Selasa, 10 Januari 2012

TAMBO DAN SEJARAH KEBUDAYAAN MINANGKABAU

1


Asal-Usul

By: AMRAN SN
            Menurut sejarah, rombongan pertama yang datang ke Minangkabau, ialah suku bangsa Austronesia, yang datang secara bertahap dari daratan Asia Tenggara. Mereka adalah pendukung kebudayaan neolithicum, yaitu manusia zaman batu baru. Bekas peninggalannya terdapat di beberapa gua di Jambi Hulu dan di sekitar danau Kerinci, berupa alat perkakas dari batu, seperti mata tombak, pisau dan lain-lainnya. Awal perpindahan tersebut diduga sekitar tahun 2000 SM.
            Gelombang demi gelombang perpindahan suku-suku bangsa itu terus berlanjut dari daratan Asia Tenggara sambil membawa kebuadayaan asalnya, ditandai dengan penemuan benda perunggu dan besi, seperti kapak upacara dan mekara yang besar dengan lukisan yang ada hubungannya dengan kebudayaan Dong-son. Diperkirakan gelombang-gelombang perpindahan tersebut berlangsung sampai 900 SM. Bejana yang ditemukan di Kerinci berbentuk spiral. Sementara itu yang ditemukan di Bangkinang berupa arca-arca kecil dan benda lainnya, yang belum diketahui kegunaannya.
            Nenek moyang suku bangsa Minangkabau, yang mempunyai sifat mengembara, maka dalam melakukan pelayaran, mereka menggunakan perahu bercadik dan berkemudi ganda di kedua sisi bagian belakang sebagai sebuah perahu khas dari suku-suku bangsa Asia Tenggara. Dengan berani mereka berlayar mengarungi lautan. Mereka berlayar ke timur hingga ke Oceania di Pasifik dan ke barat sampai ke Madagaskar. Konon gelombang perantauan perahu-perahu dari Sumatra itu telah banyak mempengaruhi kebudayaan dan bahasa Madagaskar. Tersebut berita bahwa telah terjadi pertemuan antara pelaut Sumatra dengan pelaut Finisia di masa Nabi Sulaiman (950 SM). Dari pertemuan tersebut maka gunung Ophir yang terletak di Minangkabau, terkenal sebagai tambang emas (seperti diceritakan dalam Injil)
            Sampai abad ke 4 SM, tentang suku-suku bangsa yang mendiami pulau Sumatra masih kabur. Ketika Anesecritus berada di India, yang ikut rombongan Iskandar Zulkarnain (536-323 SM), ia telah menemukan perahu-perahu dari Sumatra yang singgah dan berlayar secara teratur di negeri itu. (*5)
            Cladius Ptomoleus mencantumkan dalam petanya nama Malai-Colon, yang berlokasi di ujung tanah Semenanjung. Diperkirakan masa itu adalah awal abad ke 1, namaMelayu telah dikenal orang. Namun belum ada berita; apakah Melayu itu merupakan suatu suku bangsa. Catatan sejarah lebih menjelaskan nama Suwarnadwipa. Pada abad ke 5 M di Sumatra dijumpai kerajaan Kuntala atau Kuntoli. Kerajaan tersebut diberitakan didirikan oleh para penganut Budha dari Gandara di India Selatan. Kemungkinan mereka datang seabad sebelumnya karena tertarik akan banyaknya emas di pulau tersebut. Tahun 441 M, kerajaan tersebut telah kuat dan segera mengirim utusan ke Cina. Pengiriman utusan tersebut dilakukan secara berkesinambungan sampai tahun 520 M. Konon pusat kerajaan Kuntala berada di Kuala Tungkal dekat perbatasan Jambi dan Riau.
            Walaupun diperkirakan kerajaan pertama di Sumatra tersebut adalah Kuntala, menurut catatan sejarah. Akan tetapi para ahli sejarah saling berbeda pendapat untuk menetapkan lokasinya. Kuntala diidentifikasikan sebagai Kandali yang menurut dialek Cina disebut Kantali. Berdasarkan berita Cina, yang mengatakan bahwa kerajaan tersebut telah mengirim utusan ke Cina pada tahun 441 sampai 520. Maka para ahli sejarah mencoba mencari lokasi kerajaan itu. Antara lain: di Muangthai karena di sana ditemui tempat yang bernama Kantoli. Dan pula yang mengatakan lokasinya, di Aceh timur, suatu tempat yang sekarang bernama Singkil.
            San-fo-tsi memberitakan bahwa kerajaan Kuntala tersebut berada di Tambesi. Maksudnya adalah Sriwijaya, yang berkedudukan di Palembang. Sedangkan Slametmulyana berpendapat bahwa lokasinya memang di Kuala Tungkal sekarang. Menurut dia Kuntala bermula berasal dari Gandhara, sebuah tempat di India. Kemudian para biksu Budha datang ke sana, dan mendirikan kerajaan dengan nama negeri asalnya. Hal tersebut sama dengan biksu Budha yang datang dari Mahat di India. Lalu memberi nama negeri yang didatanginya itu dengan nama negeri asalnya, pada pemukimannya  dekat candi Muara Takus di tepi sungai Kampar. Dan apakah kerajaan Kuntala ini, sama dengan Darmasraya, yang juga diberitakan sebagai kerajaan Melayu tertua. Tampak para sejarahwan belum dapat menjelaskan dengan pasti. Kendati pun lokasinya kedua kerajaan ini menunjukan kesamaan.
           
Sekitar abad ke 8 kerajaan Melayu (yang semula bernama Kuntala) mulai jaya, dan lebih dikenal dengan nama Sriwijaya. Sriwijaya pada masa kejayaan telah menguasai seluruh Sumatra, Semenanjung, Jawa, Kalimantan. Kerajaan Sriwijaya pun dikenal dengan nama Suwarnabhumi dengan pusat kerajaannya di Jambi sekarang.
Dikisahkan dalam Tambo bahwa nenek moyang suku bangsa Minangkabau, berangkat dari tanah asalnya, daratan Asia menuju pulau Andalas. Keberangkatan tersebut dipimpin oleh Maharaja Diraja, putra ketiga dari Iskandar Zulkarnain. Iskandar Zulkarnain adalah Raja Yunani disebutkan dalam tambo mempunyai tiga orang putra. Putranya yang pertama, yaitu Maharaja Alif yang turun ke negeri Ruhum (Rum Timur), dan putra kedua adalah Mahaja Depang, turun ke negeri Cina, sedangkan yang ketiga adalah Mahara Diraja turun ke pulau Paco (Perca) atau lebih dikenal dengan nama pulau Andalas.
            Maharaja Diraja berangkat menuju pulau Andalas dengan membawa rombongan, rombongan tersebut adalah istri dan para pengikutnya. Tambo mengisahkan rombongan tersebut, yaitu: 1. Anak Rajo. 2. Harimau Campo. 3. Kucing Siam 4. Kambing Hutan. 5. Anjing Mualim. Harimau Campo adalah berasal dari Campo. Dan Kucing Siam, berasal dari Kochin Siam, Kambing Hutan dari Bhutan. Sementara itu Anjing Mualim berasal dari negeri Cina.
Penamaan para pengikut Maharaja Diraja sesuai dengan tingkah laku dan asal mereka. Khusus nama Anjing Mualim, saya sebagai penulis menafsirkan, nama tersebut adalah perubahan dari dialek (ucapan). Sebenarnya ia bernama An Jian yang bertugas sebagai mualim atau nakhoda kapal dalam pelayaran besar tersebut. Tapi ada juga penulis lainnya yang menyebutkan An Jian itu seorang mualim (nakhoda) atau seorang ulama. Sedangkan keempat orang tersebut: Harimau Campo, Kucing Siam, Kambing Hutan, dan Anjing Mualim, adalah istri-istri raja.
            Dalam pelayarannya dari daratan Asia itu, Maharajo Dirajo melintasi lautan, yang memakan waktu berbulan-bulan. Dan seperti disebutkan dalam mamangan, “Lauik sati, rantau batuah” (Laut sakti, rantau bertuah), maka dalam pelayaran melintasi lautan tersebut, rombongan itu pun mendapat halangan. Pada suatu hari mereka kapal yang mereka tompangi dihantam badai topan. Kapal itu terombang-ambing di tengah samudera luas bagai sebuah sabut kering di tengah gelombang besar. Banyak penumpang yang mabuk, terhempas ke sana-sini mengikuti ayunan gelombang, tiang kapal patah. Sehingga kapal tersebut semakin oleng. Melihat keadaan seperti itu, segera Maharaja Diraja bersama beberapa orang pembantunya turun ke dek.
            Gelombang semakin besar, air laut muncrat ke atas kapal. Dan tiba-tiba mahkota di atas kepala Maharaja Diraja jatuh ke laut. Mahkota itu melayang jatuh dan akhirnya tenggelam ke dasar laut. Bersamaan dengan itu, seekor naga yang bersarang dalam samudera tersebut menerkamnya, dan menaruh di kepalanya.
            Terperangah Maharaja Diraja, ia sangat bersedih akan kehilangan mahkotanya. Mahkota adalah lambang statusnya sebagai seorang raja. Ia tidak mungkin melanjutkan perjalanan tanpa mahkota tersebut. Ia menoleh pada Cati Bilang Pandai, seorang pembantunya yang dikenal memiliki kesaktian dan ilmu pengetahuan yang luas.(*6)
            “Kita tidak mungkin melanjutkan pelayaran, sebelum mahkota itu diambil,” kata Maharaja Diraja pada Cati Bilang Pandai. “Tapi mahkota itu kini berada di atas kepala naga yang berdiam dalam samudera.”
            “Tuanku jangan cemas. Mahkota itu bisa kita buat kembali.”
            “Membuat mahkota itu kembali? Mustahil kita bisa membuat mahkota tersebut. Apalagi kita sedang diamuk gelombang. Pandai besi dan emas mana yang mampu membuat mahkota dalam keadaan darurat seperti ini,” ujar Maharaja Diraja putus asa.
            Cati Bilang Pandai tiba-tiba mengeluarkan sebuah benda dalam jubahnya. Benda itu adalah sebuah cermin. Ketika benda tersebut diacungkan Cati Bilang Pandai ke angkasa, badai dan gelombang berhenti. “Tuanku, benda ini adalah pusaka nenek moyangku. Namanya, Kaca Camin Taruih.”
            “Kaca Camin Taruih…Apa benda itu dapat mengganti mahkota denai yang jatuh ke dasar laut itu. Atau bisa mengambilnya dari kepala naga tersebut?”
            Cati Bilang Pandai tidak menjawab ucapan Maharaja Diraja. Ia segera melangkah ke pinggir dek, bertelekan pada kisi-kisi, dan memandang ke laut sejenak. Kemudian menghadapkan Kaca Camin Taruih ke dalam laut. Dari benda itu memancarkan seberkas sinar, yang memantul kembali ke dalam cermin.
            Maharaja Diraja dan beberapa orang yang ada di dek itu terpana. Betapa dalam kaca tersebut terlihat seekor naga yang sedang memakai mahkota milik Maharaja Diraja. Pancaran sinar dari kaca ajaib itu menarik mahkota yang ada pada kepala naga, bagai sebuah magnit yang berkuatan besar. Sang naga dalam samudera tidak mampu menahannya, mahkota tersebut terangkat ke atas kapal, dan secara mengejutkan, hinggap kembali di atas kepala Maharaja Diraja.
            “Mahkota tuanku telah kembali,” ujar Cati Bilang Pandai.
            Maharaja Diraja memegang kepalanya, benar, mahkota itu telah kembali bertengger di atas kepalanya. Dalam pada itu, sang naga yang berada dalam samudera, menghilang entah ke mana. (*7)
            Setelah badai reda, tiang kapal yang patah diperbaiki, Maharaja Diraja memerintahkan kembali untuk meneruskan pelayaran. Kian lama kian jauh rombongan tersebut berlayar. Suatu ketika salah seorang penumpang kapal melihat puncak Merapi. Ia berseru riang,” Di sana ada dataran!”
            Maharaja Diraja dan Cati Bilang Pandai pun melihat puncak Merapi dari anjungan kapal. Karena jauhnya gunung Merapi tersebut, terlihat seperti telur itik (telur bebek). Segeralah kapal diarahkan ke sana, dan akhirnya kapal tersebut merapat di sebuah perkampungan. Tempat mendarat dan berlabuhnya kapal Maharaja Diraja disebut lagundi nan baselo. Tatkala itu dikabarkan bahwa gunung Merapi menyentak naik, dan laut disebut menyentak turun. Pengertiannya, gunung Merapi tidak lagi sebesar telur bebek tapi sudah layaknya sebuah gunung. Sedangkan laut yang tadinya bergelombang tinggi, kini sudah tenang.
            Ternyata dari lagundi nan baselo ke gunung Merapi, tidaklah seperti yang mereka bayangkan. Gunung Merapi itu terletak sangat jauh, untuk mencapainya mereka harus menyusuri hutan belantara, melintasi sungai, menuruni jurang, dan berjalan di antara padang rumput. Sayangnya, dalam Tambo tidak dikisahkan suka duka perjalanan mereka yang akhirnya mencapai gunung Merapi.
            Rombongan Maharaja Diraja berhenti pada sebuah kawasan, yang kemudian dinamakan Pariangan Padangpanjang. Tentang penamaan Pariangan Padangpanjang ada  penulis yang menjelaskan bahwa rombongan tersebut sangat riang ketika telah berhasil membunuh seekor ular besar, yang selama ini menjadi sumber malapetaka bagi penduduk di sana. Ular besar tersebut adalah jelmaan Kati Muno. Sedangkan pemakaian nama Padangpanjang, adalah karena dalam membuka lahan, Maharaja Diraja menggunakan pedang panjang. Namun ada juga yang menafsirkan bahwa Parahiyangan tersebut merupakan tempat bersemayamnya para Hyang (dewa-dewa).
            Setelah itu maka dibentuk taratak, kemudian kampung, lalu kampung disatukan maka disebut dusun. Dari dusun maka dibentuk koto dan nagari. Demikianlah Maharaja Diraja menyusun taratak sampai menjadi Nagari, di sekitar lereng gunung Merapi.
            Pariangan Padangpanjang semakin lama semakin padat penduduknya, maka dibukalah lahan baru. Sebagian masyarakat Pariangan Padangpanjang dipindahkan ke kaki gunung Merapi, ke tanah yang lebih datar (Tanah Datar). Kian hari, kian tahun penduduk semakin berkembang, dan lahan baru pun terus dibuka. Pada daerah baru tersebut pun dibentuk nagari, seperti: Sungai Jambu, Limo Kaum, Sungai Tarab, Tanjung Sungayang, Sumanik, Saruaso, Padang Ganting, Batipuh Buo, Sumpur Kudus.
            Kepadatan penduduk membuat Maharaja Diraja terus melakukan pembukaan dan pencarian kawasan baru, kawasan yang lebih subur. Maka daerah baru yang mereka buka itu disebut dengan luhak Agam. Mereka dalam perjalanan mencari dan membuka lahan baru yang subur itu, tidaklah serentak. Tapi secara bertahap dengan masing-masing rombongan.
            Pemindahan yang lainnya diarahkan ke kaki gunung Sago. Lima puluh keluarga dari Tanah Datar pindah ke kaki gunung Sago,  mereka membentuk kampung dan nagari  Inilah yang disebut Luhak Limo Puluh Koto.
            Ketiga tanah tersebut dilukiskan sangat subur. Agam dikatakan: buminya hangat, airnya keruh dan ikannya liar. Lima Puluh Koto dikatakan: buminya sejuk, airnya jernih, ikannya jinak. Sementara itu Tanah Darat ditamsilkan: buminya nyaman, airnya tawar, ikannya banyak. Dan ketiganya disebut Luhak nan Tigo.

