh itu menerima kembali Kecapi Naga.
Sunyi.
“Maha Benar Engkau ya Allah,” gumam Imam Ali. Sesaat lelaki itu menatap Nago Salapan yang terbujur tenang. Lalu Imam Ali mengirab dalam gumpalan asap. (Bersambung....13)


KECAPI NAGA (11)


11

TUBA

Tanpa terasa hari raya Idulfitri telah tiba.
Selesai shalat Id, Nago Salapan dan Atos pulang ke rumah kontrakan mereka di Siteba. Sepanjang jalan mereka bersilaturahmi, menyalami orang-orang yang mereka temui. Dan ada pula yang menawarkan atau mengajak ke rumah mereka. Akan tetapi Nago Salapan dan Atos menolak halus agar tidak menyinggung perasaan mereka.
“Bang, saya sering mendengar tentang kembalinya manusia ke fitrah. Memangkah yang disebut kembali ke fitrah tersebut, kita akan hidup kembali bagai bayi yang baru lahir. Artinya setelah Ramadhan, semua dosa kita hapus,” tanya Atos sampai di rumah.
“Ya, seperti yang kita dengar dari khotbah katib.”
“Kalau begitu, semua orang yang telah menyelesaikan ibadah puasa dapat disebut mencapai kemenangan di hari raya Id adalah manusia suci. Manusia yang telah dihapus segala dosanya.”
Nago mengangguk.
“Tapi kehidupan ini akan terus berjalan. Kemungkinan manusia akan membuat dosa-dosa baru.” Sambil berbincang-bincang, Atos meraup kacang tojin di stoples. Berderak-derak kacang tojin tersebut dikunyahnya.
Nago meneguk es sirup di gelas. Ia minum bukan karena haus tapi karena Atos bertanya menggebu-gebu, mirip kendaraan yang remnya blong. Permasalahan yang dikemukan Atos kedengarannya sederhana. Tapi sukar untuk dijawab.
“Ayo Bang. Kenapa bengong?”
Nago ketawa lebar. “Saya bukan bengong. Tapi terperanjat. Terperanjat karena kamu bertanya tidak putus-putusnya. Mestinya kamu bertanya kepada dirimu sendiri. Apakah puasa yang kamu kerjakan pada bulan Ramadhan lalu. Hanya sekadar menahan lapar dan haus?”
Sekarang Atos balik terkekeh.
“Kenapa kamu ketawa?”
Sesaat Atos memandang Nago. Tatapannya itu tampak lucu. Mulut Atos menganga. Kemudian lagi-lagi meraup kacang tojin. Sejenak ia kenyah-kenyoh. “Abang sepertinya tidak percaya bahwa saya melaksanakan puasa dengan ikhlas. Siang saya menahan. Malam saya tarwih, bersedekah, tadarusan, dan membayar zakat fitrah. Apakah perbuatan semacam itu belum cukup untuk menjadi manusia fitri di hari kemenangan ini?”
Nago Salapan mendesah. “Allah Maha Tahu. Puasa itu adalah ibadah batin. Justru karena itu Allah berfirman,”Puasa itu untuk-Ku.” Jadi ukuran manusia kembali ke fitrah dapat dilihat dari perbuatan selanjutnya.”
“Maksudnya, saya harus konsisten melaksanakan ibadah dan amal baik seperti apa yang kita lakukan pada bulan Ramadhan.”
“Ya. Bahkan di bulan ini, kita harus lebih meningkatkan ibadah, iman dan takwa itulah sebabnya bulan Syawal disebut juga bulan peningkatan “
“Hal ini sungguh-sungguh berat. Kehidupan semakin sibuk dan persaingan semakin ketat, bahkan keras. Apalagi seperti saya yang kuli tinta ini. Di mana profesi tersebut banyak berhubungan dengan orang lain.”
“Wartawan atau kuli tinta. Kenapa profesimu engkau kambing hitamkan agar kamu lebih leluasa berbuat engkar? Di muka bumi kita memang diharuskan untuk bekerja, demi kehidupan yang kita jalani. Dan semua yang kita lakukan adalah untuk mencapai keselamatan di akhirat.”
“Oya.”
“Manusia diciptakan sang Khalik memang berbeda-beda. Demikian juga dengan profesi atau pekerjaan mereka. Tapi kita tidak boleh berbeda dalam mengimani serta melaksanakan suruhan Allah, dan menjauh dari larangan-Nya,”tutur Nago seraya menoleh pada Atos. Anak muda itu bertopang dagu. “Ya, kita adalah manusia biasa. Manusia yang lemah, cenderung berbuat khilaf. Siang kita menjadi orang Muslim dan kadangkala pada sorenya menjadi musyrik. Justru karena itu kita harus tawakal. Tawakal itu artinya waspada. Waspada terhadap azab dunia dan azab akhirat.”
Atos menggaruk kepalanya yang memang gatal.
“Sudahlah Tos. Marilah kita sama-sama berikhtiar, berupaya agar mendapat rida Allah. Mudah-mudahan shalat dan amal baik kita diterima Allah.”
“Amiiin…” Dan saat itu pula telpon genggam Atos berdering. “Sebentar ya Bang. Hari gini kok telpon-telponan, “ Atos bersungut-sungut. Ia menjauh keluar. Wajahnya yang semula cemberut kini tampak serius. Tak lama kemudian anak muda itu. Ia berbenah siap hendak berangkat. “Saya harus berangkat ke Painan Bang. Ada pesan dari Bupati,” katanya.
Setelah Atos pergi, Nago Salapan pindah ke ruang tengah – nonton televisi. Matanya melihat ke televisi tapi pikiran nya menerewang jauh. Semula ia ingat Nadia. Kenapa akhir-akhir ini gadis seakan-akan menjauh darinya. Msetinya gadis itu menunggu dia di Gunung Pangilun  Menunggu kedatangan Anurangga dan Kati Muno. Sebab keduanya adalah musuh mereka bersama. Kedua tokoh jahat ini tidak mungkin dihadapi sendiri-sendiri. “Saya memang tidak tahu, masalah apa yang membuat Rinjani menjauh,” Nago meggumam.

