Featured Posts

Jumat, 13 Januari 2012

NOVEL: TAMBO MINANGKABAU (Buku Satu MARAJO)


PENGANTAR


Amran SN
Novel Tambo Minagkabau ini memuat cerita mitos Minangkabau tentang asal usul nenek moyang suku bangsa Minangkabau. Mitos suku bangsa Minangkabau ini biasanya diceritakan dalam bentuk lisan, lazim disebut kaba (perkabaran). Kaba kadangkala diceritakan dengan dendang. Mitos Minangkabau pun dituliskan setelah orang Minangkabau mengenal tulisan Arab, latin dan bahasa Melayu. Perkabaran tersebut mereka namakan “Tambo” yang artinya perkabaran. Menurut ahli bahasa dan sejarah, kata tambo berasal dari bahasa Spanyol, yaitu trabour, di mana orang bercerita dengan cara bernyanyi atau berdendang. Memang mitologi Minangkabau berbeda dengan mitologi Yunani yang mengaitkan dengan kehidupan dewa-dewi,  demikian pula dengan  mitologi Jepang yang mengisahkan asal muasal nenek moyang mereka dengan dewa matahari..
            Berbagai versi tambo dituliskan, ada dengan bahasa arab-melayu. Pun ada menulis dengan bahasa Indonesia. Cerita tambo berkisar tentang asal-usul nenek moyang mereka. Keunikan tambo, di dalam kisah asal-usul pun dikaitkan pula dengan wilayah ke mana dan di mana nenek moyang tersebut pertama kali mendarat dan membangun suatu daerah. Pun mereka mengaitkan dengan Iskandar Zulkarnain sebagai raja yang mempunyai tiga orang putra. Putra pertama adalah Maharaja Alif, kedua Maharaja Dipang, dan ketiga Maharajo Dirajo. Maharajo Di raja dianggap oleh suku bangsa Minangkabau sebagai nenek moyang mereka. Peristiwa-peristiwa mitologi tak mengenal waktu, hanya digambarkan dengan kejadian.  
            Ada dua tokoh yang paling populer di Minangkabau, yakni Datuk Ketumanggungan dan Datuk Perpatih nan Sebatang. Kedua tokoh ini, tidak mengenal ruang waktu kapan mereka lahir dan hidup. Mereka terus ada sepanjang masa. Mereka bisa ada pada zaman misi Pamalayu. Dan bisa juga sebelum itu, bahkan muncul ketika “Anggang nan datang dari laut” yakni pada zaman Adityawarman kembali ke Minangkabau dari Majapahit.
            Versi tambo yang ditulis oleh pengarangnya memang beragam, sesuai dengan ukuran pengetahuan mereka tentang Minangkabau itu sendiri. Dan saya sebagai pun ingin memperkaya mitologi Minangkabau tersebut. Berusaha mengisahkan mitos Minangkabau yang dimulai dengan “pelarian” putri Kandauxia bersama ketiga putranya yang masih bocah saat ini. Buku Satu berjudul “Marajo” merupakan kisah yang akan mengajak menelusuri pengembaraan Marajo setelah berpisah dari ibunya.
            Buku Satu ini saya tulis dalam dua bahasa. Pertama, berbahasa Indonesia yang dapat dinikmati oleh pembaca secara umum. Sedangkan Buku Satu lainnya ditulis berbahasa Minang. Buku Satu ini berbahasa Minang Pesisir. Saya anggap bahasa Minang Pesisir lebih terbuka dan tak terlalu kental penulisan “pembahasaannya” Namun tidak mengubah maksud kata yang diucapkan. Dalam mengisahkan cerita ini, saya cenderung mengikuti alur yang ada. Maksudnya, yaitu tidak terpaku pada gaya bahasa lisan seperti yang disampaikan oleh “tukang kaba atau tukang dendang” Namun antara buku satu berbahasa Indonesia dan bahasa Minang diterbitkan secara terpisah.

Tentu saja sebagai manusia biasa, penulis mempunyai kelemahan dan kekurangan, justru karena itu diharapkan kritik pemerhati dan pembaca, sehingga kelak dikemudian hari karya ini semakin bernas. Insya Allah akan diterbitkan buku kedua, ketiga dan selanjutnya.



Padang, November 2010
Amran SN


**


“Menurut waris yang diterima, pusaka yang dijaga. Kabar asal dahulu, gunung sebingkah tanah, bumi sepehimbauan, laut sacampak jala. Tanah daratan belum lagi lebar, yang timbul gunung Marapi. Ninik moyang kita kalau ditelusuri asal usulnya di dalam Tambo lama; sapiahan balahan tiga jurai.

Yang sulung bernama Maharaja Alif, yang bermukim di benua Ruhum. Sedangkan yang tengah Maharaja Di Pang merantau ke benua Cina. Sementara itu yang bungsu, Maharaja Diraja yang datang ke pulau Emas ini. “
Tatkala masa yang lalu, seperti diberitakan kata pusaka :

            Di mana titik pelita,
di balik telong yang bertali
Dari mana turun ninik moyang kita,
dari gunung Marapi


*Cuplikan Tambo


SATU



PELARIAN
           



Putri Kandauxia bergegas keluar kotaraja seraya membimbing tiga orang putranya, ia merasa jiwanya terancam karena Iskandar Zulkarnain meninggal secara mendadak di Babylon. Firasatnya memang benar, beberapa orang lelaki membuntutinya, perempuan tersebut segera mengayun langkah lebih cepat. Malam telah tiba. Bersamaan dengan itu turun gerimis.
            Olif, Dipang dan si bungsu Marajo tersengal-sengal ditarik Putri Kandauxia. Kadangkala Marajo meringis karena lelah berlarian pada malam gerimis tersebut. “Kalian harus kuat, kalau tidak kita akan dibantai oleh musuh-musuh ayahmu,” ujar perempuan itu.
            Kekhawatiran Putri Kandaxia itu kini nyaris jadi kenyataan, tiga orang lelaki berbadan tegap dan bertampang sangar menghadang di depan mereka. Ketika orang tersebut masing-masingnya mengacungkan pedang. Dalam gelap mata ketiga lelaki itu menyala-nyala. Putri Kandauxia mengenal ketiga orang tersebut, mereka adalah hulubalang raja.
            “Mau ke mana kamu manis?”
            “Kau berada pada jalan buntu.”
            “Hanya ada jalan. Jalan itu adalah menyerahkan dirimu pada kami.”
            Putri Kandauxia menatap ketiga hulubalang tersebut. Saat bersamaan itu gemuruh di langit. Gerimis malam semakin tebal. Perempuan itu memeluk ketiga putranya. Lalu dengan gagah berani ia berkata lantang,”Kini denai tahu siapa kalian. Ternyata kalian memanfaatkan situasi ini. Semestinya kalian mengamankan kotaraja!”
            Khat Monx ketawa terbahak-bahak, tampak lidahnya menjulur bercabang dua. Dia memang siluman ular. Namun ia sangat membenci raja Iskandar karena keinginannya untuk menjadi jenderal tak pernah dikabulkan sang raja. “Denai kira jabatanmu sebagai komandan pengawal istana sudah lebih cukup,” ujar Iskandar. Karena kecewa permintaannya tak dikabulkan raja, Khat Monx dendam dan membenci raja serta keluarganya. Siluman ular tersebut menghasut Slanx, si banci dan Mongka. Sehingga mereka bersahabat kental, dan merencanakan pemberontakan terhadap Iskandar. Ketika mendengar Iskandar meninggal di Babylon, mereka mengambil alih istana.
            Olif, bocah berusia sepuluh tahun itu memungut batu kerikil di kakinya. Tanpa takut sedikit pun ia menimpuk Khat Monx yang ketawa terbahak-bahak. Kerikil itu meluncur ke arah Khat Monx.
            “Tuk!” kerikil tersebut mengenai pelipis Khat Monx.
            Berderai kerikil itu di pelipis Khat Monx.
            “Setan kecil. Berani amat kamu!”
Lelaki itu marah bukan main. Khat Monx menjulurkan lengannya, ia menangkap Olif. Gerakan itu sangat cepat sehingga bocah itu tak bisa berkelit. Tubuh kecil bocah itu diputar bagai baling-baling di atas kepala Khat Monx. Lalu dilemparkannya ke hadapan Puti Kandauxia.
            “Anakku!”
            Olif merasakan sekujur tubuhnya seakan-akan rontok. Dipang dan Marajo menghampiri Olif. “Kakak,” ujar mereka serentak.
            Putri Kandauxia mengelus kepala anaknya. Ia kecup kening Olif berkali-kali. Cemas perempuan itu bukan main. Ia mendongak menatap ketiga hulubalang tersebut. Kini mata perempuan itu mencorong tajam. “Biadab kalian!” Perempuan itu menerjang ke arah Khat Monk.
            Khat Monx ketawa. Ia menjulurkan tangan, hendak menangkap lengan Puti Khandauxia. Lelaki membayangkan, perempuan cantik tersebut akan jatuh ke dalam pelukannya. Bila Puti Khadauxia berada dalam pelukannya maka ia akan mencium bibir perempuan tersebut. Melumat lidah perempuan itu sepuas-puasnya.
            Namun impian Khat Monx hanya bayangan belaka. Terjangan Puti Kandauxia bukanlah sembarangan, tidak selemah yang diperkirakan lelaki itu.
            “Dukkk!”
            Khat Monx terhuyung beberapa tindak.
            Slanx dan Mongka ketawa melihat Khat Monx dipecundangi perempuan itu.
            “Kenapa kalian ketawa?”
            “Tuan dilapua ayam batino, “ kata Mongka
            Slanx terkikih.
            “Diam kalian. Dasar banci!”
            Karena ketiga orang itu bertengkar, kesempatan ini digunakan oleh Putri Khandauxia segera melarikan diri bersama ketiga anaknya. Perempuan itu dan ketiga anaknya masuk ke sebuah lorong.
            “Kejar!”
            “Tunggu. Celana saya melorot.”
            “Pandir kamu!”
            Ketiga orang hulubalang itu pun mengejar. Mereka masuk ke dalam lorong. Gelap gulita di sana. Lorong gelap tersebut cukup menguntungkan pelarianPutri Kandauxia dan ketiga putranya.Lagi pula lorong itu mempunyai sekat-sekat batu sehingga memungkinkan Putri Kandauxia dan ketiga putranya bisa menyelinap ke sekat-sekat batu.
            Sekonyong-konyong lengan Putri Kandauxia ditarik ke dalam sekat batu. Perempuan itu terperanjat. Ketika ia hendak menjerit, kedengaran suara,”Tuan putri jangan takut. Saya Catri.”
            “Catri. Benarkah kamu?” Puti Kandauxia masih curiga. Tetapi kecurigaannya itu cepat berlalu ketika Catri membuka penutup kepalanya. Memang dia adalah Catri, pengikut setia raja. Dialah yang memberi tahu akan kematian Iskandar yang Agung. Dan segera menyuruh kerabat raja melarikan diri.
            Catri salah seorang penasehat raja. Ia berusia sekitar 40-an. Posturnya lebih pendek dari orang Makedonia biasa, tingginya hanya lima kaki atau 150 senti meter. Rambutnya jarang dan memutih.
            “Ayo, jangan buang waktu. Beberapa langkah lagi kita akan menemukan sebuah lorong sempit. Dari sana ada jalan tembus ke Padangbangkai,” ujar lelaki itu seraya membimbing Marajo dan Dipang. Sedangkan Olif dibimbing oleh ibunya.