**

ASAL NAMA MINANGKABAU

            Disebutkan bahwa pada suatu masa datang Anggang dari lauik, bermaksud hendak menaklukan mereka. Pasukan yang datang dari laut tersebut berkekuatan besar, dan tidak mungkin dihadapi oleh suku bangsa ini.
            Mendapat kenyataan seperti itu, bermufakatlah Datuk Ketumanggungan dan Datuk Perpatih nan Sebatang serta Cati Bilang Pandai, untuk mencari akal bagaimana menghadapi musuh yang datang tersebut.
            Setelah berunding beberapa saat, akhirnya datanglah kata sepakat, bahwa untuk menghadapi lawan yang kuat, bukanlah dengan kekuatan pula. Lagi pula kekuatan yang ada pada mereka tidak mungkin menang melawan kekuatan besar itu. Cara yang terbaik adalah dengan tipu muslihat. Muslihat yang dipilih adalah dengan adu kerbau, antara mereka dengan musuh dari laut itu. Siapa yang menang dalam adu kerbau itu, dinyatakan sebagai pemenang pertempuran.
            Pasukan musuh menyanggupi pertarungan adu kerbau itu. Mereka membawa seekor kerbau yang sangat besar, tanduknya saja berjarak empat depa. Sekali lagi Datuk nan baduo (Datuk Ketumanggungan dan Datuk Perpatih nan Sebatang) serta Cati Bilang, berunding untuk menghadapi kerbau aduan lawan.
            Oleh Cati Bilang Pandai diusulkan agar kerbau yang besar itu ditandingi dengan kerbau kecil yang masih dalam menyusu. Kerbau kecil tersebut dipisahkan dari ibunya selama seminggu, dibiarkan haus (tidak menyusu).
            Pihak musuh telah yakin akan kemenangan kerbau mereka. Apalagi setelah melihat kerbau lawan hanyalah seekor kerbau kecil yang kurus kerempeng. Namun mereka tidak mengetahui bahwa kerbau kecil itu dilengkapi dengan tanduk yang terbuat dari besi runcing.
            Sorak-sorai bergema ketika kedua binatang aduan itu dilepas ke gelanggang. Kerbau besar mendengus-dengus melihat lawannya hanyalah seekor kerbau kecil. Dan kerbau kecil mengira lawannya adalah induknya. Induknya yang sudah lama tidak menyusukannya. Segera saja kerbau kecil tersebut berlari kencang, menyeruduk ke bawah perut “induknya”.
            Kerbau besar terpaku, ia tidak sempat berbuat apa-apa. Tanduk besi kerbau kecil meretas perut kerbau besar. Ia berlari kesakitan dengan perut yang terbusai (keluar isi perutnya). Kampung tempat larinya kerbau dengan perut terbusai itu, dinamai Simpuruik. Dan kerbau itu terus berlari, lalu rebah di suatu kampung. Masyarakat kampung itu mengambil kulit kerbau itu. Kampung itu dikenal dengan nama Sijangek.
            Sejak kemenangan adu kerbau tersebut maka wilayah ini disebut Minangkabau (Menang kabau). Dalam suatu hikayat bahwa kata Minangkabau berasal dari mainang kabau artinya memelihara kerbau. Sedang Poebatjaraka berpendapat kata Minangkabau berasal dari Minanga Tamwa, yang artinya pertemuan dua buah sungai, yaitu sungai Kampar Kiri dan Kampar Kanan. Sementara itu menurut Van de Turk, Minangkabau itu berasal dari Pinang Kabu, ialah tanah asal.
Sutan Muhammad Zain berpendapat Minangkabau itu berasal dari Binanga Kanvar, yaitu Muara Kampar. Di sinilah dulu pusat kerajaan Minangkabau. Dari berita Tionghoa disebutkan bahwa di Muara Kampar itu dulunya terdapat bandar yang sangat ramai. Hal ini memperkuat pendapat Muhammad Zain.
Namun bagi non Minangkabau (termasuk anak kemanakan Minang) nama tersebut kurang bisa diterima. Mereka lebih suka mencari data yang lebih akurat, dari bahasa dan sejarah. Masalah ini akan kita bahas lebih lanjut pada bab berikutnya.



Catatan kaki:
(*5) AA.Navis-Opcit- Seorang Duta yang dari Sumatra bernama Rachias telah berkunjung ke Kaisar Romawi, Caludius Ptlomeus dari Yunani telah ditemukan sebuah kota yang bernama Argyre atau kota Perak sebagai ibukota dari Jabadicu, yang kemudian disimpulkan sebagai Jawadwipa. Maka boleh jadi Duta Rachias berasal dari kota Argryre. Dalam peta itu dicantumkan suatu tempat yang dinamakan dengan golden khersonese sebagai wilayah kaya yang kaya dengan emasnya. Sehingga pujangga Walmiki mencantumkan wilayah itu dengan nama Suwarnadwipa yang artinya pulau emas.

(*6) Cati Bilang Pandai adalah tokoh yang tidak mengenal waktu dan ruang. Dalam Tambo, ia ditampilkan bersama Datuk Ketumanggungan dan Datuk Perpatih nan Sebatang, juga tidak mengenal waktu dan ruang. Tampaknya ketiga tokoh ini dimunculkan untuk menyelesaikan masalah.

(*7) Versi lain, mengisahkan mahkota Maharaja Diraja yang terjatuh ke dalam laut, bukan ditarik oleh pantulan Kaca Camin Taruih tapi Cati Bilang Pandai membuat duplikat mahkota tersebut lewat kaca tersebut.