**

Di atas motor besarnya (motor Harley Davidson), Nago Salapan masih dikelilingi beragam pikiran. Dia tidak tahu harus menuju. Ia berputar mengitari kota. Akhirnya ia parkir di pantai Padang.
Setiap sore pantai Padang ramai dikunjungi orang. Warga kota membawa anak-anak mereka untuk menikmati laut dari pinggir pantai. Beberapa orang anak tanggung tampak berlarian di pasir yang menghampar. Sementara itu orang tua mereka mengamati dari jauh. Umumnya orang dewasa duduk santai di restoran atau kafe-kafe yang menghadap ke laut.
Nago Salapan duduk di kafe, memandang ke laut. Ketika itu laut sedang tenang, angin berembus semilir menimbulkan riak-riak kecil menghempas ke pantai. Buih-buih menjalar bagai busa deterjen – meresap masuk ke dalam pasir. Sejenak pikiran Nago yang mumat kini jadi plong. Ia nikmati angin yang berembus halus. Ia nikmati ombak-ombak kecil yang menjalar ke pantai.

Sebuah sedan mewah bewarna metalik parkir di depan kafe. Dari kendaraan tersebut turun seorang perempuan cantik, rambutnya panjang tergerai di bahu. Dengan kaca mata terpasang di wajahnya, ia tampak semakin cantik. Sepasang lengannya dipenuhi gelang mas. Dan ketika gadis itu melangkah kedengaran bunyi berdering-dering.
Dia, Olivia atau Puti Galang Banyak. Perempuan itu telah mengikuti Nago Salapan ketika lelaki tersebut keluar dari rumah. Ia memang mengatur jarak sehingga Nago tidak menduga ia sedang diikuti. Tatkala Olivia melihat Nago duduk sendirian di kafe, ia mendekati.
“Halo Tuan Pendekar…”
Saat itu Nago sedang menghirup minumannya, ia hampir tersedak ketika mendengar suara merdu menyapa. Ia menoleh balas menyapa, “Oh, Puti.”
Bibir Olivia yang merah delima mereka menyunggingkan senyum. “Boleh saya duduk?”
Nago Salapan mengangguk.
Puti Galang Banyak duduk di samping lelaki itu. Ia menatap lelaki itu lalu tersenyum. Senyum yang terkesan menggoda. “Oya, saya belum mengucapkan Selamat Hari Raya Id’. Mohon maaf lahir batin,” ujar gadis itu seraya menyalami Nago.
“Kamu masih di sini?” Nago menyambut salam itu.
“Ya. Saya masih betah di kota ini. Kota yang nyaman dan bersih.
Nago diam. Tapi dalam hatinya ada keresahan. Apalagi duduk berdampingan dengan Puti Bagalang banyak. Namun untuk beranjak begitu saja jelaslah tidak mungkin. Lalu untuk menutupi keresahan Nago berkata,”Kamu mau minum apa?”
“Minum apa ya? Ya, terserah kamu deh…”
“Orenye jus?”
Gadis itu mengangguk. Nago menggamit pelayan seraya memesan minuman yang diminta Olivia.
Anak-anak tanggung berlarian di pasir yang menghampar. Mereka berlarian sambil ketawa riang, kadang menyemburkan air laut kepada kawannya. Lalu berlari lagi, suasana riang, tiada beban dalam hati mereka – dengan wajah yang ceria. Tatapan mata Nago Salapan lekat-lekat memandang anak-anak yang bermain itu. Sejenak melupakan Puti Galang Banyak ada di sampingnya.
“Kamu sedang be-te ya, “ tiba-tiba Olivia menukas. Perempuan itu mengangsur gelas minuman ke samping. Ia semakin merapat pada Nago. Jemari Olivia yang lentik dan indah itu menyentuh tangan lelaki tersebut.. Ia berbisik ke telinga Nago, “Kamu tidak suka, saya hadir di sini?”