*
           
“Ke mana mereka?”
            “Mereka kok menghilang begitu saja!”
            “Mungkin mereka sudah dilahap srigala.”
            “Bengak! Mana pula ada srigala di lorong ini!”
            “Jangan bertengkar. Mari kita telusuri lorong ini.”
            Ketiga orang hulubalang itu masuk lorong lebih jauh. Cuping hidung Mongka kembang-kempis, ia mencium bau aneh dalam lorong tersebut. Agar pandangannya lebih tajam, ia menudungi keningnya dengan tangan. Nun di sana ia melihat makhluk menyeringai. Seekor srigala menyeringai memperlihatkan taring. “Itu srigala!”
            Slanx memagut Khat Monx.
            “Dasar banci kamu!” Khat Monx mendorong Slanx. Banci itu jatuh menggelosor. Lantas Khat Monx melangkah ke depan. Pandangannya bertemu dengan tatapan srigala tersebut. Kedua makhluk itu saling mengintai.
            Srigala memperlihatkan taringnya.
            Dan Khat Monx mengacungkan kelewang di tangannya.
            Dua tubuh itu, Khat Monx dan srigala saling menghambur. Srigala hinggap di dada lawannya. Taringnya menghunjam ke leher Khat Monx. Khat Monx menebas. Kedengaran suara melengking nyaring.
            Srigala melompat, ia menyeringai menatap lawan. Pinggang binatang itu mengucurkan darah. Sementara itu leher Khat Monx hanya tergores. Lelaki itu meludahi lukanya. Sekejab luka itu bertaut kembali.
            Saat itu pula Mongka dan Slanx menebaskan pedang mereka serentak ke tubuh srigala. Seketika srigala itu terkulai. Darah segar membasahi tubuhnya. Perlahan-lahan binatang itu rebah ke lantai. Tewas.
            “Ayo, kita tinggalkan binatang keparat ini. Mari kita kejar mereka!” Khat Monx melangkah segera menyusuri lorong sempit itu.
            Akhirnya ketiga hulubalang itu memasuki lorong sempit. Bukan saja sempit tapi berbau busuk. Khat Monk, Slanx, Mongka merangkak memasuki lorong itu.

*

            Fajar telah menyingsing.
            Sejauh-jauh mata memandang tampak padang ilalang yang memang suka tumbuh pada tanah gersang. Bunga-bunga ilalang memutih masih kuncup karena embun yang membungkus. Tanaman pakis yang menyemak subur kadangkala menari diitiup angin subuh.
            Catri menurunkan Marajo dari pundaknya. Sedangkan Putri Kandauxia merangkul kedua pundak Olif dan Dipang. Lalu menoleh pada Catri. “Inikah Padangbangkai?” tanya perempuan itu.
            “Ya, inilah Padangbangkai. Padang rumput ini seringkali menjadi pertempuran antar suku. Korban dan mayat-mayat yang bergelimpangan dibiarkan terhampar di padang ini. Sehingga menimbulkan bau busuk. Bau busuk itu mengundang burung kondor  atau elang pemakan bangkai.”
            “Apakah sekarang terjadi juga perkelahian antar suku itu?”
            “Sekarang sudah jarang. Iskandar Zulkarnain mengangkat Tuo Batu sebagai penguasa Padangbangkai.” Catri menatap jauh ke depan. Samar-samar di antara siraman fajar tampak bangunan di atas bukit. “Nanti tuan Putri akan saya perkenalkan dengan Tuo Batu.”
            Tampak dari jauh bukit batu tersebut tidaklah memakan waktu lama untuk berjalan ke sana. Namun setelah mereka coba berjalan, ternyata menjelang siang, mereka baru sampai di pinggang bukit. Ketiga bocah itu tampak letih. Apalagi sejak kemaren mereka belum tidur sepicing pun.
            “Tuan Catri, sepertinya rumah Tuo Batu punya kaki. Rumah itu semakin lama semakin jauh,” ujar Marajo.”
            “Ya, kaki saya sudah pegal,” tukas Dipang.
            Sementara itu Olif duduk di bawah pohon rindang.
            Saat itulah kedengaran suara suitan.
            Catri mendongak, memandang bangunan pondok Tuo Batu. “Sahabat, denai Catri datang berkunjung!” Suara Catri menggema membalas suitan tersebut. Dan bersamaan hilangnya gema suara Catri, kedengaran bunyi gemuruh. Lalu sunyi sejenak. Samar-samar tampak bayangan hitam mengambang di udara. Putri Kandauxia melihat sosok tubuh berpakaian hitam melenggang santai menuju ke arah mereka.
            “Denai kira tuan tidak mau keluar dari bangunan batu itu,” ujar Catri seraya menyongsong Tuo Batu. Tuo Batu berusia sebaya dengan Catri. Pakaian Tuo Batu mirip dengan pakaian Catri, yakni berselempang kain menutupi sebagian dadanya. Sedangkan pakaian bagian bawah – longgar dan dalam melewati batas lutut. Bila Catri berpakaian bewarna putih, maka pakaian Tuo Batu bewarna hitam.
            “Mana mungkin denai menolak kesempatan istimewa ini. Bukankah tamu yang datang bersama tuan itu adalah Putri Kandauxia, selir kesayangan raja Iskandar Zulkarnain?” Tuo Batu membungkuk ke hadapan Putri Kandauxia.
            “Benar tuan. Denai Putri Kandauxia datang bersama ketiga putra raja,” tukas putri tersebut.
            “Tuan Tuo Batu, kami datang minta perlindungan pada tuan. Tapi sebaiknya kita bicara di Pondok Batu tuan.”

*

            “Raja mati mendadak di Babylon. Baginda ratu Druxia dan anak-anaknya dibantai oleh musuh-musuhnya. Musuh dalam selimut yang memang telah lama menunggu kesempatan ini. Kerusuhan itu berlanjut sampai Makedonia. Khat Monx, Slanx, dan Mongka serta yang lainnya membantai kerabat raja. Untung Putri Kandauxia mencium niat jahat mereka. Sehingga beliau bersama tiga putranya berhasil meloloskan diri,” tutur Catri, penasehat raja itu.
            “Denai diselamatkan oleh Catri ketika kami dalam kebingungan menghadapi bahaya,” kata Putri Kandauxia menjelaskan.
            Diam sesaat Tuo Batu. Ia menengadah menatap langit-langit batu. Air mata orang tua itu berkaca-kaca menahan kesedihan. Sedikit pun ia tak menyangka sang raja akan mati demikian cepat. Memang ia terlambat mendapat kabar kematian raja. “Sungguh hamba tak tahu membalas budi. Mestinya hamba datang ke kotaraja menjaga kerabat raja,” ujar Tuo Batu dengan suara serak. Wajahnya menyiratkan penyesalan.
            “Sudahlah, tuan tak perlu menyesali diri.”
            “Yang penting, tuan carikan Putri Kandauxia dan ketiga putranya tempat persembunyian yang aman. Aman dari gangguan niat jahat Khat Monx dan sekutunya,” tukas Catri.
            “Jangan takut. Hamba akan menumpas mereka!” Berkata demikian Tuo Batu melangkah ke ceruk di sudut sana. Di sana tersangkut sebilah kelewang panjang. Ia serta-merta mencabut kelewang itu dari sarungnya. Kedengaran bunyi mendesing –suara baja- “Kelewang ini dihadiahkan raja kepada hamba untuk menumpas keangkara-murkaan. Kelewang ini bernama Pedang Jinawi. Jangankan tubuh manusia, batu karang atau besi akan putus ditebasnya!”
            “Ya, tuan. Denai sudah mendengar kesaktian Pedang Jinawi ini. Namun kita harus mengungsikan Putri Kandauxia dan putra-putranya. Kemudian baru kita hadapi Khat Monx dan sekutunya,” kata Catri.
            Tuo Batu diam sesaat. Ia berpikir sejenak, lalu mangut-mangut. “Ya, denai setuju pendapat tuan Catri. Mari ikuti hamba,” tukas Tuo Batu seraya membungkuk pada Putri Kandauxia. Laki-laki itu mendekati dinding batu di belakang sana. Ia memutar tombol yang terdapat pada ceruk sana. Beberapa saat menunggu, kedengaran bunyi berderak-derak. Pintu yang ada di belakang batu tersebut terbuka lebar.
            “Masuklah Putri dan anak-anak raja ke dalam. Sekitar seratus tombak, kita akan melihat laut. Tuan Putri bawa ketiga anak raja dengan dandang (perahu besar) yang telah tersedia di sana,” ujar Tuo Batu.
           