**

WILAYAH  MINANGKABAU

            Wilayah Minangkabau dilukiskan dalam Tambo secara semu, tidak mudah ditafsirkan begitu saja. Penggambaran wilayah atau tempat-tempatnya seperti ada dengan nyata, sehingga menimbulkan tafsiran yang berbeda di antara penulis, di mana sebenarnya letak perbatasan wilayah tersebut.
            Mirip dengan asal-usul nenek moyang Minangkabau penggambarannya, maka wilayah negeri ini pun disampaikan dengan kalimat-kalimat semu tapi bermakna. Seperti kita ketahui bahwa kedatangan atau tempat Maharaja Diraja berlabuh dan pertama kali menjejakkan kakinya, dikisahkan sebagai berikut: Di lagundi nan baselo, dakek bukik Siguntang-guntang, di sinan lurah satungkal benang, lurah  nan indak baraia, di situ bukik nan indak barangin-barangin-angin, di situlah banto nan barayun, di bawah batu hamparan putiah, di situlah sirangkak nan badangkuang, di situlah buayo putiah daguak, di mano aia basimpang tigo (Di pohon lagundi yang bersila, dekat bukit Siguntang-guntang, di sana lurah setungkal benang, lurah yang tidak berair, di situlah bukit yang tidak berangin, di situlah rumput yang tidak berayun, di bawah batu hamparan putih, di situlah sirangkak yang berbunyi, di situlah buaya berdagu putih, di sana air bersimpang tiga).
            Pun dengan cara demikian batas wilayah Minangkabau dikisahkan: Dari sikilang aia bangih sampai ka taratak aia itam, dari sipisok-pisok  pisau hanyuk sampai ka sialang balantak basi, dari riak nan badabua sampai ka durian ditakuak rajo (Dari sikilang air bangis sampai ke taratak air hitam, dari sipisok-pisok pisau hanyut sampai ke sialang balantak basi, dari riak air yang berdebur sampai ke durian ditetak raja).
            Kemungkinan kalimat-kalimat yang disampaikan tersebut, ditafsirkan oleh para penulis secara hitam putih, sehingga Sikilang aia bangis, disimpulkan sebagai Air Bangis yang terletak di sebelah utara bagian barat. Sebelah tenggara, yaitu Taratak dekat Teluk Kuantan. Di sebelah utara dekat desa Sipisok-pisok sampai ke Sialang dekat perbatasan Riau. Berikutnya  di selatan, Pesisir sampai ke desa Durian dekat perbatasan Jambi sekarang. Wilayah inilah yang sekarang menjadi wilayah Sumatra Barat.
           
            Namun ada penulis yang menafsirkan bahwa batas Minangkabau sampai ke Malaysia, Negeri Sembilan. Akan tetapi kalau kita kaji menurut kesusteraan Minangkabau, daerah yang dilukis dalam Tambo itu adalah sebuah “Nagari Antah Berantah” Menurut AA.Navis dalam diktatnya “Adat dan Kebudayaan Minangkabau” (terbitan INS Kayu Tanam- 1982), kalimat Sikilang air bangis merupakan suatu pengertian yang tidak dapat dinyatakan secara konkrit. Karena kilang (kincir) takkan dapat diputar sebagaimana mestinya, sebab gelombangnya terlalu besar. Demikian pula dengan taratak aia itam (taratak air hitam), jelaslah tidak mungkin orang mendirikan permukiman kalau airnya tidak jernih. Demikian pula dengan kalimat Sialang balantak basi atau lebah bersengat besi. Seterusnya, disebutkan Riak nan berdebur, yang artinya riak memecah pantai. Padahal riak adalah alunan air yang ditiup angin semilir, tidak mungkin menimbulkan deburan seperti ombak yang menghempas ke pantai.

**
 LARAS NAN DUO

            Sistem pemerintahan Minangkabau, disebutkan dalam Tambo, menganut dua sistem. Yakni sistem Koto Piliang dan sistem Bodi Caniago. Sistem Koto Piliang digagas oleh Datuk Ketumanggungan, sedangkan sistem Bodi Caniago, dikemas oleh Datuk Perpatih nan Sebatang. Sejarah kedua sistem tersebut berlatar belakang perselisihan paham antara Datuk Ketumanggungan dan Datuk Perpatih nan Sebatang (Ibu mereka sama, yaitu Indah Juliah). Datuk Ketumanggungan, ayahnya seorang raja, yang bergelar Sri Maharaja Diraja. Dan Datuk Perpatih nan Sebatang, ayahnya seorang penasehat raja, yang menikahi Indah Juliah ketika sang raja itu meninggal.
            Memang kedua bersaudara tersebut sering berselisih paham, dan kadangkala berkelahi. Tapi akhirnya Datuk Perpatih nan Sebatang, yang masa kecil bernama Sutan Balun mengalah, ia pergi bertapa ke puncak gunung Merapi. Selesai bertapa, Sutan Balun mengembara ke berbagai negeri, bahkan sampai ke negeri Cina. Ketika merasa ilmu pengetahuannya telah banyak, ia kembali ke Minangkabau.
            Mendapatkan Datuk Ketumanggungan telah memerintah negeri dengan sistem yang disebut sistem Koto Piliang, maka Datuk Perpatih nan Sebatang lalu menggagas sistem Bodi Caniago.
            Dikisahkan kedua saudara seibu ini bersilang pendapat dalam penggunaan sistem tersebut. Gagasan Koto Piliang, Datuk Ketumanggungan dalam sebuah mamangan disebutkan, titik nan datang dari langik (sentaralisasi). Sedangkan gagasan Datuk Perpatih nan Sebatang, disebut, aia nan mambusek dari bumi.
            Mereka bertemu di suatu tempat untuk membicarakan kemandekan gagasan mereka masing-masing. Kedua saling mengeluarkan pendapat, memberi alasan untuk mendukung buah pikiran mereka. Datuk Ketumanggungan naik pitam melihat adiknya tidak mau mengikuti gagasannya, ia segera mencabut keris dan menikam sebuah batu di hadapannya. Batu itu berlobang.
            Melihat perbuatan Datuk Ketumanggungan, Datuk Perpatih nan Sebatang pun mencabut kerisnya, ia juga menikam batu tersebut. Lobang batu itu semakin dalam. Artinya, Datuk Ketumanggungan dan Datuk Perpatih nan Sebatang memutuskan bahwa masing-masingnya memakai sistem mereka, di wilayah masing-masing.
            Yang perbedaan prinsip kedua sistem itu, ialah berhubungan dengan kedudukan raja dalam pemerintahan, dan sistem pemerintahan itu sendiri. Menurut Koto Piliang, raja adalah kepala pemerintahan menurut sistem sentralistik, yang disebut juga dalam mamangan,”Bajanjang naik, batanggo turun”. Dan kedudukan penghulu pun bertingkat-tingkat. Sementara itu menurut sistem Bodi Caniago, raja adalah kepala pemerintahan menurut sistem desentralisasi, dalam mamangannya disebut.”duduak sahamparan, tagak sapamatang”. Kedudukan penghulu pun sama derajatnya.
            Pendapat saya sebagai penulis, bahwa pertentangan paham antara kedua tokoh ini yang digambarkan dalam Tambo, hanyalah sebuah tamsilan yang harus dipahami dengan renungan mendalam (secara tersurat, tersirat dan tersuruk). Batu yang ditikam oleh mereka hanyalah simbol bersepakat untuk tidak sepakat. Pada mamangannya disebutkan: Damalah pacah, nan bianglah tabuak Artinya, masing-masing pihak saling menghormati pendapat masing-masing. Itulah janin (embryo) dari demokrasi di Minangkabau, khususnya. Dan di Indonesia pada umumnya.
            Kesepakatan antara kedua sistem tersebut, berlangsung di Limo Kaum, yang di mana terjadi penikaman batu oleh Datuk Ketumanggungan dan Datuk Perpatih nan Sebatang. Pada pokoknya: pada Nagari yang didirikan kaum Koto Piliang maka berlaku hukum Koto Piliang. Demikian pula pada Nagari yang dibangun oleh kaum Bodi Caniago. Setiap Nagari berhak menentukan sistem pilihan mereka masing-masing. Pun dibolehkan pula satu Nagari memakai kedua sistem tersebut.
Penggambaran keberadaan (eksistensi) Lareh masing-masing dalam menyusun dan mengatur pemerintahan, bahkan dalam aristektur, keduanya memperlihatkan langgam masing-masing. Misalnya: Nagari yang menganut Lareh Koto Piliang, membagi wilayah Nagari dalam jumlah yang genap, yakni; IV Koto, VI Koto, atau Nan IV, Nan VI dan seterusnya. Arsitektur Rumah Gadang dan Balairungnya mempunyai lantai bertingkat-tingkat. Sementara itu Bodi Caniago membagi wilayahnya dengan bilangan ganjil, seperti: Tigo Koto, Tujuh Koto, Sabaleh Lingkung, Tigo Baleh Jorong, dan sebagainya. Aristektur Rumah Gadang dan Balairungnya mempunyai lantai datar.

DAERAH RANTAU
           
            Rantau secara etnografis, ialah wilayah Minangkabau, terletak di luar wilayah Luhak nan Tigo. Batas-batas wilayah Rantau tergantung pada pasang naik dan pasang surut kekuatan kerajaan di Pagaruyung. Pada mulanya wilayah Rantau merupakan wilayah mencari kekayaan secara individual oleh penduduk, baik dalam perdagangan, usaha dan jasa atau kegiatan lain yang sifatnya sementara. Dalam perjalanan sejarah, Rantau menjadi semacam koloni atau berbagai kekuasaan lain, sesuai dengan situasi politik yang berkembang pada zamannya.
            Sebagai koloni sebuah kerajaan, Nagari yang tumbuh di wilayah tersebut, dipimpin oleh seorang penguasa yang diangkat oleh raja. Penguasa itu dijabat turun-menurun menurut garis patrilinial dengan gelaran jabatan yang sesuai menurut langgam tradisional yang telah ada di tempat tersebut. Seperti gelar Rang Kayo, Tan Tuah di wilayah pantai bagian timur. Rang Gadang, Bagindo di wilayah pantai bagian barat. Di samping itu ada pula yang bergelar Rajo dengan sampiran lainnya, yaitu “Mudo” sehingga menjadi Rajo Mudo dan Rajo Kaciak (Rajo Kecil). Yang menyandang gelar tersebut adalah bangsawan-bangsawan keturunan Pagaruyung.
            Gelombang perpindahan penduduk ke rantau, yang demikian kian lama kian besar, baik secara individual maupun secara berkelompok kampung atau suku. Maka secara lambat laun Nagar-Nagari di wilayah itu tumbuh menjadi Nagari menurut sistem di wilayah Luhak asal mereka. Oleh karenanya, kehidupan di Nagari-Nagari di wilayah Rantau, merupakan wilayah secara etnis. Tapi secara kebudayaan telah terjadi perbauran dengan budaya warga setempat. Misalnya, kewajiban untuk membuat Rumah Gadang dan Balairung menurut arsitektur Minangkabau tidak begitu ketat. Lalu gelar asal-usul yang disandang oleh setiap lelaki yang telah menikah, yang lazim disebut; ketek banamo-gadang bagala (kecil bernama, dewasa bergelar) dipakai secara berdampingan- antara gelar garis ibu dan gelar garis ayah- Kadangkala ada yang tidak. Sehingga yang dipakai hanya gelar garis ayah.
            Di wilayah Pariaman –Tiku, lazim setiap lelaki yang beristri memakai gelar Bagindo, Sutan, dan Sidi, disamping nama kecilnya. Contoh, Bagindo Ali, Sutan Umar, Sidi Ali, dan seterusnya. Sedangkan di daerah Rantau Padang, hanya ada dua gelar, yaitu Sutan dan Marah.
            Merantau adalah produk kebudayaan Minangkabau. Setiap orang, terutama akan senantiasa didorong dan diajak agar pergi merantau oleh kaum kerabatnya dengan berbagai cara. Filsafat materialis Minangkabau mendorong agar anak muda kuat mencari harta guna meningkatkan martabat kaumnya. Sehingga setaraf dengan orang lain. Dan struktur sosial yang dialami kamu lelaki khususnya, ikut mendorong agar setiap orang untuk pergi merantau. Dalam pantunnya disebutkan:

Karatau madang di hulu
Babuah babungo balun
Marantau bujang dahulu
Dirumah paguno balun

Apo gunonyo kabau batali
Usah dipauik di pamatang
 Pauikan sajo di tangah padang
Apo gunonyo badan mancari
Iyo pamagang sawah jo ladang
Nak mambela sanak kanduang

            Seorang lelaki muda dalam masyarakat Minangkabau, dipanggil bujang. Seorang bujang, status sosialnya dipandang rendah atau belum sempurna sebagai warga masyarakatnya. Dalam rapat-rapat keluarga ia belum diikut-sertakan. Dia tidak tinggal di rumahnya tapi di surau, yaitu suatu asrama bagi kamu lelaki. Anak muda yang disebut bujang ini, hanya disuruh-suruh oleh keluarga atau membantu pekerjaan kaum kerabatnya. Untuk membebaskan dirinya dari status seperti itu, jalannya adalah pergi merantau atau menikah. Akan tetapi untuk menikah pun tidak mudah. Keluarga dari si gadis tentu akan melihat tingkat kesejahteraan calon menantu mereka. Justru karena itu kaum lelaki harus berusaha keras untuk meraih kehidupan yang lebih layak, sehingga dia mampu “menghidupi” anak gadis orang (istrinya).

Rantau merupakan daerah otonom, memiliki kewenangan sendiri mengatur pemerintahan sendiri. Berdasarkan Undang-Undang Luhak dan Rantau. Dalam mamangan disebut: Luhak ba-Pangulu, rantau ba-Rajo. Artinya, raja berkuasa di rantau, sedangkan penghulu memegang kekuasaan atas Luhak.
            Daerah rantau yang didatang mereka antara lain:
           
1. Rantau Kampar; Rantau Kampar meliputi daerah aliran Kampar Kiri dan Kampar Kanan. Di daerah  itu terdapat nagari-nagari, seperti; Kuntu (dekat Bangkinang), Gunung Sahilan, Muara Lambu, Muaro Takuih (Muara Takus), dan lain-lain.

2. Rantau Kuantan; .Rantau Kuantan disebut juga Rantau nan Kurang Aso Duo Puluah, dua puluh dengan Muaro. Di rantau ini terdapat nagari antara laini: Taluak, Basrah, Lubuak Jambi, Lubuak Ramo, dan berikutnya.

3. Rantau XII Koto: Rantau XII Koto terletak di Batang Sangia, antara lain: Lubuak Gadang,  dengan Sungai Dareh. Di daerah rantau ini terdapat nagari-nagari; Siaua, Sungai Langsek, Muaro Takuang, dan berikutnya.

4. Rantau Cati Batigo:
Rantau Cati Batigo ini terdiri dari: Siguntua (Darmasraya), Situang, Koto Basa, arah ke Jambi. Rantau Cati Batigo terletak di Batang Hari, merupakan sambungan dari Rantau XII Koto, terletak dari Lubuk Ulang Aliang sampai ke Samalidu.

5. Tiku dan Pariman;
            Tiku dan Pariaman disebut dengan kalimat Riak nan badabua, masyarakatnya dikenal dengan Adat, “Harato pusako turun kamanakan, pusako gala kepada anak”. Selain daerah yang disebutkan itu, daerah yang disebut rantau Minangkabau adalah Air Bangis, Banda Sapuluah, Inderapuro, sampai ke perbatasan Bengkulu.

NEGERI SEMBILAN
            Suku bangsa Minangkabau memang suku yang suka merantau, merantau ke semenanjung Malaka, sekarang dikenal dengan Malaysia.  Di sana mereka membuka negeri baru, berkorong berkampung, bersawah berladang, bersemanda-menyemanda dengan penduduk asli yang mereka tepati.
            Sesuai dengan pepatah petitih dan filsafat Alam takambang jadi guru, mereka mampu menyesuaikan diri dengan penduduk asli yang mereka datangi. “Di mano bumi dipijak, di sinan langik dijujuang. Di mano aia disauak, di sinan ranting dipatah. Dunsanak ditinggakan di kampung halaman, dicari pulo dunsanak di rantau.” Dalam pengertiannya, mereka tidaklah mengusik adat kebiasaan penduduk yang mereka tepati. Tapi kalau ada yang kurang maka coba menawarkan apa pengetahuan yang mereka miliki.
            Justru karena itu masyarakat pribumi merasa nyaman bergaul dengan orang Minangkabau. Dan lambat laun makin tertanam empati pribumi kepada mereka, sehingga Adat suku bangsa Minangkabau pun dapat diterima masyarakat pribumi. Konon dalam perantau tersebut anak kemenakan Minangkabau ikut serta membangun sembilan nagari (Negeri Sembilan). Dan mereka yang berasal dari Minangkabau sampai sekarang masih memakai Adat yang diturunkan oleh Datuk Perpatih nan Sebatang. Mereka tetap “basuku-bapusako, baniniak-bamamak, basawah-bapamatang, baladang-babintalak” Helat dan pernikahan kawin, bertegak rumah dan jelang-menjelang, tetap menurut Adat Minangkabau, yang lumrah mereka sebut Adat Perpateh. Negeri Sembilan pernah diperintah sampai tiga kali oleh raja yang berasal dari Pagaruyung (1773-1824), yaitu Raja Malewar, Yang Dipertuan Hitam, Yang Pertuan Lenggang.
           
            Konon suku bangsa Minangkabau datang ke Negeri Sembilan dalam empat gelombang atau rombongan. Gelombang pertama dipimpin oleh seorang datuk yang bergelar Datuk Rajo dengan istrinya Tok Seri. Mereka menuju Negeri Sembilan melewati Siak, menyeberangi selat Malaka. Lalu terus ke Johor, dari Johor bergerak ke Naning lalu ke Rambai. Terakhir menetap di sebuah tempat, yang disebut Londar Naga. Menurut cerita rakyat di sana, dulu di kampung ini dilewati oleh seekor naga, sehingga membentuk alur-alur. Sekarang tempat itu bernama Kampung Galau.
            Rombongan kedua, kebetulan juga bergelar Datuk Rajo. Ia berasal dari keluarga Datuk Bandaro Penghulu Alam dari Sungai Tarab. Rombongan ini menetap di Kampung Layang. Berikutnya, rombongan ketiga dari Batusangkar, keluarga Datuk Mangkudum Sati di Sumanik. Mereka dua orang bersaudara: Sutan Sumanik dan Johan Kebesaran. Di Negeri Sembilan, mereka membuat sebuah kampung, yang kemudian dikenal dengan nama Tanjung Alam. Lalu berganti pula jadi Gunung Pasir.
            Gelombang keempat, datang dari Sarilamak (Payakumbuh), yang dipimpin oleh Datuk Putih. Rombongan itu menepati Sutan Sumanik, yang telah dulu menetap di sana (Negeri Sembilan) Datuk Putih dikenal sebagai seorang pawang dan ahli ilmu kebatinan. Beliaulah yang memberi nama Seri menanti bagi tempat istana raja di negeri tersebut.
            Setelah empat gelombang orang Minangkabau itu, datang lagi rombongan berikutnya dalam catatan sejarah Negeri Sembilan : Rombongan yang bermula mendiami Rambau adalah dari Batu Hampar, Payakumbuh, dengan pengikutnya dari Batu Hampar juga dan dari Mungka. Pemimpin rombongan itu adalah Datuk lelo Balang. Lalu ia disusul oleh adiknya, yang bernama Datuk Laut Dalam dari Kampung Tiga Ninik.
Masyarakat Adat di Negeri Sembilan berdasarkan kerakyatan menurut paham atau ajaran yang mereka sebut Adat Perpateh tersebut. Sementara itu sistem pemerintahannya, :”bajanjang naik, batanggo turun”, menurut Adat Tumenggong (Ketumanggungan). Dalam pada itu Basa Ampek Balai yang pernah di Minangkabau dahulu, masih ada sekarang di sini, dengan nama “Undang Yang Empat”.
            Suku-suku dipimpin oleh Datok, kampong dan nagari terhimpun ke dalam Undang Yang Empat .Dan dalam acara menabalkan dan mengangkat pucuk bulat (pimpinan) Negeri Sembilan diadakan upacara Payung Panji Marawa Gadang. Kemudian diangkatlah Yang Dipertuan Seri Menanti.    
**

2

Datuk Perpatih nan Sebatang

            Orang Minangkabau sangat mengenal sekali tokoh yang bernama Datuk Perpatih nan Sebatang ini, ia dimasa kecilnya bernama Sutan Balun. Menurut Tambo, Sutan Balun bukanlah anak raja, ayahnya seorang penasehat raja yang dikenal dengan nama Cati Bilang Pandai.
            Untuk mengenal Sutan Balun, Sejenak kita hendaknya lebih dulu mengenal akan silsilah atau garis keturunan yang bermula dari Maharaja Diraja dan istrinya, Indah Julito. Dikabarkan, Maharaja Diraja mempunyai sepasang anak, seorang lelaki (yang sulung) bernama Suri Dirajo, sedangkan yang perempuan bernama Indah Juliah. Indah Juliah menikah dengan Ruso nan datang dari lauik, makuto nan bacabang tigo (Rusa yang datang dari laut, mahkotanya bercabang tiga). Dan Ruso nan datang dari lauik itu kemudian bergelar Sri Maharaja Diraja. Setelah Dari perkawinan tersebut maka lahirlah Maha rajo Basa, setelah dewasa ia dikenal sebagai Datuk ketumanggungan.
            Setelah Maharaja Diraja wafat, Indah Juliah menikah dengan Cati Bilang Pandai. Mereka melahirkan seorang putra, bernama Sutan Balun, yang kelak dikenal dengan nama Datuk Perpatih nan Sebatang. Dan seorang perempuan bernama Puti Jamilan (*7)