Nago Salapan mengerling sejenak. Lalu mengalihkan pandangan ke laut. Riak-riak ombak bekejaran menuju pantai,”Saya tidak pernah mengatakan terganggu akan kehadiranmu. Tapi pikiran saya sedang gundah.”
“Dia menjauhimu?”
“Bisa ya, bisa tidak.”
Olivia mendesah. Ia mengelus lengan lelaki itu.
Nago Salapan menarik lengannya perlahan. Lalu ia menatap gadis tersebut. “Olivia memang gadis yang sempurna kecantikannya. Ia titisan Puti Galang Banyak di dunia lampau. Kedua sosok itu dapat meruntuhkan iman lelaki mana pun. Namun ia menggunakan kecantikannya pada posisi yang salah, sehingga membuat rumah tangga orang lain berantakan,” Nago mendesah dalam batinnya.
“Oya, saya hampir lupa. Di atas mobil ada minuman yang menyegarkan. Sebentar, saya ambil,” ujar Olivia seraya melnagkah ke mobil. Tidak lama kemudian ia membawa dua botol minuman. “Minumlah. Minuman ini dapat menambah semangat. Pikiranmu yang be-te akan hilang,” kata gadis itu menyodorkan sebotol pada Nago.
“Saya pantang minum minuman berakohol,” Nago mengelak.
Olivia ketawa renyah. “Jangan takut. Minuman ini hanya minuman suplement. Minum biasa kok. “ Gadis itu mendahului mereguk minuman di tangannya.
Nago Salapan merasa kurang enak kalau menolak ajakan Olivia. Lelaki itu mereguknya. Kerongkongannya terasa sejuk dan segar. Lalu ia reguk lagi, kerongkongan Nago semakin lapang.
“Segar kan?”
Nago Salapan mengangguk.
Waktu terus bergulir. Matahari semakin condong ke barat. Tawa ceria anak-anak yang bergelut di pantai semakin riuh. Tiba-tiba kepala Nago Salapan berdenyut-denyut. Segera lelaki itu mengatur nafas, menghirup perlahan lalu menghembuskan perlahan-lahan. Sejenak rasa pusing dan denyut di kepalanya sirna.
Sementara itu Olivia berkali-kali melihat ke arlojinya. Ia seperti menunggu sesuatu. Kadang ia bangkit meninggalkan Nago, menatap jauh ke ujung jalan. Kemudian kembali lagi duduk di samping lelaki itu. Tak tersirat ada kekhawatiran akan perubahan yang terjadi pada Nago.
Nago batuk-batuk dan bersin berkali-kali. Dan kepalanya berdenyut lagi. Ia tarik nafas kembali, dan bersin-bersin. Pandangan mata Nago kadang kabur kadang normal. Ia bangkit menuju motornya. Sepertinya ia tak peduli pada Olivia. Perempuan itu bengong-bengongan di kafe.
Dalam perjalan pulang, Nago menahan sakit yang tak terhingga. Ia lawan sakit itu dengan menghimpun hawa murni di pusarnya. Dan sampai di rumah, ia terhempas di ruang tamu. Mulutnya berbusa-busa, ia menekan perutnya yang terasa melilit-lilit. Sepasang lutut Nago terasa bergetar, ia kejang-kejang. Nago coba bangkit. Dadanya seperti terbakar, kerongkongannya kering kerontang. Ia haus. Sempoyongan lelaki itu melangkah, Nago berusaha meraih cangkir di atas meja. Tapi sebelum sempat mengambil cangkir tersebut, dia terhempas. Dunia seperti terbalik di pelupuk matanya.
Kini rumah itu sepi.