            Tuo Batu dan Catri mengantar Putri Kandauxia dan ketiga putranya masuk ke dalam gua tersebut. Karena dalam gua gelap, mereka memasang obor. Menjelang sore, mereka sampai di pinggir pantai. Tuo Batu dan Catri menyuruh Putri Kandauxia dan tiga putranya naik kapal yang telah tersedia itu.
            Catri menatap langit. Ia merasakan hembuasan angin laut. “Tuan Putri boleh berlayar sekarang. Angin sedang berembus ke laut. Arahkan kapal tuan Putri ke Agyp. Di sana banyak kerabat raja. Tuan Putri dan ketiga putra raja akan mereka terima dengan suka-cita,” kata Catri.
            “Tuan Putri tak perlu khawatir. Di atas dandang ada peta petunjuk. Mudah-mudahan tuan Putri dan anak-anak raja selamat sampai ke tujuan,” Tuo Batu menjelaskan.”Oya, di atas dandang tersedia makanan untuk sebulan,” sambung laki-laki itu.
            Catri dan Tuo Batu melambaikan tangan ketika dandang Puti Kandauxia keluar dari dermaga. Olif, Dipang dan Marajo berdiri di terali, mereka membalas lambaian tangan kedua orang tua tersebut. Di anjungan dandang, Putri Kandauxia melihat kedua orang tersebut kembali masuk ke dalam gua. Pintu gua telah tertutup.
            Angin barat bertiup tenang. Layar dandang terkembang, perahu besar tersebut meluncur bersama hembusan angin. Sesuai dengan petunjuk kedua orang tersebut –Catri dan Tuo Batu- dandang itu berlayar menuju Agyp atau lebih dikenal dengan Mesir.

*

            Sejenak kita alihkan cerita ini pada Khat Monx, Slanx dan Mongka yang mengejar Putri Kandauxia. Kini mereka telah sampai pula di Padangbangkai.
            “Saya mencium bau mereka,” ujar Mongka. Memang laki-laki itu ahli sebagai pencari jejak. Ia mampu mengendus bau buruan dalam radius satu kilo meter. “Tapi mereka bukan lagi berempat. Bahkan ada enam orang,” sambungnya.
            “Menurut kamu, siapa yang dua orang lagi?” tanya Khat Monx.
            “Sepertinya…..”
            “Siapa. Kok waang ragu-ragu,” Khat Monx mendesak.
            “Dia Catri. Dan yang seorang lagi adalah Tuo Batu, penguasa Padangbangkai.”
            Mangut-mangut Khat Monx mendengar dua nama tersebut. Terpaku laki-laki itu. “Kita mendapat halangan besar. Denai sudah pernah bertarung melawan kedua orang tersebut.”
            “Apakah tuan keder pada kedua orang itu,” tukas Slanx.
            “Kamu jangan sembarangan. Denai tidak pernah takut pada siapa saja. Tapi menghadapi dua orang itu. Kalian tidak boleh lengah. Mereka cukup tangguh. Ayo. Kita langsung saja naik ke pondok batu Tuo batu, “ perintah Khat Monx.
           
            Dalam pada itu, Catri dan Tuo Batu telah melihat ketiga orang hulubalang itu. Mereka keluar dari pondok batu, dan menunggu di halaman.
            “Oiii! Di mana kalian sembunyikan perempuan itu.” Khat Monx bersorak keras.
            Angin sore bertiup sepoi-sepoi.
            “Sungguh tak disangka. Tak ada angin, tak ada gelombang, tahu-tahu kalian datang menanyakan seorang perempuan. Di pondok ini banyak laki-laki dan perempuan. Jadi perempuan mana yang kalian maksud.”
Khat Monx mencibir. “Sudah gaharu-kura-kura pula. Sudah tahu-pura-pura pula. Hai Catri dan Tuo Batu, jangan banyak kilah. Engkau pasti tahu maksud kami. Kami mencari Puti Knadauxia dan tiga putra raja,” kata Khat Monx bernada tinggi.
            “Jika kalian sudah tahu beliau berada di sinu. Ya, cari sendiri. Tapi sebelum kalian bertemu dengan tuanku Putri, kalian berhadapan dengan kami,”sahut Tuo Batu.
            Khat Monx mengerling pada Slanx dan Mongka. “Siapkan diri kalian. Kita harus bertarung melawan mereka.” Lantas laki-laki itu mengacungkan kelewangnya. Ia berkelabat naik ke halaman, di sana menunggu Catri dan Tuo Batu. Sementara itu Mongka melompat bersama Slanx menerjang ke arah Catri. Pertarungan memang tak terhindarkan lagi.
            Catri bersenjata sepasang cakra. Ia hadapi serangan Mongka dan Slanx yang bersenjata kelewang. Kedengaran bunyi dentingan senjata beradu. Walaupun dikerubuti dua orang bersenjata kelewang, Catri masih berada di atas angin. Sepasang cakra berkelabat ke sana-sini mendesak kedua lawannya. Lima belas jurus telah berlalu, Slanx dan Mongka terdesak. Hulu kelewang yang mereka pegang terasa licin karena dibasahi keringat. Keringat yang menetes di sekujur tubuh mereka.
            Demikian pula dengan Khat Monx, ia terus didesak mundur oleh Tuo Batu. Bahkan kelewang di tangannya nyaris tercampak ketika beradu dengan Pedang Jinawi yang disabetkan penguasa Padangbangkai tersebut. Menyadari kelemahannya bertarung dengan senjata, maka laki-laki itu segera melompat mundur beberapa tombak dari Tuo Batu. Nafasnya tersengal-sengal. Peluh membasahi sekujur tubuhnya.
            Matahari mulai membenam.
            Ujung pedang Tuo Batu teracung lurus ke arah jantung Khat Monx. “Hanya demikian keahlianmu Khat Monx. Pantas raja tidak meloloskan permintaanmu untuk menjadi jenderal dan maju ke medan perang!”
            “Tuo Batu, bukan saja namamu “batu” tapi otakmu pun terbuat dari batu. Sehingga cara berpikir engkau mirip batu, lalu membeo pada apa saja yang dikatakan Iskandar. Nah, kamu lihatlah sendiri. Denai akan menyalin diri!”
            Khat Monx melemparkan kelewangnya ke cadas sana. Kelewang itu menggelinding terhempas. Lalu sepasang lengan laki-laki itu menjulang ke angkasa. Tiba-tiba petir menggelegar. Bersamaan suara petir, wujud Khat Monx beralih menjadi seekor ular raksasa.
            “Grrrrhhh!”
            Menyaksikan peralihan ujud Khat Monx, Tuo Batu mengambil ancang-ancang agak mundur-beberapa tindak- Ujung pedangnya tetap mengarah lurus pada lawan yang kini ber-ubah jadi siluman ular. Bibirnya komat-kamit membaca mantera. Asap putih sekonyong-konyong berputar di atas kepala Tuo Batu.
            “Grrrhhh!”
            Siluman Ular meluncur kencang ke arah Tuo Batu. Binatang itu memuntahkan racun dari moncongnya. Bagai angin bertiup kencang, racun berbisa itu menyerang lawan yang berada di depannya. Tuo Batu berkelabat ke udara, berjumpalitan sampai tiga kali di udara-kemudian hinggap pada sebuah batu cadas. Matanya mencorong tajam ke arah lawan. Dari cadas tersebut Tuo Batu melayang ke bawah seraya menghunjamkan Pedang Jinawi pada Siluman Ular. Siluman Ular berkelit dari serangan lawan, binatang siluman itu melepaskan kembali racun berbisa. Uap hitam berbau anyir menyebar di seantero Pondok Batu.
            “Croook!”
            Pedang Jinawi menikam kepala Siluman Ular. Bergetar sesaat ujung pedang tersebut. Tuo Batu menggenggam hulu pedang lekat-lekat. Dalam pada itu tampak Siluman Ular menggeliat. Darah mulai menetes di kepalanya.
            Di bagian lain, Slanx telah menukar senjatanya, kini ia mengeluarkan payung dengan motif kembang-kembang. Itulah senjata andalannya. Sedangkan Mongka mengeluarkan senjata andalannya, yakni tombak Mojo. Dengan senjata tersebut kedua orang tersebut telah banyak menjatuhkan dan membantai lawan-lawan mereka.
            “Botak uban! Kali ini nyawamu berada di ujung tanduk. Bersiaplah untuk mati!” kata Mongka sombong.
            “Sebelum kamu mati, tunjukkan di mana selir raja dan ketiga putranya kamu sembunyikan,” ujar Slanx bernada takabur. Seakan-akan dengan senjata payung tersebut ia mampu merobohkan Catri dengan mudah.
            Tenang saja Catri mendengar sesumbar lawan-lawannya itu. Laki-laki itu menunggu serangan lawan sambil memegang sepasang cakra di tangannya. Santai sekali Catri. Ia tenang setenang air dalam kolam tanpa hembusan angin.
            “Heptaah!”
            “Taahhhhh….Tiihhhh!”
            Serentak Slanx dan Mongka menerjang Catri. Slanx dari kiri menusukkan ujung payungnya yang masih kuncup. Dan sedepa menjelang mengenai sasaran, payung tersebut mengembang spontan. Saat terkembangnya payung itu maka berhamburanlah paku-paku kecil ke arah Catri. Dalam pada itu, dari kanan Mongka memutar tombak Mojo di atas kepalanya. Terdengar suara angin kencang. Lalu laki-laki tersebut menghunjamkan ujung tombak ke ulu hati lawan.
            Sepertinya Catri dalam bahaya besar. Ia harus menghadapi beragam serangan dari dua lawannya. Sementara itu puluhan paku-paku kecil melesat ke arah Catri. Dan dari kanan ia harus menghadang ujung tombak Mojo.
            Dalam keadaan terdesak itu, Catri berkelabat, ia bersalto di udara sampai delapan kali. Paku-paku kecil yang melesat dari payung Slank mengenai sasaran kosong, dan akhirnya jatuh ke lantai batu karang. Sekejap kemudian tubuh Catri yang berjumpalitan di udara, pada hitungan ke delapan, ia mendarat enteng di badan tombak. Dan hanya sedetik sepasang kaki Catri hinggap di atas tombak Mojo, ia meletik bagai ikan lele. Tumit Catri hinggap di dagu Mongka. Berderak dagu itu. Bukan hanya sampai di situ saja gerakan Catri, ia lantaskan sebuah cakra ke arah Slanx.
            Slanx terkesima, ia tak menyangka sama sekali, Catri mampu berbuat seperti itu, menyerang dua lawan sekaligus. Cakra menerpa lengan laki-laki banci itu. Ngilu lengannya terasa. Payung Slanx jatuh!
            “Ampun denai, tuan Catri,” ujar Slanx, ia bersimpuh di lantai batu sambil memegang lengannya yang tak berasa lagi. Kaku.
            “Ooookkk. Ja…ngan…bunuh aden.” kata Mongka terbata-bata. Laki-laki itu tidak mampu bicara seperti biasa karena rahangnya retak.
            Dalam pada itu, nun di sana, Khat Monx telah kembali ke ujudnya semula, yakni ujud manusia. Laki-laki tersebut bersimpuh di lantai karang sambil memegang kepalanya yang penuh darah. Ia berusaha mengobati dengan ludahnya sendiri. Namun hasilnya sia-sia. Tebasan pedang Jinawi memang sukar diobati.
            Tuo Batu menendang pinggul Khat Monx yang sudah tak berdaya. Khat Monx berguling, jatuh ke bawah. Lama baru ia bangkit. Laki-laki itu meringis menahan sakit. “Pergi kau dari sini. Denai tak ingin melihat batang hidungmu lagi. Ayo pergi!”
            Sementara itu Slanx dan Mongka telah lebih dulu hengkang dari Catri. Mereka lupa memanggil Khat Monx. Bagi mereka yang penting selamat dari lawan. Kedua orang tersebut dilepas begitu saja dari Catri sudah mujur. Jadi tak perlu membuang waktu, apalagi memanggil Khat Monx.
            “Oooi…tunggu denai!” Khat Monx berteriak lantang.
            Semakin keras teriakan Khat Monx semakin kencang lari mereka.
            Senja telah bertukar dengan malam
**
            Ketiga orang tersebut seok-seok sampai di gerbang istana Makedonia. Beberapa orang hulubalang penjaga istana terperanjat melihat keadaan Khat Monk, Slanx dan Mongka.
            “Kenapa tuan?,”ujar salah seorang dari mereka. Ketiga orang tersebut tidak menyahut, mereka meringis kesakitan. Lalu mereka dipapah ke dalam, dan dibaringkan pada permadani yang terhampar dalam ruangan istana.
“Siapa yang mencelakai?”
“Apakah tuan bertiga menemukan Putri Kandauxia dan tiga putra raja?”
“Jangan-jangan mereka juga mengalami nasib yang sama dengan Baginda Ratu Druxia dan putra mahkota?”
Khat Monk berusaha menahan darah yang terus meniris kepalanya. Bibirnya komat-kamit membaca mantera, lalu menekan kepalanya yang luka itu. Beberapa jenak kemudian, luka di kepala tersebut bertaut kembali. Tapi kepalanya masih berdenyut-denyut. “Panggil dayang-dayang, suruh dia membawa bantal,” laki-laki itu akhirnya bicara.
Parides, seorang hulubalang yang paling senior di antara hulubalang yang lainnya, bertepuk tiga kali. Itulah isyarat agar dayang-dayang segera datang. Memang tidak lama kemudian dua orang datang. Ketika dua dayang tersebut hanya lenggang kangkung saja, Parides segera berkata,” Ambilkan bantal buat tuan Khat Monx, Slanx dan Mongka!”
Tergopoh-gopoh kedua dayang itu mengambil bantal. Selang berapa lama keduanya kembali membawa tiga bantal. Mereka langsung menyorongkan ke kepala tiga petinggi pengawal hubalang istana.