            Sebagai putra kedua, dan bukan putra raja, Sutan Balun memang terkesan dalam perhatian dalam kerajaan. Sejak masa kanak-kanak sampai dewasa, Sutan Balun selalu bertengkar, bersilih paham dengan saudaranya, Maha raja Basa atau Datuk Ketumanggungan.
            Layaknya seorang putra raja, Raja Basa (Datuk Ketumanggungan) mempunyai seekor ayam jantan. Ayam jantan tersebut dikurung dalam kerangkeng bambu, diletakkan di halaman Istana. Kadangkala Raja Basa membawa  ke gelanggang penyabungan untuk diadu dengan ayam lain. Ayam jantan kesayangan Raja Basa tidak pernah kalah, selalu menang dalam gelanggang aduan.
            Suatu hari Sutan Balun berjalan-jalan di halaman Istana. Ia tertarik melihat ayam jantan milik Ketumanggungan. Ayam jantan tersebut berputar-putar dalam kerangkeng bambu itu. Dan Sutan Balun menjentik-jentik jemarinya, ayam jago itu mengepakan sayapnya. Lalu Sutan Balun membuka kerangkeng bambu, ia bermaksud hendak melihat lebih dekat ayam jago tersebut.
            Malang tak dapat ditolak, ayam jago Ketumanggungan melompat dari tangan Sutan Balun. Ayam jantan tersebut lepas menghambur, semula hinggap pada pagar. Kemudian berkokok panjang, dan lari ke semak belukar.
            Terperangah Sutan Balun. Tentu Ketumanggungan akan marah padanya, karena ia telah melepaskan ayam jago tersebut. Kebetulan Ketumanggungan keluar dari istana, ia melihat ayam jagonya tidak ada dalam kerangkeng. Seraya saja ia menghardik Sutan Balun, “Balun kau apakan ayamku!”
            Gugup seketika Sutan Balun. Ia merasa bersalah telah melepaskan ayam kesayangan, kakaknya. “Maafkan saya, tuan Tumenggung. Saya tidak sengaja, Biarlahlah saya cari ayam itu,” ujar Sutan Balun.
            Namun Ketumanggungan tetap menerima. Ia memungut sepotong kayu, dan mendadak ia memukul kepala Sutan Balun. Serangan mendadak itu tidak diduga sama sekali oleh Sutan Balun, ia terlambat berkelit sehingga keningnya dihantam potongan kayu itu. Darah bercucuran di kening Sutan Balun.
            Saat itu Indah Juliah, ibu mereka berdiri di teras istana. Perempuan itu segera turun ke halaman, melerai kedua orang anaknya, yang siap hendak berkelahi.
            “Bunda, Sutan Balun sungguh keterlaluan. Ayam jago saya ia lepaskan dari kerangkeng,” Ketumangungan segera mendahului mengadu.
            “Bunda, memang saya bersalah. Saya tidak sengaja melepaskan ayam tuan Tumenggung. Tapi ia telah melukai saya,” ujar Sutan Balun. Ia terus menutup keningnya yang luka, darah bercucuran di sela-sela jarinya.
            Indah Juliah menggelengkan kepala, ia cemas melihat kening Sutan Balun yang terluka. Kemudian perempuan itu menoleh pada Tumenggung, yang berdiri acuh tidak acuh. “Tumenggung…mestinya kamu tidak ringan tangan pada saudaramu sendiri,” Indah Juliah segera membimbing Sutan Balun naik ke istana.

            Konon sejak itu, Sutan Balun selalu kelihatan memakai destar. Destar tersebut dipakainya untuk menutup luka di keningnya. Dan ia jarang kelihatan berada di istana, Sutan Balun lebih suka menyendiri, berjalan ke lembah-lembah, ke pinggir sungai, bahkan duduk sendiri di atas bukit. Akhirnya Sutan Balun menghilang dari istana. Tidak seorang tahu ke mana ia pergi.

**



BERTAPA DI PUNCAK MERAPI

            Dalam perjalanannya menyendiri, Sutan Balun suatu hari tertidur di bawah pohon beringin yang daunnya rindang. Tidak berapa lama, ia tidur merebahkan diri di bawah pohon beringin itu, Sutan Balun bermimpi, ia didatangi oleh almarhum ayahnya, Cati Bilang Pandai.
            “Anakku, Sutan Balun. Ayahanda tahu kamu sedang sedih dan gelisah. Tapi janganlah engkau turutkan sedih dan gelisah itu. Orang yang selalu sedih dan gelisah, bisa sesat jalan. Oleh karena itu pergilah engkau ke puncak Merapi,” Cati Bilang Pandai berpesan.
            Selesai menerima pesan ayahnya dalam mimpi, Sutan Balun tersentak dari tidurnya. Ia menoleh ke kiri dan kanan, jangan-jangan ayahnya itu masih ada di sekitar itu. Ternyata tidak ada siapa-siapa. “Ayahanda!” Sutan Balun berteriak sekuat suaranya. Namun tidak ada jawaban, kecuali gaung suara teriakannya yang kembali bersiponggang.
            Ketika itu sedang tengah hari, matahari seperti bertengger di atas kepala. Sedang litak-litak anjing berjalan. Panas terik menyiram tubuh Sutan Balun yang melangkah menuju gunung Merapi. Tekad Sutan Balun memang sudah bulat, ia harus mencapai puncak Merapi, dan bertapa di sana sesuai dengan Cati Bilang Pandai, ayahnya itu.
            Memang selama ini Sutan Balun belum pernah naik ke gunung Merapi, hanya mendengar dari mulut ke mulut bahwa di puncak Merapi bersemayam para dewa, disamping itu di sana bertempat tinggal jin dan peri atau makhluk halus. Namun karena ia telah mendapat mimpi dari ayahnya, Sutan Balun tidak peduli. Lagi pula hatinya sedang risau gelisah.”Buat apa saya di istana, kalau hanya akan dilecehkan oleh Tumenggung. Biarlah badan terbuang. Biarlah jin dan setan akan melahap diri ini, dari pada harga diri ini dilecehkan orang,” gumam Sutan Balun seraya mendaki gunung tersebut.
            Sutan Balun berjalan menapaki gunung tersebut. Kadangkala, ia harus memanjat tebing, kadang menuruni lembah. Penat mendaki ia berhenti barang sejenak. Lalu kembali mendaki.
            Suatu ketika, ia duduk melepaskan lelah. Sambil melepaskan lelah, Sutan Balun memeriksa buntalannya, ada dua buah pinyiram dan setabung air, yang tadi disiapkannya sebelum mendaki. Ia makan sebuah pinyaram itu, cukuplah penangkal laparnya menjelang ke puncak gunung. Tiba-tiba angin semilir bertiup, angin yang disertai hujan gerimis. Kabut menjalar di sekitar pinggang gunung tersebut. Pemandangan Sutan Balun jadi terhalang oleh kabut, yang semakin lama semakin tebal.
            Akhirnya Sutan Balun memutuskan untuk menunda perjalanannya. Ia duduk di atas batu berselimut sarung. Udara pun mulai terasa dingin. Dan malam pun tiba. Halimun melayang di antara gelapnya malam.
            Di antara gelap, halimun yang menyebar di pinggang gunung itu, Sutan Balun merasakan dingin merasuk ke dalam tulang-belulangnya. Ia berusaha mengusir dingin dengan mengepalkan tangan. Tapi dingin terus menjalar ke sekujur tubuhnya tanpa tertahankan.
            Tidak berapa jauh, dari tempat duduk Sutan Balun, di balik halimun tampak sosok samar-samar. Kian mendekat sosok yang seakan-akan berselimut halimun tersebut. Sosok itu melayang, tidak berjejak di tanah. Bau semerbak harum menjalar sekitar itu. Aroma bunga dan kemenyan bercampur baur. Pun kedengaran bunyi puput salung mendayu-dayu.
            Mata Sutan Balun menangkap sosok tersebut. Semula ia melihat bayang putih di antara halimun. Tak lepas pandangan Sutan Balun dari sosok tersebut. Ternyata sosok itu adalah seorang perempuan berambut panjang. Rambutnya menjela ke tanah. Samar-samar lelaki itu melihat wajah cantik perempuan itu.
            “Tuan, Sutan Balun. Kemarilah,” ujar perempuan itu. Suaranya merdu bak buluh perindu.
            Berdetak keras jantung Sutan Balun mendengar suara itu. Seakan-akan suara merdu tersebut hendak menarik lelaki ini, mendekati perempuan tersebut. Sutan Balun menarik nafas dalam-dalam, mengatur nafas. Sepasang kakinya yang tadi hendak bergerak mengikuti ajakan perempuan itu, kini kembali terpaku bertahan di atas batu tempat duduknya.
            “Siapa engkau. Kenapa engkau tahu namaku.”
            Berderai gelak perempuan itu dalam kesunyian malam. “Sutan Balun, saya adalah Puti Kambang Baiduri, ratu gunung ini. Dan tidak sulit bagi saya untuk menebak siapa kamu. Bukankah kamu anak Indah Juliah dan Cati Bilang Pandai…”
            “Kamu memang benar. Tapi apa maksud kedatanganmu.”