**
Atos pulang lepas senja. Ia melihat pintu rumah terbuka, di depan tampak motor besar Nago sembarangan. Anak muda bergegas turun dari motor. Ia bersorak,”Bang…Bang…Bang Nago!”
Tidak ada sahutan.
Ketika ia masuk ke ruang tengah, ia melihat Nago tertelengkup di sana. “Abang!”
Nago Salapan tidak bergeming.
Atos membungkuk, ia mengguncang-guncang tubuh Nago. Tapi Nago Salapan tetap tidak bergerak. Dari bibir lelaki itu meleleh busa-busa. Baunya anyir, bau lumpur, bau bangkai – bercampur baur-
“Bangun Bang. Ini Atos!” Atos menjerit histeris. Kemudian lari keluar rumah mencari bantuan pada tetangga. Tapi sebagian besar tetangga belum pulang. Mungkin mereka masih di kampung atau di tempat keramaian menikmati Lebaran. Untung Atos bertemu dengan Pak Uyun, Tua Erte.
“Ada apa,Tos?”
“Bang Nago sekarat. Mulutnya berbusa-busa,” Atos berkata terbata-bata. Ia bingung mesti bicara apa.
“Mari kita kesana,” ajak Pak Uyun.
Akhirnya Nago Salapan dibawa ke rumah sakit dengan ambulans. Lelaki tersebut langsung masuk ke ruang ICU.
Atos tercenung di ruang tunggu. Anak muda itu tidak habis mengerti, kenapa Nago Salapan yang dikenalnya sebagai seorang yang tangguh dan sakti, kok tiba-tiba mendapat penyakit aneh!. Masih terbayang di ruang matanya, ia dan Nago Salapan berbincang-bincang selelai shalat Id. Lelaki tersebut masih tampak segar bugar dan ceria. Tapi sekarang, ia terbaring di ruang ICU. Tiba-tiba melintas kekhawatiran yang sangat buruk dalam pikirannya,”Akan matikah lelaki perkasa itu?”
Tidak lama kemudian, dokter Budi yang memeriksa Nago Salapan keluar dari ruangan ICU. Ia menemui Atos dan Pak Uyun. “Dari pemeriksaan, kami menyimpulkan bahwa tuan Nago keracunan,” Dokter Budi menjelaskan.
“Keracunan?”
“Ya, dia keracunan. Tapi sampai sekarang tim kami belum dapat memastkan, apa penyebab keracunan tersebut. Untung daya tahan Nago Salapan sangat luar biasa. Jika tidak entah apa jadinya.”
“Selamatkan Bang Nago, dokter.” Atos semakin cemas.
Dokter Budi menepuk pundak Atos. “Mari kita sama-sama memohon kepada Sang Khalik,” kata dokter itu. Kemudian ia masuk kembali ke ruang ICU. Dan Atos memandang dari balik kaca. Anak muda itu berkali-kali menarik nafas panjang. “Ya, Tuhan selamatkanlah Bang Nago,” ia berdoa.
“Mudah-mudahan ia cepat sembuh,” tukas Pak Uyun.
Wajah Atos sendu memandang Pak Uyun. Dalam benaknya muncul berbagai pikiran, terutama kecemasan akan hilangnya Nago Salapan.
“Tenangkan hatimu Tos. Mari kita terus memanjatkan doa kepada Allah,” Pak Uyun membujuk.
Satu jama telah berlalu, tanda-tanda Nago Salapan akan sadar diri belum terlihat. Lelaki itu masih terbaring, mulutnya masih dipasang alat pembantu pernafasan, dan infus. Lewat kaca tampak dokter dan perawat sibuk.