Di kejauahan ayam berkokok.
Khat Monx bangkit. Sebuah rencana besar bertengger di kepalanya. Laki-laki itu membangunkan Slanx dan Mongka. “Kalian berdua kok tidur. Kita masih punya tugas. Apakah kalian senang saja dihina Penguasa Padangbangkai dan si botak Catri?”
Slanx mengeliat.
Mongka meraba rahangnya yang masih ngilu.
“Hmmm. Jawabnya tentu tidak,” ujar Slanx. “Tapi apakah tuan mempunyai gagasan?”
“Hamba akan membalas penghinaan mereka.”
“Caranya bagaimana?” Khat Monx memandang enteng pada kedua orang itu. Keduanya masih bengong. Bahkan saling memandang dengan pandangan kosong. “Pagi ini denai perintahkan pada Parides agar mengumpulkan penduduk kotaraja untuk berkumpul di alun-alun. “Denai akan memberikan penjelasan tentang Putri Kandauxia dan tiga putra raja,” ujar laki-laki tersebut seraya menggamit Parides.
Parides datang menghadap.
“Pagi ini denai akan memberi penjelasan kepada seluruh warga kota tentang posisi Putri Knaudauxia. Oleh karena itu kamu ajak beberapa orang hulubalang mengumpulkan warga di alun-alun.”Khat Monx memberi perintah.
Parides segera melaksanakan perintah itu. Matahari pagi mulai bersinar di alun-alun kotaraja. Hampir seribu warga kotaraja Makedonia berkumpul di alun-alun. Mereka ingin mendengar penjelasan tentang keberadaan selir kesayangan dan ketiga putra Alexander itu. Akan tetapi saat Khat Monx, Slanx dan Mongka di atas panggung, warga kota berbisik-bisik.
“Bukankah mereka punya peranan besar dalam pembantaian kerabat raja?”
“Hamba kira yang akan memberi penjelasan itu adalah Catri, penasehat raja.”
“Catri tidak ada.”
“Kalau begitu, hamba pulang saja.”
Kuping Khat Monx bergerak-gerak. Laki-laki mendengar bisik-desus sebagian besar warga kotaraja. Ia menyadari warga kotaraja masih setia pada Alexander dan kaum kerabatnya. “Hal ini tidak bisa dibiarkan. Denai harus bertindak,”gumam laki-laki itu. Khat Monx berbisik pada Parides. “Denai melihat beberapa orang di sudut alun-alun sana akan membuat kacau pertemuan ini. Kamu perintahkan anak buahmu menangkap mereka.”
Tanpa selidik lagi, Parides dan lima orang anak buahnya meringkus dua lelaki di sudut alun-alun tersebut. Kedua orang itu berusia 25 tahun, bertubuh sedang. Sehari-harinya mereka adalah petani gandum.
“Kenapa kami diperlakukan seperti penjahat!” Sorez berteriak seraya meronta-ronta dari telikungan dua orang hulubalang. Namun kedua hulubalang itu lebih kuat dari Sorez. Ia diseret bagai babi ke pemotongan.
“Salah apa hamba!” Tidak berbeda nasib Maximus dari Sorez, laki-laki tersebut diseret bagai binatang yang siap dipotong di pejagalan.
Warga kotaraja berteriak-teriak. Mereka memerotes.
Khat Monx maju ke depan. Ia tersenyum ramah pada warga kotaraja Makedonia. “Tenanglah wahai warga kota yang denai muliakan dan yang denai cintai. Kita harus berpikir jernih. Jangan saling bertengkar. Denai Kepala Hulubalang Istana, dan orang yang dipercayai oleh raja untuk mengamankan istana,” berkata demikian laki-laki itu menatap ke arah warga kotaraja. Tiba-tiba ia bersimpuh di panggung. Khat Monx menangis tersedu-sedu. “Denai melihat sendiri, Putri Kandauxia menikam punggung Baginda ratu Druxia. Lalu menikam pula putra mahkota. Hamba memang tidak berdaya karena hamba hanya orang bawahan.”
Di bawah panggung kedengaran suara bergalau.
“Kok begitu jadinya?”
“Mana mungkin!”
“Dan apa pula salah Sorez dan Maximus. Kenapa dia harus ditangkap!”
Sungguh bergalau pendapat warga kotaraja, dan berkecamuk kacaunya pikiran mereka, yang membuat warga tersebut terpecahnya sikap mereka. Mereka terpecah dalam tiga kelompok. Kelompok yang pertama; percaya atas sandiwara Khat Monx, Slanx dan Mongka. Kelompok ini lalu berpindah ke pinggir panggung, tanda setuju dan mendukung Khat Monx. Namun kelompok tengah atau mereka yang bersikap mendua, berdiri di depan panggung. Sementara itu kelompok ketiga, yaitu kelompok pembangkang. Mereka langsung meninggalkan pertemuan tersebut.
Khat Monx, Slanx dan Mongka mencibir pada kelompok pembangkang itu. Tapi Khat Monx dan sekutunya sengaja membiarkan kepergian kelompok tersebut. Hal ini dilakukan oleh Khat Monx untuk melicinkan rencana licik dan jahat  yang ada dalam benak si Siluman Ular itu. Lagi pula kelompok pembangkang tersebut jumlahnya hanya berkisar 200 orang. Artinya kelompok yang berpihak padanya ada sekitar 800 warga – 500 warga setuju total dan 300 orang yang bimbang atau masih bersikap pucuk aru.                                                           