            Lagi-lagi berderai gelak ketawa Puti Kambang Baiduri. “Maksud saya hendak mengajak engkau ke istanaku. Rakyatku pasti senang menerima kedatanganmu.”
            Diam sejenak Sutan Balun. Berpikir ia. Lalu berkata,”Terima kasih Puti Kambang Baiduri. Saya akan segera ke puncak gunung Merapi. Lain kali kalau ada waktu, saya bisa singgah ke istanamu, “ jawab Sutan Balun seraya bangkit dari tempat duduknya.
            Tiba-tiba sepasang mata Puti Kambang Baiduri menyala-nyala. Ia membentangkan sepasang lengannya, menghalangi jalan Sutan Balun. “Hai lelaki bodoh. Lihatlah halimun di sekitar engkau. Halimun itu adalah lasykarku. Bila engkau menolak. Maka engkau diseret ke dalam jurang!”
            Halimun pecah menjadi berpuluh-puluh bagian, kemudian menjelma menjadi sosok peri. Puluhan perempuan berwajah cantik mengepung Sutan Balun.
            “Tangkap dia!”
            Tanpa menunggu perintah kedua kalinya dari Puti Kambang Baiduri, puluhan lasykar peri itu segera menghambur ke arah Sutan Balun. Sutan Balun berkelit, ia berkelabat di atas kepala para peri tersebut. Sementara itu Puti Kambang Baiduri pun berkelabat menyerang Sutan Balun membantu layskar-lasykarnya.
            Heboh di pinggang gunung Merapi. Malam yang tadi sunyi, kini terdengar teriakan-teriakan, cabang-cabang pohon bergoyang, tanah bergoyang. Dan sesekali kedengaran gelak berderai Puti Kambang Baiduri. Gelak berderai itu kedengaran sampai ke kaki gunung Merapi.
            Penduduk yang tinggal di kaki gunung tersentak dari tidur. Ketika mereka mendengar gelak ketawa, dan hiruk pikuk, bulu roma mereka berdiri ketakutan. Sehingga semakin membungkus tubuhnya dengan selimut rapat-rapat.
            Hampir sepenanakan nasi, pertarungan itu belum juga berakhir. Puti Kambang Baiduri dan lasykar belum mampu menangkap Sutan Balun. Lelaki itu amat gesit berkelabat ke sana-sini. Dalam kabut itu, dia bertengger di atas pucuk pohon. Dan ketika Puti Kambang Baiduri melesat mengejar, Sutan Balun mengibaskan sarungnya. Angin kibasan sarung tersebut menimbulkan angin berhawa panas.
Terperanjat Puti Kambang Baiduri, ia tidak menyangka Sutan Balun menyerangnya secepat itu. Ia tidak sempat berkelit. Bahunya disambar angin pukulan sarung Sutan Balun. Perempuan itu jatuh ke tanah bagai cubadak masak (nangka masak). Terhenyak di tanah Puti Kambang Baiduri beberapa jenak.
            “Puti…”
            “Puti baik-baik saja?”
            “Cederakah Puti?”
            Beberapa orang lasykar mendekati ratu mereka. Mereka cemas. Tapi tidak lama kemudian, Puti Kambang Baiduri bangkit. “Di mana Sutan Balun?”
            “Dia sudah lari, Puti.”
            Geram bukan main Puti Kambang Baiduri mendengar Sutan Balun lolos dari jeratannya. Ia meraung panjang. Dan rauangannya itu disambut oleh lolongan anjing hutan. **

Sutan Balun tiba di puncak Merapi. Ketika itu ayam berkokok di kejauhan, lelaki itu duduk termanggu pada sebuah batu besar. Ia memandang daerah sekitarnya, memandang langit. Langit yang seakan-akan terjangkau oleh tangan. Akhirnya ia mendapatkan sebuah gua, untuk bertapa. Cukup nyaman gua tersebut, di tengah-tengah ada sebuah batu hamparan untuk tempat bersemedi.
            Empat puluh hari lamanya, Sutan Balun bertapa dalam gua tersebut. Bermacam-macam godaan muncul tatkala ia bertapa. Ular besar melilit tubuhnya agar menghentikan tapanya. Namun Sutan Balun tetap bersiteguh.
            Kemudian datang pula jin dan peri. Ada yang berbentuk makhluk aneh, bertubuh pendek dengan kepala besar dan taring menyembul. Jin berkepala besar itu datang ramai-ramai seraya bertengger di atas kepala Sutan Balun.
            “Aku telan engkau, Sutan Balun.”
            “Ayo bangun. Kalau tidak, kami jadikan sate!”
            Malah ada pula yang mengelitik Sutan Balun. Tapi Sutan Balun tetap bertahan sampai ayam berkokok. Ketika malam tiba, datang lagi makhluk lain mengganggu. Seekor harimau melompat hendak menerkam. Tetap saja Sutan Balun tak tergoda. Setelah harimau menghilang, muncul lagi makhluk yang berbau busuk, melebihi busuk bangkai.
            Pada malam keempat puluh, seekor gagak hitam bertengger di atas kepala Sutan Balun. Beberapa jenak kemudian gagak hitam itu menjadi perempuan cantik. Harum bau tubuhnya semerbak. Ia mencium sekujur tubuh Sutan Balun, sambil membisikan rayuannya agar mau bersebadan dengan dia.
            Anjing hutan melolong. Sahut bersahut di luar sana.
            Tiba-tiba fajar menyingsing. Ayam berkokok. Dan perempuan itu menghilang bersama rintihan pilu karena ia gagal menghentikan tapa Sutan Balun. Sutan Balun membuka matanya, ia melihat ayahnya, Cati Bilang Pandai berdiri di hadapannya. Orang tua itu memakai jubah putih dengan sorban di atas kepala. Ia tersenyum pada Sutan Balun.
            “Anak denai, Sutan Balun. Empat puluh malam sudah engkau bertapa di gua puncak Merapi ini. Engkau telah melewati ujian dan godaan. Sudah saatnya engkau turun gunung.”
            “Tapi ayahanda, Saya masih betah di sini.”
            “Tempat ini hanya sebuah tempat perenungan. Bukan akhir dari perjalanan hidupmu. Memisahkan diri dari masyarakat tidaklah baik terlalu lama. Segala ilmu dan pengalaman yang engkau dapat di sini, harus kau ajarkan kembali. Lihatlah alam sekitarmu. Dari alam yang ada sekitarmu kamu bisa menimba ilmu. Jadikan alam terkembang ini guru”
            Orang tua itu memberi sebatang tongkat kepada Sutan Balun. “Ambillah tongkat ini. Siang engkau pertongkat, malam engkau perbantal. Ia dapat membantumu berjalan ke arah yang benar, dan menuntunmu bila tersesat di jalan. “ Setelah Cati Bilang Pandai menyerahkan tongkat tersebut, ia pun menghilang.

*


MENGEMBARA SAMPAI KE MANCANEGARA

            Segeralah Sutan Balun turun gunung. Semula ia hendak pulang menjenguk ibu dan adiknya, Puti Juliah tapi di tengah perjalan Sutan Balun membatalkan niatnya. Sutan Balun menyusuri sungai. Kemudian sampai pada sebuah padang luas, tidak ada pohon kayu di sana. Sepanjang jauh mata memandang ia hanya melihat padang ilalang dan semak belukar.
            Penat berjalan, Sutan Balun singgah pada sebuah pondok. Tampaknya pondok itu sudah lama tidak dihuni. Ia meletakkan buntalannya, dan menyandarkan tongkatnya di tonggak pondok. Lalu merebahkan badannya. Tiba-tiba ia bangkit, ia memandang sekeliling padang ilalang. Tergerak hatinya untuk berbuat sesuatu. “Saya rasa di tengah padang ini lebih baik ditanam pohon. Tapi dari mana saya mendapatkan bibit tanaman itu,”gumamnya.
            Setelah berpikir beberapa jenak, ia ingat akan tongkatnya yang tersandar di tonggak pondok. “Saya kira tongkat ini bisa dijadikan bibit tanaman.” Berkata demikian, Sutan Balun segera saja memotong tongkatnya. Kemudian ia tanamkan di halaman pondok.
            Ketika potongan tongkat itu tertanam di tanah, sekonyong-konyong turun hujan lebat. Sutan Balun terperanjat, tongkat yang ditanamnya di halaman itu, segera tumbuh pucuk. Cepat dan cepat sekali. Kurang sepanakan nasi, tongkat itu menjulang tinggi dan menjadi pohon rindang. (sekarang kalau anda berjalan ke kabupaten Solok, anda melihat pohon rindang, masyarakat di sana meyakini pohon tersebut adalah potongan tongkat Sutan Balun atau Datuk Perpatih nan Sebatang.
Saat hujan reda, Sutan Balun segera melanjutkan perjalannya. Lama berjalan, masuk hutan keluar hutan, naik bukit menuruni lurah, akhirnya ia sampai ke sebuah kampung, dan menetap di sana, beberapa lama. Namanya masih belum berubah, yaitu tetap memakai nama Sutan Balun. Tapi orang kampung tersebut tidak mengetahui bahwa ia bangsawan atau keluarga raja. Di kampung itu bertemu dengan Magek, tuo kampung, seorang yang disegani oleh masyarakat itu. Katanya didengar, perintahnya diturut masyarakat kampung itu.
            Suatu hari Sutan Balun menyampaikan niatnya hendak pergi mengembara kepada Magek. “Kamu hendak mengembara kemana Sutan. Apakah Sutan tidak betah tinggal di sini?” Magek bertanya heran. Orang tua itu tahu bahwa selama di kampung tersebut, Sutan Balun mempunyai hubungan baik dengan masyarakat kampung itu. Lagi pula Sutan Balun dikenal sebagai anak muda yang memiliki pengetahuan luas, dan budinya sangat terpuji. Bahkan bersama penduduk kampung telah mendirikan sebuah tempat belajar anak-anak kampung. Tempat belajar itu mereka namakan surau. Surau itu disamping digunakan untuk belajar, juga digunakan untuk menginap anak-anak dan pendatang yang terpasah ke kampung itu.
            “Bukan begitu. Saya merasa senang tinggal di sini. Tapi sebagai orang muda, di mana darah belum setampuk pinang, umur belum setahun. Pengetahuan belumlah banyak, Saya kira lebih baik merantau sambil membuka ke negeri orang.”
            Magek manggut-manggut mendengar alasan Sutan Balun. “Oya, di pinggir pantai itu saya melihat orang sedang membangun sebuah kapal. Sudah lebih tiga bulan mereka bekerja. Barangkali jika kapal itu sudah siap, Sutan bisa ikut berlayar,” tutur orang tua itu.
            Singkat cerita, Magek membawa Sutan Balun ke pantai. Di sana banyak orang berkumpul. Mereka sedang berusaha mendorong kapal tersebut ke laut lepas. Tapi usaha mereka gagal. Walaupun telah dikerahkan orang sekampung mendorong kapal tersebut, tetap saja kapal itu tidak bergeming.
            “Heran juga saya. Kenapa kapal itu tidak bergerak,” ujar Magek seraya menoleh pada Sutan Balun. Sepertinya ia minta saran pada Sutan Balun. Dan ia memanggil salah pembuat kapal, yang sekaligus akan menjadi nakhoda. “Apakah kamu sudah mempersiapkan persembahan pada dewa laut. Jangan-jangan dewa laut, tidak mau menerima kapal ini.”
            “Sudah Tuo Magek.Nasi kunyit, singgang ayam. Paureh dan sebagainya sudah diantaukan (dipersembahkankan) ke tengah laut,” Nangkodo menjelaskan.
            “Kalau begitu, datangi Angku Datu. Minta pendapat padanya,” nasehat Magek.
           
            Malam hari Nangkodo dan Magek mendatang pondok Angku Datu. Setelah membaca mantera, Angku Datu melihat air yang tersedia dalam tempayan. Orang tua itu menggeleng-geleng. “Tidak mungkin. Kapal ini tidak diterima dewa laut. Kecuali…”
            “Kecuali apa Angku,” segera Magek menimpali.
            “Temui seseorang yang bernama Sutan Balun.”
            “Sutan Balun?”
            “Ya, ia mungkin bisa mencari jalan keluar agar kapal ini diluncurkan ke laut.”