**
Atos duduk bersandar di ruang tunggu. Ia tampak lelah, matanya terpejam. Pak Uyun datang dari luar, ia membawa dua bungkus nasi dan beberapa makan kecil.
“Sebaiknya kita makan dulu,” Pak Uyun menepuk bahu Atos.
“Saya tidak lapar, Pak,” sahut Atos tanpa membuka mata.
“Ayolah. Nanti kamu sakit.”
Atos hanya memandang nasi bungkus itu. Tatapannya kosong, pikirannya jauh melayang. Lalu matanya terpejam lagi.
Sementara itu Nago Salapan terbujur di ruang ICU, matanya terpejam, sedikit pun tidak ada gerak pada anggota tubuhnya, nafasnya pun terlihat lamban. Dokter Bud telah coba membuat nafas buatan dan menekan dada lelaki tersebut, tapi hasilnya sedikit sekali.
“Jika ia belum juga siuman. Mungkin saya akan melaporkan pada Dokter Kepala, dokter Frans,” ujar Bud pada dokter Yani.
“Mungkin begitu lebih baik,” sahut Yani.
Beberapa saat kemudian mereka keluar lewat pintu khusus. Memang saat itu sudah jam istirahat, dan waktu pergantian petugas. Sejenak ruang tersebut sepi.