*
Sorak-sorai bersiponggang malam itu di Padangbangkai. Terang benderang kawasan tersebut karena hampir 1000 orang memegang obor di tangan masing-masing. Mereka bersenjata kelewang, golok, parang, tombak dan panah serta senjata tajam lainnya. Mereka adalah orang-orang kena hasutan Khat Monx, sehingga bersedia menyerang Padangbangkai.
Namun di atas bukit Pondok Batu telah menunggu Tuo Batu dan para pengikutnya. Memang jumlah mereka tak seimbang dengan pasukan yang dikerahkan oleh Khat Monx. Jumlah warga Padangbangkai yang menunggu kedatangan pasukan Khat Monx cuma 300 orang.
Seekor burung gagak terusik di sarangnya. Burung itu terbang menjauh seraya berkoak-koak.
Beberapa orang warga Makedonia kurang terbiasa mendengar suara koakan burung gagak tersebut. Bagi mereka suara burung gagak itu adalah lambang suara kematian. Diam-diam ada diantaranya yang berbalik ke belakang. Sementara itu Khat Monx memberi perintah pada Parides agar menyerang Pondok Batu dengan pelanting batu serta panah-panah api.
Dari peralatan pelanting batu beterbangan batu-batu sebesar kepala bayi ke arah Pondok Batu. Hujan batu tersebut dibarengi pula dengan hujan panah api. Bersamaan dengan itu Parides bersorak mengacungkan kelewangnya tanda mereka segera bergerak naik bukit batu. Wajah-wajah beringas dengan senjata teracung bergerak bagai air bah menerjang bukit itu.
Pertempuran tak mungkin dielakkan lagi. Kedua pihak saling berhadapan. Kian lama pertempuran itu semakin seru. Pekik kemarahan dan kesakitan membahana malam itu. Darah mulai mengalir di kawasan Padangbangkai. Dengan gagah berani warga Padangbangkai mempertahankan wilayah mereka, walau pun jumlah mereka sedikit – 300 orang –

Pagi datang lagi.
Kini di Padangbangkai telah sunyi. Mayat-mayat bergelimpangan, baik yang di lapangan terbuka maupun di di atas bukit batu. Bau darah anyir manusia mengundang  burung-burung condor – elang bangkai yang berkepala botak. Burung-burung itu bertengger di atas mayat-mayat, dan mematuknya.
Dalam pada itu, sisa pasukan Khat Monx segera meninggalkan Padangbangkai. Sekarang mereka tinggal 200 orang. Khat Monx terpincang-pincang karena pangkal pahanya terluka. Sedangkan Slanx dan Monka berlumuran darah, sekujur tubuh mereka meniris darah. Parides tangan kanannya buntung ditebas Pedang Jinawi tapi ia berhasil menyelamatkan Khat Monx dari kematian ketika bertarung melawan Tuo Batu.
Sementara itu, melihat banyak korban berjatuhan dipihaknya, Tuo Batu menyuruh warganya menyelamatkan diri ke dalam gua rahasia dalam Pondok Batu.

*

Sudah agak lama juga kita meninggalkan Putri Kandauxia dan ketiga putra. Tentu saja pembaca ingin mengikuti pelayaran mereka mangarungi lautan lepas. Malam itu laut tenang. Putri Kandauxia dan ketiga putranya sedang berada di atas anjungan. Dari sana mereka bebas melihat bintang-bintang bertaburan di langit.
            “Pelayaran ini akan memakan waktu cukup panjang,” kata perempuan itu.
            “Berapa lama kita tiba di Agyp, Mande?” Olif bertanya.
            “Kalau tak ada halangan, mungkin sebulan. Mudah-mudahan laut akan selalu tenang. Justru karena itu kalian harus berdoa.”
            “Ya, saat hendak makan tadi, hamba berdoa. Juga berdoa untuk arwah ayahanda,” tukas Marajo.
            “Syukurlah. Bila kita tiba di Agyp, kita akan bertemu dengan kerabat dan pengikut setia raja. Di sana akan kita bangun hidup baru kembali,” tutur Putri Kandauxia lembut. “Dan kalian harus meneruskan cita-cita Iskandar Zulkarnain.”
            “Mande, apakah orang di negeri Agyp itu akan menerima kedatangan kita dengan ramah. Jangan-jangan mereka, sama perangainya dengan lawan-lawan ayahanda di Makedonia,” tiba-tiba Dipang menukas.
            Tersentak Putri Kandauxia mendengar ucapan Dipang. Kekhawatiran yang dilontarkan oleh bocah berusia sebelas tahunitu, sebenarnya juga menjadi kegalauan pikirannya Sebab selama ini dia belum pernah ke Agyp, dan hubungannya dengan kerabat di sana, boleh dikatakan kurang terjaga. Perempuan itu mengelus rambut, “Anakku Dipang, kita boleh saja khawatir tentang sesuatu. Tapi kekhawatiran tersebut janganlah menjadi beban pikiran kita. Mudah-mudahan kita disambut oleh mereka dengan suka-cita,” ujar Putri Kandauxia bernada datar.
            Dandang panjang itu terus berlayar. Berlayar siang malam. Kini perahu besar tersebut memasuki laut “Tarianmedi”. Konon nama laut tersebut berasal dari suku bangsa Viking, di mana salah seorang dari pelautnya melihat jin laut yang menari di kulit laut. Medi adalah nama lain dari jin. Sejak peristiwa tersebut laut dikenal dengan nama Tarianmedi. Dan dalam perjalanan sejarah maka laut itu lebih dikenal dengan sebutan Meditarian.
            Hari ke lima belas pelayaran dandang panjang, agak terganggu. Malam ketika itu. Langit menghitam. Angin bertiup sangat kencang. Tidak lama kemudian turun hujan deras bagai dicurahkan layaknya. Dandang panjang terombang-ombang bagai sebuah sabut.
            “Layar harus kita gulung,” ujar Putri Kandauxia. Ia menyingsingkan lengan baju hendak turun dari anjungan.
            “Mande di sini saja, biar hamba turun ke bawah menggulung layar itu,” tukas Olif. Sebelum perempuan itu menyahut, bocah laki-laki itu menuruni tangga anjungan. Beberapa saat, ia telah sampai di dek. Tangan kecil Olif bergerak lincah menarik tali layar. Ada enam layar dari tiga tiang di sana. Sementara itu hujan semakin deras.
            Sekonyong-konyong kedengaran bunyi petir. Berkelabat cahaya menghantam tiang utama. Dandang panjang bergoyang keras.
            “Draaakk…Draakkk!”
            Tiang utama patah. Dan patahan itu jatuh ke geladak.
            “Olif!” Perempuan itu memekik.
            Bocah itu melompat. Olif berusaha menghindar dari patahan tiang utama yang jatuh. Dia selamat. Hanya saja, layar utama membungkus tubuh bocah tersebut. Inilah yang membuat Putri Kandauxia memekik cemas. Ia bergegas turun, dan diikuti Dipang serta Marajo.
            Mengetahui Olif selamat, perempuan itu lega. Segera ia memapah Olif kembali ke anjungan. Hujan membasahi sekujur mereka. Sekarang badai mulai mereda. Namun karena tiang utama patah, keseimbangan dandang panjang terganggu. Dandang panjang agak oleng.
           