            Atas anjuran Angku Datu, Magek dan Nangkodo menemui Sutan Balun. Mereka menyampaikan pesan Angku Datuk kepada Sutan Balun. “Ya, waktu di pantai, saya maklum bahwa kapal tersebut tak mungkin meluncur. Landasannya harus ditukar,” kata Sutan Balun.
            “Jadi landasan luncuran harus diganti. Oh, kalau begitu tidak sulit,” sahut Nangkodo.
            “Tapi landasan luncur itu, bukan landasan sembarangan.”
            “Maksudnya?”
            Sutan Balun memandang wajah kedua orang tersebut, berganti-ganti. “Sungguh berat saya mengatakan kepada tuan Magek dan Nangkodo. Tuan berdua mungkin akan kaget.”
            Nangkodo mengerling pada Magek. Ia kemudian berbisik pada tuo kampung itu. “Katakan pada Sutan agar ia menjelaskan maksudnya.” Magek lalu mengangguk. “Begini Sutan. Kapal itu harus meluncur ke laut. Tidak ada jalan lain, apapun syaratnya harus kita penuhi.”
            Sejenak Sutan Balun menarik nafas. “Ya. Saya harus mengatakan pada tuan berdua. Lagi pula saya pun ingin menompang dengan kapal tersebut.”
“Oh, soal itu kaji menurun. Yang penting kapal itu harus meluncur ke laut. Jadi katakanlah jalan keluarnya,” ujar Nangkodo tak sabar lagi.
Diam sejenak Sutan Balun. Kemudian ia berkata perlahan,” Landasan itu adalah seorang manusia. Itulah yang diminta oleh dewa laut.”
Sunyi seketika.
Magek diam.
Nangkodo termanggu.
“Itulah beratnya. Oleh karena itu saya bimbang mengatakannya,” kata Sutan Balun memecahkan kesunyian.
Magek dan Nangkodo berbisik-bisik sejenak. Lalu Magek berbicara,”Baiklah kalau begitu. Besok pagi akan saya umumkan kepada masyarakat. Siapa yang mau berkorban untuk menjadi landasan luncur kapal itu.”
Esok pagi, semua orang ramai berkumpul di pantai hendak menyaksikan peluncuran kapal tersebut ke laut lepas. Magek maju ke depan di antara orang ramai. Ia berkata lantang,”Wahai penduduk kampung, anak kemenakan, ipar besan, urang semando, kaum kerabat dalam kampung ini. Kapal ini akan segera kita luncurkan.”
“Ya, luncurkanlah!’ Serentak mereka bersorak.
“Tapi ada syaratnya. Kalian harus berkorban. Salah seorang dari kalian secara sukarela menjadi landasan luncuran kapal ini.”
Semuanya terdiam. Lalu berbisik-bisik. Ada diantaranya yang menghindar, menjauh dari kapal.
Melihat keadaan seperti itu Sutan Balun maju mendampingi Magek. “Jika sanak saudara enggan berkorban. Niscaya kapal ini batal meluncur. Lalu kapal ini akan lapuk. Apakah sanak saudara tidak malu. Lagi pula kita akan dikutuk selamanya oleh dewa laut.”
Hening lagi. Kemudian bisik-bisik, desas-desas. Lalu suara bergalau bagai lalat beterbangan.
Tiba-tiba menyeruak seorang perempuan ke tengah-tengah orang ramai. “Biarlah saya yang jadi lancaran kapal itu. Semua orang menoleh pada perempuan itu. Perempuan itu, putri tuo Magek. Dia, Bungo. Putri tuo Magek itu tampak sedang hamil berat. Mungkin seminggu lagi melahirkan. Semua orang terpana akan kenekadan Bungo.
Magek mendekati putrinya. “Bungo, mengapa kamu berbuat senekad ini. Bukankah kamu sedang hamil. Menjadi landasan kapal sebesar ini, nyawa tantangannya,” orang tua itu memberikan pengertian.
Bungo meggeleng. “Ayah, sejak kapal ini mulai dibangun, saya memang sudah berniat berkorban untuk kapal ini. Lagi pula semua ini untuk ayah juga. Demi harga diri ayah. Lihatlah siapa yang mau mendengar ucapan ayah. Ucapan ayah hanya mereka anggap angin lewat belaka.”
Magek memicingkan mata ketika kapal itu melindas tubuh Bungo. Semula ia mengira Bungo akan hancur dilindas kapal. Ternyata perempuan itu selamat, tidak kurang suatu apapun. Pun anaknya lahir dengan selamat. Anak Bungo, kebetulan seorang perempuan. Sejak itulah, garis keturunan orang Minangkabau berdasarkan garis ibu.
**


Berlayarlah kapal tersebut hari itu juga. Kebetulan cuaca sedang cerah. Sutan Balun walaupun diberi kamar dan perhatian istimewa oleh Nangkodo, tapi ia tetap saja rendah hati. Ia kadang berjalan ke haluan, di sana berkumpul penumpang lain, dan awak kapal yang memandang keindahan alam dari atas kapal tersebut.
Kesempatan bergaul dengan penumpang dan awak kapal, dimanfaatkan oleh Sutan Balum berbincang-bincang dengan mereka. Mereka menyadari bahwa Sutan Balun bukanlah orang sembarangan. Lalu mereka bertanya tentang ini dan itu. Sutan Balun menjawab setiap pertanyaan yang mereka ajukan.
Ketika istana, ia pernah belajar ilmu pertukangan dan seni ukir. Maka dalam pelayaran yang cukup lama ini, Sutan Balun mengajarkan kepada penumpang dan awak kapal, ilmu pertukangan dan seni ukir.
            Suatu waktu kapal tersebut berlabuh di Malaka. Nangkodo mengajak Sutan Balun turun ke darat beserta beberapa orang awak kapal. “Nanti Sutan akan saya perkenalkan pada sultan Malaka. Tapi sebelum itu, nama Sutan harus diganti, agar lebih mentereng di hadapan sultan dan para menterinya,” kata Nangkodo. “Perpatih nan Sebatang, begitu kami memanggil Sutan nanti, di hadapan raja,” sambungnya.
            “Apa arti nama itu. Jangan-jangan kita mengambil nama orang lain,” tukas Sutan Balun.
            “Sutan saya lihat mengajarkan ilmu pertukangan dan ukiran. Alat yang sering Sutan pakai itu, namanya parapatik (pahat pengukir). Sedangkan tongkat yang Sutan bawa itu mirip kayu sebatang. Oleh karena itu, nama Sutan sekarang adalah Datuk Perpatih nan Sebatang,” kata Nangkodo. Tampaknya usulan nama tersebut, disetujui oleh mereka yang ikut bersama ke darat.
            Singkat cerita, Nangkodo dan Sutan Balun serta lima orang lainnya diterima oleh Sultan Malaka. Agaknya sebelum itu telah terjalin persahabatan antara Sultan dan Nangkodo. Dan Nangkodo memperkenalkan Sutan Balun kepada Sultan dengan nama Datuk Perpatih nan Sebatang.
            Sultan menyapu sekujur tubuh Datuk Perpatih nan Sebatang dengan tatapan yang penuh selidik. Menurut raja tersebut, nama yang didengarnya itu cukup unik. Dan baru sekali ini ia mendengar. Dari pakaian yang dipakai oleh Datuk Perpatih nan Sebatang, tampak tamunya itu bukanlah orang biasa, gumam Sultan.
            “Saya ingin tahu, tuan bangsawan dari mana?” Sultan bertanya.
            “Saya datang dari pulau Perca. Seorang bangsawan keturunan Maharaja Diraja,” sahut Datuk Perpatih nan Sebatang.
            Manggut-manggut Sultan. “Menurut kebiasaan, setiap tamu yang datang ke sini harus membawa cindera mata. Dan apa cendera mata dari negeri tuan.”
            Nangkodo beringsut ke depan. “Duli hamba, tuanku raja. Kami telah menyiapkan bingkisan untuk Sultan. Kami membawa sekarung bubuk kopi. Satu peti kapur barus. Sepundi emas dan perak,” sembah Nangkodo.
            “Begitukah?”
            “Duli tuanku.”
            “Terima kasih atas barang bawaan kalian tersebut. Tapi karena tuan Datuk Perpatih nan Sebatang ikut bersama kalian. Agaknya barang bawaan kalian itu tampak kurang berharga.”
            Kering kerongkongan Nangkodo mendengar ucapan Sultan, ia segera menyembah dan berkata,”Ampun hamba, tuanku. Kalau barang bawaan itu masih kurang, biarlah kami jemput ke kapal. Jika hamba boleh bertanya, cendera mata apa yang tuanku minta dari kami?”
            Sultan tersenyum. Ia berbisik pada Tun Razak, penasehat yang duduk di samping kanannya. Tun Razak mengangguk. Ia menoleh pada Datuk Perpatih nan Sebatang. “Tuan Datuk. Sultan ingin tiga cendera mata dari tuan.”
            “Boleh…boleh. Lima atau sepuluh cendera mata lagi akan kami ambilkan,” tukas Nangkodo.
            “Bukan engkau yang kusuruh bicara. Tapi tuan Datuk Perpatih,” ujar Tun Razak bernada keras.
            “Baiklah. Jika Sultan ingin tiga cendera mata, hamba akan penuhi. Titahkanlah, hamba akan mendengar,” sahut Datuk Perpatih nan Sebatang.
            Yang diminta oleh Sultan, pertama angin. Kedua, barang yang memenuhi ruangan. Ketiga, harta yang tidak pernah habis. Bila ketiga permintaan itu tidak bisa dipenuhi Datuk Perpatih nan Sebatang, maka ia akan dihukum pancung. “Besok malam akan kami terima di istana ini,” titah Sultan.
            Sepanjang jalan menuju kapal, Namgkodo tampak gelisah. Ia merasa bersalah kepada Datuk Perpatih nan Sebatang, mengapa ia lancang memperkenalkannya dengan Sultan. Akibatnya, Datuk Perpatih nan Sebatang dalam bahaya.
            Tetapi Datuk Perpatih nan Sebatang tampaknya tenang-tenang saja. Keesokan malamnya, mereka kembali menghadap Sultan. Semua pejabat istana, dan permaisuri serta putri raja hadir.
            “Tuan Perpatih nan Sebatang, sesuai dengan janji kita. Kalian harus membawa tiga permintaanku,” kata Sultan.
            “Ya,tuanku. Saya tidak pernah mungkir janji.”
            “Ya, mana tiga permintaanku itu.”
            Nangkodo tampak gelisah. Keringat dingin menetes sekujur tubuh. Ia menoleh pada Datuk Perpatih nan Sebatang. Wajah Datuk Perpatih nan Sebatang tenang, sedikit pun tak tampak cemas. Ia mengeluarkan kipas dari balik bajunya. “Pertama, akan saya persembahkan angin yang saya bawa,” ujar Datuk Perpatih nan Sebatang.
            “Mana angin itu?”
            Semua mata yang hadir di sana menatap ke arah Datuk Perpatih nan Sebatang. Lelaki itu mendekat pada Sultan. Ia membuka kipas di tangannya, lalu mengipaskan pada Sultan.Seberkas angin sejuk meniup wajah Sultan “Inilah kipas, sebuah alat yang saya bawa untuk menyimpan dan membawa angin.”
            Semua orang terpana.
            Sultan mengangguk. “Dan mana barang yang kedua, yaitu yang memenuhi seluruh ruangan.”
            “Baik. Tapi saya minta tuanku memadamkan lampu yang ada dalam ruangan ini.”
            Sultan pun memerintahkan memadam lampu di ruangan itu. Dan ruangan itu pun gelap gulita. Setelah suasana tenang. Maka Datuk Perpatih nan Sebatang menghidupkan lentera yang telah dipersiapkannya. Seketika ruangan jadi terang benderang kembali. “Inilah barang yang memenuhi segala ruangan,” kata Datuk Perpatih nan Sebatang. “Cahaya dari lentera akan memenuhi segala ruangan. Tidak ada celah yang luput dari siraman cahaya,” sambung lelaki itu.
            “Lalu apa barang yang tidak pernah habis?”
            Semua yang hadir menunggu jawaban Datuk Perpatih nan Sebatang.
            “Barang yang tidak pernah habis adalah ilmu pengetahuan. Dia akan terus melekat pada pemilik selama hayat dikandung badan. Ilmu pengetahuan kian bertambah jika tuan mau memberikan atau mengajarkannya kepada orang lain.”
            Semua yang hadir di istana berbisik-bisik. Mereka kagum kecerdikan Datuk Perpatih nan Sebatang. Sultan berbisik pada permaisuri. Lalu berkata,” Tuan Datuk Perpatih nan Sebatang, kami semua kagum pada kecerdasan tuan. Oleh karena itu, saya dan permaisuri ingin menjodohkan tuan dengan putri kami, Tun Sri Kemala. Dan tuan, kami angkat jadi menteri kebudayaan.”
            Nangkodo menyikut halus Datuk Perpatih nan Sebatang.”Sungguh beruntung tuan. Jawablah cepat,” lelaki itu mendesak Datuk Perpatih nan Sebatang.
            Datuk Perpatih nan Sebatang menegakkan kepala, memandang lurus ke depan. “Tuanku, betapa tersanjungnya hamba mendengar tawaran tuanku. Tapi maaf beribu maaf, saya hanyalah seorang pengembara, berkelana ke berbagai negeri. Belum saatnya saya menetap di suatu negeri. Karena besok pagi mungkin kami akan melanjutkan perjalanan.”
            “Tuan Datuk Perpatih, apakah putri kami, Tun Sri Kemala kurang cantik?”
            “Tun Sri Kemala seorang putri yang sangat cantik. Seumur hidup hamba barulah kali ini, hamba melihat gadis secantik putri tuanku. Kalau ada sumur diladang, boleh hamba menompang mandi. Kalau umur sama panjang, pasti kita akan bertemu lagi,” kata Datuk Perpatih nan Sebatang.
            Akhirnya Sultan Malaka melepas Datuk Perpatih nan Sebatang dengan berat hati. Sultan dan para pengawalnya mengantar Datuk Perpatih nan Sebatang dan rombongan sampai ke kapal. “Kalau tuan Perpatih kembali dari pengembaraan, akan menerima tuan dengan tangan terbuka,” kata Sultan.
            Datuk Perpatih nan Sebatang kembali melanjutkan pelayaran. Akan tetapi cuaca malam itu kurang baik. Lagi pula persedian air minum di kapal habis. Terpaksalah kapal tersebut singgah di suatu nagari. Di sana ia pun disambut dengan baik. Bahkan ia sempat mengajar tentang adat-istiadat dan filsafat Alam. Pun ikut membangun sembilan nagari bersama masyarakat di sana. Konon negeri itu sampai sekarang masih memakai nama Negeri Sembilan. Dan memakai adat yang diajarkan oleh Datuk Perpatih nan Sebatang, yang mereka sebut: Adat Perpateh. Kemudian mereka berangkat lagi, singgah di Kamboja, negeri Thai, dan akhirnya ke negeri Cina.
           