**

Jam dinding yang tergantung di kamar itu berdetak-detak memecah kesunyian. Nago Salapan membuka mata perlahan-lahan. Ia menyapukan pandangan sekeliling kamar, ruangan itu bewarna putih. Pun pakaian yang dikenakan bewarna putih. Ia melepaskan alat bantu pernafasan, tali infus di lengannya. Saat itu ia merasakan tubuhnya mengapung, melayang keluar kamar. Di luar dia melihat Atos sedang mendengkur di bangku, dan Pak Uyun duduk merokok.
“Pak Uyun…” Nago menyapa.
Pak Uyun tidak menyahut, menoleh pun tidak. Sepertinya lelaki tersebut tidak mendengar teguran Nago. Pak Uyun masih asyik menikmati rokok. Akan tetapi ada nyamuk menggigit ia langsung menepuk lengannya.
“Pak Uyun!”
Lelaki itu bangkit, ia melangkah menjauhi Nago. Lalu masuk ke WC. Sudah lewat tengah malam. Dia menguap beberapa kali. Di bangku tempat duduknya semula, ia menyandarkan kepalanya. Lelaki itu mendengkur.
“Apakah Pak Uyun tidak melihat saya?” gumam Nago. Kemudian ia mendekati Atos yang juga sedang pulas. Nago menggoyang bahu Atos. Anak muda itu bergerak menepuk pipinya. Nago tertegun sejenak. “Jika Atos bangun. Mungkin ia tidak akan melihat saya. Sama dengan yang dialami Pak Uyun.”
Suasana di rumah sakit semakin sepi.
Nago Salapan menyapukan pandangannya jauh ke depan. Tampak beberapa orang tidur di lantai. Mereka adalah sanak keluarga dari pasien. Mereka sama keadaannya dengan Atos dan Pak Uyun, yaitu menunggu dia.
Termangu Nago duduk di bangku. Ia coba mengingat-ingat apa yang terjadi pada dirinya. Kenapa ia berada di rumah sakit? Dan mengapa Pak Uyun dan Atos tidak melihat dirinya? Sekonyong-konyong terbayang wajah Olivia di pelupuk matanya. Perempuan itu tersenyum padanya.
Siang itu mereka bertemu di pantai. Tatkala itu ia sedang menaikmati keramaian pantai, menyaksikan keceriaan bocah-bocah bermain air laut. Kedatangan Olivia memang sama sekali tidak diharapkan Nago Salapan. Tapi semua itu telah terjadi, dan lelaki tersebut tak mungkin menolaknya. Dan dia ingat, perempuan itu memberinya sebotol minuman – minuman suplement. Beberapa saat kemudian ia merasa pusing, jantungnya berpacu kencang, aliran darahnya tidak stabil.
“Kenapa ia begitu tega meracuni saya?” Nago Salapan menggumam. “Oh, kenapa saya demikian bodoh. Bukankah Olivia yang titisan Puti Galang Banyak adalah istri Anurangga? Tentu wajarlah dia berpihak pada suaminya.
Racun? Ramuan macam apa yang diberikan oleh Puti Galang Banyak pada Nago Salapan. Lelaki itu adalah manusia abadi, tidak mempan oleh unsur-unsur kimia modern. Pastilah Anurangga telah meracik racun berkuatan luar biasa untuk melumpuhkannya. Bahkan untuk membunuh!
*
Menghadapi Nago Salapan memang tidak mudah. Denai belum dapat mengukur setinggi apa kesaktiannya. Lagi pula denai baru mendapatkan tiga Mustika Alam. Jika kelima mustika tersebut berada di tangan denai, tentulah lebih mudah menghadapinya secara pisik,” tukas Kati Muno.
Anurangga batuk-batuk. Dadanya terasa sesak karena cedera saat bertarung dengan Nago Salapan. Di Gunung Pangilun. Ia terbaring dengan kepala yang berganjal bantal. Lelaki tersebut acapkali mengerang kesakitan. Hal ini membuat Puti Galang Banyak khawatir, ia usap kening suaminya itu. Usapan itu membuat rasa sakit Anurangga berkurang.
“Kalau begitu, apa yang mesti kita lakukan Guru?” tanya Slang.
“Kita racuni dia!”
“Meracuni Nago Salapan?” Olivia agak terperanjat.
Kati Muno memandang Olivia. Dengan pandangan itu, Kati Muno dapat membaca isi hati perempuan tersebut. Lelaki tersebut semakin yakin bahwa Puti Galang Banyak tidak akan setuju jika Nago Salapan diracun. Karena selama ini ia tahu, Puti Galang Banyak menaruh perhatian pada Nago Salapan. Tapi Kati Muno tidak peduli. Ia tersenyum,”Ya, lelaki itu harus kita racun. Denai punya bubuk racun yang luar biasa ampuh. Jangankan manusia, dewa dan jin sekalipun akan mampus!”
“Racun apa itu Guru?” tanya Anurangga.
“Luar biasa, Guru,” tukas Silangkaneh.
Kati Muno ketawa terbahak-bahak, dadanya berguncang-guncang. Kemudian ia mengeluarkan sebungkus bubuk dari kantongnya. “Racun ini dibuat oleh seorang ahli racun yang bertapa di puncak Colma Longma. Ia meramu bubuk ini dari tanduk menjangan merah dan bisa ular kobra matahari serta pasir batu bulan.” Lelaki itu ketawa terbahak-bahak seakan-akan kemenangan telah berada di depan mata.
Anurangga yang berbaring di ranjang pun ikut tertawa. Tapi kemudian ia merasakan dadanya sesak, ia batuk-batuk.
“Hmmm….tapi siapa yang akan memberikan bubuk itu,” sela Slang.
“Tentu saja kamu,” kata Anurangga.
Wajah Silangkaneh berubah kecut.
“Bukan. Yang akan memberikan bubuk ini adalah Puti Galang Banyak. Sebab denai yakin, Puti mampu menggoda Nago Salapan,” tukas Kati Muno cepat.
Anurangga batuk-batuk.
Silangkaneh senang. Ia seperti terlepas dari beban. “Saya setuju,” katanya.
Olivia belum menyahut.  Ia tahu ucapan Kati Muno tersebut memancing kesetiaannya pada Anurangga. “Pasti Kati Muno ingin mendorong Anurangga untuk menyetujui sarannya itu,” gumam Puti Galang Banyak.
Bimbangnya Puti Galang Banyak terbaca oleh Kati Muno. “Kamu tidak perlu cemas. Serbuk ini dikemas sedemikian rupa. Bubuk ini mudah larut bila dicampur dengan air. Dan tidak berbau dan bewarna. Denai yakin, Nago Salapan tidak akan curiga.”
Gimana kalau gagal?”
“Serbuk ini bernama Tuba Pemutus Nyawa. Jangankan manusia, 100 ekor gajah minum setetes air larutan tuba ini. Maka 100 gajah tersebut akan mampus seketika!”