Pagi telah tiba. Nun di sana tampak garis memanjang.  
            “Mau tidak mau kita harus berlabuh di pulau itu,” ujar Putri Kandauxia. Namun di balik garis tersebut tampak bayangan hitam lainnya. Perempuan itu mengamati bayangan hitam itu dengan seksama. Kian lama semakin jelas, ternyata sebuah kapal besar, jauh lebih besar dan panjang dari dandang panjang. Putri Kandauxia memutar haluan menjauhi kapal tersebut.
            “Mande. Apakah kita urung singgah di pulau itu?”
            “Di pulau itu kita bisa memperbaiki tiang yang patah.”
            “Lagi pula persedian makanan kita sudah menipis, Mande.”
            Putri Kandauxia memberikan teropong pada Dipang. “Kamu lihat sendiri dengan teropong itu,” kata perempuan itu. Dipang mengarahkan teropong itu ke laut lepas. Pertama, ia melihat sebuah pulau. Namun ketika ia melihat kapal besar di sana, ternyata sebuah kapal berbendera dengan gambar tenggorak bertanduk. “Mande, kapal apa itu?”
            “Itu kapal perompak Viking! Agaknya kita harus menghindar dari mereka,” perempuan itu berpikir sejenak. Ia menoleh pada Olif, Dipang dan Marajo. “Walaupun layar pada tiang utama tak berfungsi. Kita masih punya layar yang ada di tiang lainnya. Kalian bertiga segera turun ke bawah, kembangkan kembali layar yang ada,” sambungnya. Ketika ketiga bocah tersebut turun ke lantai bawah, dan melaksanakan perintah Putri Kandauxia, perempuan tersebut memutar haluan agar menjauh dari kapal perompak Viking.
            Sementara itu para perompak di atas kapal melihat dandang panjang. Semula mereka juga hendak singgah ke pulau Silia. Tapi lewat teropong, Torax – Kepala Perompak Viking – melihat dandang panjang.
            Para pelaut dan pedagang amat mengenal Torax. Betapa dia adalah seorang yang sangat kejam. Laki-laki itu mampu membunuh atau membantai lawannya tanpa berkedip. Tidak terhitung berapa banyaknya kapal yang dibajaknya. Emas, perak, dan benda-benda berharga hasil bajakan perompak Viking, kian lama kian bertumpuk. Demikian pula dengan perempuan-perempuan muda dan cantik dijadikan gundik oleh laki-laki tersebut. Bagi yang coba-coba melawan Torax, maka laki-laki tersebut tak segan-segan membunuhnya, hukuman yang paling ringan karena membangkang jadi pemuas nafsu setannya adalah dijadikan budak. Laki-laki itu memang beraja di hati, bersutan di mata, berotak pada buku tangan.
Torax memanggil Cartago. Laki-laki itu bermata satu, mata kirinya ditutupi kulit. Akan tetapi ia merupakan orang kepercayaan Torax. Torax memberikan teropong pada Cartago,”Kamu lihat, di sana ada sebuah perahu besar.”
            “Benar tuan,”ujar Cartago seraya mengarahkan teropong ke arah dandang panjang. “Memang sudah lama kita tidak mendapat mangsa,” sambung laki-laki celek itu. Ketika Torax menepuk bahunya seraya ketawa keras, Cartago pun ikut ketawa.
            “Jangan tunggu lagi. Arahkan kapal ini ke sana. Perintahkan semua awak kapal bersiaga. Beri tembakan peringatan!” Torax berkata lantang.
            Segera Cartago turun ke dek. Ia berikan perintah. Semua awak kapal siaga, mereka siaga dengan senjata. Selang beberapa saat kedengaran letusan meriam.
            Dandang Panjang bergoyang.
            “Mande, mereka menembak kita!”
            “Cepat naik ke anjungan!”
            Ketiga bocah tersebut bergegas naik ke anjungan.
            “Kalian takut?”
            Ketiga bocah itu saling berpegangan tangan, mereka menatap Putri Kandauxia dengan mata berbinar. “Rasa takut kami telah hapus sejak berangkat dari Makedonia. Apa pun yang terjadi, kami akan selalu bersama mande,” ujar Olif. Sedangkan Dipang dan Marajo mengangguk sebagai tanda perasaan mereka sama dengan Olif.
            Sementara itu dandang panjang terus dihujani tembakan meriam dari kapal perompak Viking. Lambung kanan dandang panjang tersebut mulai bocor, air masuk ke dek – mengenang air di sana- Pun tong-tong persedian air yang bersusun di dek pun bocor, tirisan air minum itu semakin menambah debit air dalam dandang panjang. Pun tiang-tiang layar berjatuhan. Dan tiang utama yang semula telah patah, kini kena tembakan meriam – roboh – menghempas ke lantai dandang. Semakin parah dandang panjang itu. Dandang panjang kian tak stabil, oleng ke kiri dan kanan.
            “Kalian tinggalkan dandang ini. Sebentar lagi dandang ini karam!” teriak Putri Kandauxia.
            “Kami akan tetap bersama mande.”
            “Kami tidak akan meninggalkan mande.”
            “Kita lawan mereka sampai titik darah penghabisan.”
            Terenyuh hati Putri Kandauxia mendengar ucapan ketiga putranya itu. Tanpa disadarinya, air mata perempuan tersebut mengenang di pelupuk mata. Perempuan itu bangga bercampur haru akan sikap ketiga anaknya itu. Dalam pada itu, kedengaran sorak-sorai – riuh rendah- bagai orang berburu di tengah padang.
            Ternyata sorak-sorai itu berasal dari perompak-perompak laut yang naik sekoci, mereka telah mendekati lambung dandang panjang. Ada dua belas sekoci merapat ke dinding dandang panjang. Mereka dengan sigap melontarkan tali-tali berkait, yang kemudian melekat pada bandul dandang panjang.
            “Cihuiiii!”
            “Oohaaaa!”
            “Mari kita berpesta pora!”
            Bagai monyet-monyet para perompak tersebut bergelantungan pada tali. Dalam sekejap mereka telah berada di atas dek. Beragam senjata mereka, ada yang bersenjata kapak, ada pula kelewang, pun ada juga tombak dan gada. Wajah mereka beringas. Haus akan darah!
            Sebaliknya, Putri Kandauxia tak memiliki senjata. Apalagi ketiga putra raja. Satu-satunya senjata yang dimiliki oleh Putri Kandauxia adalah belati kecil. Perempuan itu menatap ke arah para perompak yang mulai naik ke anjungan.
            Olif, Dipang dan Marajo melempar mereka dengan buah-buahan. Berhamburan buah apel, anggur dan telur ke arah perompak-perompak berkopiah tanduk tersebut. Tentu saja mereka tidak cedera oleh benda-benda yang dilemparkan oleh ketiga bocah itu. Mereka ketawa terbahak-bahak. Ada yang menangkap buah apel atau anggur, lalu mengunyahnya. Bahkan telur pecah yang dilemparkan bocah tersebut, mereka jilat. Lalu ketawa.
            Torax menatap dalam-dalam ke arah Putri Kandauxia. Dia melihat kalung emas dengan bandulan permata biru. Indah sekali kalung itu berada di leher perempuan itu, gumam laki-laki itu. “Pasti ia bukan perempuan biasa,” Torax bermain dengan perasaannya. “Hai perempuan cantik. Siapakah gerangan engkau?”
            Di kuping para anak buah Torax, nada dan pertanyaan seperti itu sungguh jarang kedengaran diucapkan oleh Kepala Perompak itu. Lalu mereka ketawa terkekeh-kekeh.
            Torax mengerling pada Cartago. Ia juga ketawa. “Kalian ketawa. Apa ada yang aneh?”
            “Ucapan tuan sungguh mesra. Sehingga mereka ketawa senang,” tukas Cartago.
            Lagi-lagi Torax ketawa. Tapi ketawa biasa. Kemudian melangkah pada Putri Kandauxia. Ketika perempuan itu mengacungkan belati, Torax menunda langkahnya.
            “Jika tuan maju selangkah lagi. Denai akan membunuh tuan,” ancam Puti Kandauxia.
            “Begitukah?”
            “Ya.”
            Tak terduga gerakan Torax, ia cepat bahkan lebih cepat dari kilat, tangannya berhasil merebut belati dalam genggaman perempuan itu. Bahkan Putri Kandauxia kin berada dalam pelukan laki-laki itu. “He…he…he. Kamu memang cantik,” ujar Torax seraya mendekatkan wajahnya ke wajah Putri Kandauxia.
            Aroma nafas Torax berbau apak.
            Puti Kandauxia mau muntah. Ia ludahi wajah Torax!
            Torax terpingkal-pingkal. Saat itu melesat tiga bayangan, mereka adalah Olif, Dipang dan Marajo. Serentak ketiga bocah tersebut menghantamkan pentungan ke kepala laki-laki itu. Torax meringis sejenak. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, kedengaran bunyi berderak-derak.
            “Lemparkan mereka ke laut!” Torak memekik memberi perintah.
            Serta-merta tiga orang bajak laut meringkus ketiga anak raja itu. Lalu seperti perintah Torax, tiga bajak laut itu melemparkan tiga bocah itu ke laut.
            “Bajingan kalian. Kalian bunuh anak denai,” Putri Kandauxia memaki. Tapi ia tidak berdaya sama sekali, lengannya dicekal erat Torax. Perempuan itu mendengar kecipak-kecipak di laut. Dalam pikirannya terbayang ketiga putra raja itu tenggelam ke dasar laut. Lalu ikan-ikan buas segera menyantap mereka. “Tuan telah membunuh tiga putra Iskandar Zulkarnain,” ujar perempuan itu sendu.
            Torax mengerling pada Cartago. Lalu pada La Memec, dan Jorik serta awak kapal yang lainnya. “Cartago, jadi kita telah membunuh putra Alexander the Great. Ho…ho…ho!”
            “Jika demikian, perempuan ini adalah selir kesayangan raja. Menurut berita hanya Putri Kandauxia dan ketiga putra selamat dari pembantaian,” Cartago mendekati Putri Kandauxia. Laki-laki celek itu mengamati Kaudauxia dari ujung rambut sampai ujung kaki. “Melihat perhiasan yang dipakainya, perempuan ini memang selir kesayangan Alexander,” tukas Cartago kemudian.
            “Kalau kalian sudah sadar. Lepaskan denai. Dan selamatkan ketiga anak raja yang kalian lemparkan ke laut.”
            Torax ketawa.
            Cartago dan La Memec. “Permintaanmu sia-sia, wahai selir raja. Kami perompak Viking tak pernah menarik kembali apa yang telah kami lakukan. Tapi demi menghormati Alexander. Kuserahkan keputusannya pada pemimpin kami, yaitu tuan Torax.” Cartago membungkuk pada Torax.
            Tiba-tiba sesorang berteriak. “Tuan, salah seorang dari bocah itu tersangkut di jala lambung!” Perompak itu menarik lengan seorang bocah. Dia adalah Olif. La Memec menarik lengan Olif dan menyerahkan ke hadapan Torax. Menggeliat sejenak bocah itu, dan perlahan-lahan ia membuka matanya. Ia menatap laki-laki di samping mandenya.
            “Olif….”
            Bocah itu bimbang mendekati mandenya, ia berdiri pada jarak tertentu – tidak begitu jauh tapi juga tak begitu dekat.
            Torax mengamati Olif. Ada semacam pikiran lain dalam benak laki-laki tersebut. Lantas ia menulusuri sekujur tubuh Putri Kandauxia.“Keputusanku adalah; selir raja ini jadi selirku. Dan bocah ini jadi putraku juga,” ujar Torax seketika.
            “Tidak! Denai rela mati dari pada jadi selirmu.”
            “Hmmm. Begitukah?”
            “Ya.”
            Torax menatap lekat-lekat pada Putri Kandauxia, pandangannya seakan-akan hendak melumat perempuan itu mentah-mentah. “Kalau begitu, kau dan putramu akan jadi budak!” Setelah itu Torax turun dari dandang panjang, sedangkan Cartago memberi isyarat kepada anak buahnya agar kedua tawanan itu naik ke sekoci.