**



Sunyi tengah malam itu bukan saja di kawasan rumah sakit tersebut tapi juga dalam hati Nago Salapan. Ia ingin “curhat” dengan seseorang. Mungkin dengan Atos atau dengan Pak Uyun atau dengan siapa saja. Namun ia tidak bisa berkomunikasi dengan siapapun. Itulah yang membuat Nago semakin sepi.
Bibir Atos berdecap-decap. Ia menepuk pipinya yang dihinggapi nyamuk. Anak itu membuka matanya, ia melihat Pak Uyun menyandarkan kepala di sandaran bangku, meleleh ilernya karena mendengkur. “Pak Uyun, bangun!” Atos menggoyang bahu lelaki tersebut.
Pak Uyun terperanjat tiba-tiba. Ia melompat seketika. Lelaki itu segera merentang lengannya seperti orang bersilat. “Hep tah tih. Saya habisi kalian. Tahhhh!”
Terpingkal-pingkal Atos melihat kelakuan Pak Uyun.
Pak Uyun mengucek-ucek matanya. “ Ada apa. Eh, kenapa kamu ketawa?” Lelaki memandang Atos yang ketawa terpingkal-pingkal. “Kita dikeroyok orang. Mana mereka sekarang?”
“Kita masih di rumah sakit, Pak. Tidak ada yang mengeroyok. Bapak mimpi.”
Sesaat kemudian Pak Uyun tenang kembali. Ia membakar sebatang rokok dan menyelipkan di bibir. Asap mengepul ke udara. “Oya…Apakah Nago sudah siuman.”
“Tampaknya belum.”
Asap rokok menjulang ke udara. Pak Uyun mengikuti asap itu dengan pandangannya. Saat bersamaan pintu kamar ICU terbuka. Keluar dokter Yudhi, pengganti dokter Bud. Lelaki tersebut menyapa Pak Uyun. “Bapak keluarga Nago?”
“Ya,” sahut Pak Uyun dan Atos serentak.
Diam sejenak dokter Yudhi, ia menatap kedua orang itu. “Kami sudah berusaha sedaya mungkin Agaknya racun dalam tubuh Nago sangat kuat. Racun tersebut telah merusak syaraf otaknya.”
Kemudian dokter Yudhi berbaik hati mengajak keduanya masuk melihat keadaan Nago Salapan. Atos tertegun di samping ranjang melihat nago terbaring koma. Tanpa sadar air mata Atos meleleh.
Lebih 40 hari Nago Salapan koma di rumah sakit. Atos menunggunya dengan setia. Memang ada di antaranya yang datang menjenguk, seperti Gugum dan Tuan Logos. Sedang Puti Rinjani atawa Nadia hadir ketika Nago hendak pulang. Gadis itu menyesali ketidak-hadirannya. “Saya tidak menyangka Nago akan mendapat musibah separah ini. Begitu saya mendengar kabar, saya langsung berangkat dari Kuala Lumpur,” tutur gadis itu terenyuh. Ia menatap Atos penuh arti.
“Maafkan saya. Saya terlambat memberi-tahu pada kamu,” tukas Atos.
“Bukan kamu yang minta maaf. Tapi saya.” (Bersambung.....12)