**

Kata asing;

Dilapua ayam batino, kiasan untuk lelaki yang dipecundangi perempuan

Bengak; bodoh

Waang: kamu, engkau – kata ganti orang kedua
Denai; saya, aku – di Minangkabau ucapan denai lazim dipakai oleh kaum bangsawan
Dandang; kapal   



BERSAMBUNG
Catatan
Bagi sidang pembaca yang tertarik untuk menerbitkan Novel ini yang terdiri dari 15 bab dapat menghubungi penulis Amran SN di Hp. 081266880894.

Kamis, 12 Januari 2012

KECAPI NAGA (14)


14
“GRRRR…!”

Sepertu dugaan Nago Salapan, gadis yang berbonceng dengan lelaki tersebut memang Nadia. Lelaki itu, Mori. Mereka baru saja kembali dari rumah kost Sarah.
Tadi siang mereka berlatih di Taman Budaya. Setelah selesai berlatih, Nadia terperanjat, kalungnya hilang. “Kalung saya hilang, Sarah,” ujarnya.
“Tadi saya masih melihat kalung itu di lehermu,” sahut Sarah.
Termangu Nadia. Kalung itu berbandul dua mustika. Satu mustika air dan sebuah lagi mustika kayu. Dia berusaha mencari kalung tersebut di sekitar ruangan latihan. Namun sudah demikian mencari kalung tersebut tetap saja tak ketemu.
“Atau tercecer di rumah Sarah,” ujar Mori.
“Saya kurang tahu juga. Sebaiknya kita ke rumah kost saya,” usul Sarah.
Sampai di rumah kost Sarah, mereka langsung mencari. Mereka membalik karpet di ruang tamu. Lalu membuka laci buffet, lemari pakaian. Hasilnya sia-sia saja.
Mengeluh Nadia duduk di pinggir ranjang Sarah dalam kamar itu. “Saya sungguh tak mengerti di mana kalung itu tercecer. Aduh…gimana ini, “ gadis itu menepuk dahinya sendiri.
Sarah bersimpuh di lantai. Ia juga gelisah. “Atau kalung itu tertinggal di rumahmu,” ujar Sarah.
Nadia menggeleng. “Tidak mungkin, saat saya latihan kalung itu mengantung di leher ini.”
“Lalu ke mana mengirapnya?”
Nadia menarik nafas dan menghembuskan lepas-lepas. Ia tampak sedih. Bandulan kalung tersebut terdiri dari dua mustika. Mustika yang sangat langka. Dan amat berarti bagi saya.”
“Ya, saya juga melihat.”
“Andaikata jatuh ke tangan orang lain, terutama bagi mereka mengetahui kemukjizatan benda tersebut. Bila benda itu digunakan untuk maksud jahat. Maka habislah dunia ini.”
“Atau kita kembali ke Tabud (Taman Budaya),” ajak Sarah.
Terpaku sejenak Nadia.
“Ayo, “ Sarah menarik lengan Nadia.
“Tidak usah. Kamu sudah cape. Istirahatlah.”
“Jangan kamu pikirkan soal itu. Mari saya antar lagi ke Tabud.”
Sebelum Nadia menjawab, tiba-tiba kedengaran suara motor di halaman. Ternyata yang datang Mori.
“Ada apa, Bang,” sapa Sarah.
“Saya baru ingat.”
“Ya, apa Abang menemukan?”
“Bukan. Tapi saya melihat kaluing itu dipegang oleh Icha. Ia mempermainkan di tangannya. Kebetulan ia tidak ikut menari.”
“Icha itu siapa?”
“Dia anggota baru. Tapi saya tahu tempat tinggalnya,” Mori menjelaskan. “Biar saya antar kamu ke sana.”
Nadia berdebar-debar. Segera saja mereka berangkat ke rumah Icha di Lubuk Buaya. Akan tetapi sampai di Lubuk Buaya, mereka kecewa. Ternyata telah berangkat. “Gadis itu memang tinggal di sini. Dia baru seminggu di sini. Icha menyewa pavilyun, ” tutur pemilik rumah.
“Ke mana dia. Apa ada pesan ke mana perginya?”
“Wah, soal itu saya kurang tahu. Sore tadi ia tampak mengemasi barang-barangnya. Padahal pavilyun itu dikontraknya untuk setahun. Sudah ia bayar lunas. Ketika ia berangkat, ia beri pula kami hadiah,” ujar istri pemilik rumah yang mendampingi suaminya.
Nadia menggigit bibir kesal. Tiba-tiba Nadia ingat sesuatu, dan bertanya pada pemilik rumah. “Apakah gadis itu gelang di kedua belah tangannya?”
“Oya. Tampaknya gadis itu dari keluarga berada juga. Ia cantik dan suka memakai perhiasan. Sepasang lengannya dipenuhi gelang emas, sampai ke siku. Saat ia berjalan kedengaran bunyi gemerincing.” Suami istri itu saling berpandangan.
Nadia sudah menduga, siapa gadis tersebut. Pastilah dia Puti Galang Banyak atau Olivia.  “Nama gadis itu bukan Icha,” kata Nadia mengerling pada Mori.
“Dia, Puti Galang Banyak. Jelaslah ia mengenal benda tersebut. Sebaiknya kita tinggalkan tempat ini. Sia-sia menunggu di sini. Ia tahu bahwa saya akan mencari dia.”

*

Tiba di Sungailareh Nadia langsung masuk kamar. Bu Darmi, ibu angkat Nadia hanya menggeleng kepala melihat wajah cemberut gadis itu. Biasanya, perempuan itu bertanya setelah Nadia keluar kamar.
Nadia melonjorkan kakinya lurus-lurus di ranjang. Ia hembuskan nafas berkali-kali untuk menghilangkan stres. Kesal bukan main Nadia, menyesali ketidak-waspadaannya. Kurang awas dia!
Senja telah berlalu. Malam mulai beranjak perlahan tapi pasti. Puti Rinjani khawatir . “Jelaslah Puti Galang Banyak segera terbang ke Jakarta menyerahkan kedua mustika tersebut pada Kati Muno. Dan selanjutnya Anurangga dan Kati Muno akan memporak-berandakan dunia. Mungkinkah itu yang harus diterima?”
Gadis itu menangkupkan wajahnya ke bantal.  Ia ingin menyembunyikanrasa khawatir itu  Dengan bersatunya lima mustika tersebut maka Kati Muno sukar ditandingi.

**

Sementara itu Puti Galang Banyak malam tersebut telah tiba di bungalow Anurangga. Ia disambut Silangkaneh begitu memasuki ruang tamu. “Tuanku mencemaskan keselamatan Rangkayo Permaisuri,“ kata lelaki banci itu seraya menenteng tas yang dibawa Puti Galang Banyak
“Mana kanda Anurangga?”
“Tuanku bersama Guru di atas.”
Tersenyum lebar Anurangga melihat kedatangan perempuan itu. Lelaki tersebut bangkit dari sofa dan memeluk Olivia. “Denai merindukan kamu,” desahnya seraya mencium kening permaisurinya itu.
“Mana mustika itu?” Kati Muno tanpa basi langsung bertanya.
Olivia membuka jaketnya, menyampirkan di sofa. “Agaknya Guru sudah tak sabar lagi,” tukas perempuan itu. Ia menggamit Slang. “Sini tas itu Slang!”
Slang memberikan tas yang dibawanya pada Puti Galang Banyak. Puti Galang Banyak atau Olivia membuka tas tersebut. Cahaya membersit di ruangan tersebut ketika ia memperlihatkan kalung berbandul dua mustika itu.
“Sungguh berat perjuangan saya merebut mustika ini. Saya terpaksa menjelma menjadi seorang gadis. Icha nama gadis itu. Sosok itu tidak dikenal oleh Puti Rinjani dan Nago Salapan.”
“Syukurlah penyamaranmu tak ketahuan,” tukas Anurangga. Raja muda tersebut takjub melihat cahaya membersit yang keluar dari dua mustika tersebut.
“Rangkayo permaisuri memang ahli soal samar menyamar,” sela Silangkaneh.
Kati Muno mangut-mangut. Lelaki itu berdecak kagum. Kagum akan kepiawaian Puti Galang Banyak merubah sosoknya. Itulah ilmu “Seribu Wajah” yang diwariskannya kepada perempuan tersebut.
Setelah menatap Puti Galang Banyak, Anurangga dan Silangkaneh silih berganti, Kati Muno mengeluarkan tiga mustika yang lainnya. Mustika itu adalah mustika angin, mustika api, dan mustika tanah. Ruangan itu semakin bercahaya.
Olivia mengerling pada Anurangga. Anurangga mengangguk tanda setuju. Tanda Puti Galang Banyak tiba-tiba ketawa berderai. Dada gempal perempuan itu yang kelihatan bagai sepasang bukit kecil tersebut beguncang-guncang.    
Anurangga heran. Lelaki itu heran kenapa tiba-tiba permaisuri tersebut ketawa seperti itu. Apakah ia tidak menghormati suaminya dan Kati Muno?
“Anak manis. Kenapa kamu. Apa ada yang lucu?”
“Tidak…”
“Lalu?”
Sekali lagi Olivia mengerling pada Anurangga. “Saya tahu bila kelima mustika alam ini disatukan. Maka kesaktian Guru akan sempurna. Di dunia ini, Guru tak akan ada tandingannya.”
“Kati Muno ketawa lebar. “Nah, apa yang kamu tunggu. Mari denai satukan lima mustika itu!”
“Saya mengajukan syarat!” Tiba-tiba Puti Galang Banyak berkata.
Terperanjat bukan main Anurangga. Ia tidak menyangka Puti Galang Banyak melontarkan kata-kata itu. Etah setan apa yang memasuki pikiran perempuan itu sehingga dia mengajukan syarat. Syarat macam apa itu? Anurangga menunggu.
Sementara itu Slang yang dikenal mempunyai kemampuan berkelit berkilah dan bersilat lidah, pun tidak kuasa membaca maksud Puti Galang Banyak. Kenapa sang permaisuri tersebut mengajukan syarat.
“Kamu mengajukan syarat? “ Kati Muno kaget sesaat. Kemudian ia menatap Anurangga. Lalu menatap Silangkaneh. Akhirnya menukikan pandangan pada Puti Galang Banyak. “Apakah diantara kita tidak saling mempercayai lagi. Bukankah denai kembali ke dunia fana ini adalah untuk membantu cita-cita kalian? “
Olivia mengerling pada Anurangga. “Percayakah kanda, jika Guru Kati Muno menggabungkan lima Mustika Alam jadi satu. Dan dia akan menguasai bumi ini. Apakah Guru akan menjadi sekutunya? Jangan-jangan dia akan menghabisi kita.”
Dada Kati Muno turun naik menahan amarah. Ia tiba-tiba ketawa lebar. Setelah puas ketawa, ia melotot. Mata lelaki itu mencorong tajam.
Anurangga tidak berani menantang. Ia lebih suka memandang ke sudut lain.
Slang menjatuhkan pandangan ke lantai.
Olivia menyambut tatapan mata Kati Muno yang garang itu. Mata perempuan tersebut perih alang kepalang.
“Jadi kamu khawatir denai akan berkhianat. Baiklah…Ajukanlah syaratmu itu!”
Puti Galang Banyak tersenyum. Senyum penuh kemenangan. “Baik guru. Dengarlah!”
Kati Muno mendengus.
“Pertama, guru harus mengakui kanda Anurangga sebagai raja Pagaruyung yang berdaulat penuh.”
Lelaki itu mengangguk.
Wajah Anurangga tampak cerah.
“Kedua, saya adalah permaisuri raja Pagaruyung. Dan guru harus mengakuinya!”
Kati Muno mengerling pada Anurangga. Tampak Anurangga mengangguk tanda setuju. “Syarat pertama dan kedua denai terima. Demi bumi dan langit denai junjung syarat tersebut. Lalu apa syarat ketiga?”
“Syarat ketiga adalah syarat yang paling berat dan penting dari sebelumnya.”
“Katakanlah.”
“Guru siap mendengarnya?”
“Mmm…”
“Tidak akan menolak syarat ini?”
“Tidak!”
Puti Galang Banyak melempar senyum pada Anurangga. Ia mengangkat dagu tinggi sehingga tampak angkuh. “Inilah syarat ketiga itu. Saya permaisuri raja Pagaruyung  dengan ini menyatakan bahwa setiap langkah guru dan raja harus mendapat restu dari saya!”
Terhenyak Anurangga.
Slang merinding mendengar pernyataan tersebut.
Rahang Kati muno bergerak kencang. Darah lelaki tersebut mendndih. “Perempuan ini semakin cerdik. Dan sangat licik,” gumam Kati Muno. Ingin dia membakar perempuan tersebut dengan sorotan matanya. Tapi niat itu dia batalkan. “Baiklah. Semua syarat yang kamu ajukan denai terima!”
“Guru…”
“Denai harap Baginda raja tidak membantah.”
Renyah ketawa Puti Galang Banyak penuh kemenangan. Ia bangkit sambil berpangku tangan. Gaya perempuan itu sungguh pongah di hadapan lelaki tersebut. “Perlu diketahui bahwa Guru dan yang mendengarnya terikat pada janji itu. Jika Guru dan yang mendengarnya mungkir maka akan tumbuh bisul di tubuh setiap hari. Dan sembuhnya satu dalam setahun!”
Petir menggelegar. Kilauan cahayanya masuk ke dalam ruangan.
“Ya,” sahut Kati Muno.
Puti Galang Banyak mendekati Kati Muno. Bibirnya yang merah itu merekah basah. Ia angsur mustika air dan mustika kayu ke tangan Kati Muno.
Muncul dahaga birahi dalam pikiran lelaki itu. Ia berniat merengkuh pinggang perempuan itu, dan melumat bibir tersebut. Namun ia lebih memilih mengambil kedua mustika itu. Kemudian tanpa membuang waktu, kati muno mempersatukan kelima mustika tersebut.
Tiba-tiba kedengaran suara mendengung-dengung.
Petir menggelegar sambung bersambung.
Kati Muno menggenggam erat kelima Mustika Alam tersebut. Bergetar lengan lelaki itu diguncang mustika itu. Mustika tersebut seakan-akan berontak dari genggaman Kati Muno.
Kedengaran bunyi mendesis-desis. Raungan aneh membahana. Ketawa ramai kedengaran nyaring bagai ringkik kuntilanak. Lalu bunyi genderang perang bertalu-talu. Puput salung dan talempong mendayu-dayu, dan melengking tinggi. Semuanya bercampur aduk.
Ruangan itu jadi hingar bingar. Bergoyang bagai diguncang gempa hebat. Angin berputar di luar sana. Anurangga terlempar ke sudut itu. Sedangkan Silangkaneh mengelosor ke bawah meja. Meja itu menghantam punggung banci tersebut.
“Grrrrrhhh!”
Tubuh Kati Muno bergetar hebat. Rambut lelaki itu mencuat. Kelihatan ular-ular kecil  di atas kepala Kati Muno. Rambutnya berubah jadi ular kecil yang bergerak mencuat.
Sekonyong-konyong di ruangan tersebut tampak sosok ular raksana. Itulah bentuk asl Kati Muno. Cahaya biru membungkus ular raksana tersebut. Berderai bagai manik jatuh ke lantai sisik-sisik Kati Muno.
“Grrrrrrh!”
Cahaya biru membungkus ular raksasa jelmaan Kati Muno.
Anurangga ternganga-ngaga.
Puti Galang Banyak mendekat Anurangga.
Slang berusaha keluar dari runtuhan meja.
“Owaaaaa!”
Bagai roket meluncur, Kati Muno meluncur naik ke atas, ubun-ubunnya menghantam loteng. Berderai dan beserpihan loteng tersebut. Tubuh Kati Muno seperti kehikangan kendali, ia melayang membentur dinding. Menghantam apa saja yang menghalanginya. Ia kini melayang jauh keluar sana!
Penduduk di sekitar sana terbangun dari tidur lelap.
Kang...Akang. Bangun!”
“Ada apa. Akang udah cape.”
“Gempa. Rumah kita akan roboh!”
Lelaki itu terbangun. Ia melompat dari ranjang, terhuyung-huyung. Istrinya telah duluan keluar seraya menggendong sesuatu. Nun di sana, perempuan itu melihat api membakar hutan.
“Bukan gempa tapi kebakaran,” gumam perempuan itu.
Lelaki itu mengomel seraya menarik lengan istrinya. “Tunggu Kang. Nanti si Otong terbangun,” ujar perempuan itu. Tapi ketika melihat gendongannya, ternyata sebuah bantal guling. Tadi ketika ia terbangun ia merasakan gempa. Karena itu dia cepat keluar dan menyambar bantal guling yang dikiranya bayi.
Kebakaran hebat itu terjadi karena Kati Muno meluncur bagai roket dan jatuh di hutan belantara. Api yang menyelimuti tubuh Kati Muno terus melalap hutan belantara. Itulah proses kesempurnaan kesaktian lelaki tersebut !

SAMPAI JUMPA


** Kati Muno digambarkan sebagai tokoh jahat (ular raksasa) sezaman Datuk Perpatih Nan Sebatang. Tokoh ini dibunuh oleh Datuk Perpatih Nan Sebatang.