*


BERTEMU DENGAN MAHARAJA CINA.

            Datuk Perpatih nan Sebatang menghadap Maharaja Cina, ia diterima di istana yang megah. Seluruh lantai istana beralaskan permadani merah. Maharaja Diraja duduk di singgasana yang berukirkan “naga berebut mustika”. Di kiri kanan, pada tingkat yang lebih rendah berjejer para menteri, dan beberapa orang Kasim (orang kepercayaan raja). Sementara itu Datuk Perpatih nan Sebatang duduk bersimpuh. Menurut peraturan istana, tidak seorang pun dibenarkan memandang wajah Maharaja Cina. Tapi sekilas pakaian Maharaja Cina itu bewarna kuning dengan bahan sutra asli. Sedangkan yang lainnya, memakai pakaian, merah, ungu, dan berkembang-kembang
            “Saya sudah mendengar kecerdasanmu dari kurir kami yang berada di negeri-negeri yang engkau kunjungi. Selentingan berita yang saya terima, engkau adalah keturunan Maharaja Diraja dari Minangkabau.Benarkah?”
            “Benar, Maharaja,” sahut Datuk Perpatih nan Sebatang tanpa mengangkat kepala.
            “Di negerimu, garis keturunan menurut ibu. Suatu hal yang jarang ada di dunia ini. Bisakah kamu menjelaskan. Kenapa harus menurut garis ibu. Padahal rata-rata suku bangsa memilih garis keturunan dari ayah,” kata Maharaja Cina.
            Merenung sesaat Datuk Perpatih nan Sebatang. Ia ingin menggeser tempat duduknya agar lebih dekat pada Maharaja Cina. Tiba-tiba kedengaran bunyi gemerincing pedang dihunus.
            “Biarkan dia lebih mendekat,” kedengaran Maharaja Cina memberi titah.
            Datuk Perpatih nan Sebatang mendengar suara halus, suara pedang kembali disarungkan. Lelaki itu kemudian berkata,”Di negeri kami, kaum lelaki sering meninggalkan rumah. Mereka pergi berburu. Kadangkala sampai berbulan-bulan, bahkan sampai berbilang tahun. Mereka kembali membawa hasil buruannya, dan memberikan pada istrinya. Di rumah mereka tidak lama, paling lama sepekan, kemudian berangkat lagi.”
            “Jadi itukah yang membuat suku bangsa Minangkabau menetapkan garis keturanan menurut garis ibu?” Maharaja Cina memotong tuturan Datuk Perpatih nan Sebatang.
            “Hamba belum selesai, Maharaja.”
            “Teruskan ceritamu.”
            “Kaum lelaki bukan saja membawa hasil buruannya, berupa daging tapi juga binatang yang mereka tangkap dalam keadaan hidup, serta bibit tanaman. Daging buruan tentu akan dihidangkan oleh kaum ibu setelah dipanggang atau dimasak agar rasanya lebih gurih. Begitu pula sayuran, pun mereka hidangkan pada suami dan anak-anak mereka. Tetapi bibit tanaman mereka tanam di halaman rumah, atau di sawah dan ladang. Demikian pula dengan binatang buruan yang masih hidup, kaum ibu memelihara binatang tersebut sehingga jinak. Ayam, sapi, kerbau, kambing, domba jadi binatang piaraan kita. Yang menjinakan adalah kaum perempuan.”
            Maharaja Cina terkesima dengan keterangan Datuk Perpatih. Ia manggut-manggut, tanda tertarik oleh penuturan lelaki dari Minangkabau ini. Kadangkala ia berbisik-bisik dengan permaisurinya yang duduk di samping. Kadang menggamit salah seorang menterinya, berbicara pelan. Kelihatan menteri itu pun manggut-manggut.
            “Lalu, karena lebih banyak di rumah, kaum perempuan mengasuh anak-anak sampai remaja. Bukankah perempuan itu mahkluk yang luar biasa. Mereka mampu menjinakan binatang sehingga jadi binatang piaraan. Melahirkan dan mengasuh anak, di samping melayani suami. Suami itu adalah kita, kaum lelaki. Kalau kita mau jujur, perempuan adalah kehidupan itu sendiri. Apakah garis keturunan menurut ibu itu suatu hal yang muskil?”
            Maharaja Cina menyapukan pandangannya ke sekeliling ruang istana, menukikan pandangannya satu-persatu pada para pembantunya. Semuanya diam, tidak seorangpun yang menjawab pertanyaan bersayap Datuk Perpatih nan Sebatang. “Oya, menurut saya kaum perempuan itu, kaum lemah dan manja. Bila lelaki berperang, mereka lebih dulu mengungsi. Di bumi ini, siapa yang kuat, dialah yang jadi pemimpin. Oleh karena itu di belahan manapun di dunia ini, garis keturunan itu menurut garis ayah atau lelaki.” Maharaja Cina mengeluarkan pendapatnya.
            “Duli hamba Maharaja, bolehkah hamba lanjutkan penuturan hamba?”
            “Silahkan.”
            “Tidak seluruhnya perempuan itu manja. Bila perang tiba, mereka pun bisa kita ikut sertakan. Saya dengar di negeri Maharaja yang maha luas ini, bertebaran pendekar perempuan. Bukankah mereka pendekar yang gagah berani dan mampu berperang? Dan dampak dari sebuah peperangan adalah kehilangan harta, kaum kerabat, suami, ayah, kakek dan sebagainya.”
            Maharaja menatap Datuk Perpatih nan Sebatang penuh perhatian.
            “Banyak istri yang kehilangan suami karena perang. Dan istri yang sedang hamil tua tetap setia menunggu suaminya dari medan perang. Ternyata sang suami telah tewas di medan perang. Anak yang dikandung perempuan itu pun lahir tanpa ayah. Maka ibu adalah bukti yang sah bagi seorang anak, bahwa ia anak perempuan itu. Sedangkan anak tersebut mengetahui ayahnya yang tewas di medan perang, hanyalah dari cerita ibu atau cerita orang lain. Di negeri kami ada mamangan yang berbunyi,”Sayang ayah sepanjang penggalan, sayang ibu sepanjang jalan”. Artinya, sayang seorang ibu tak pernah habis-habisnya. Itulah salah satu bagian yang membuat suku bangsa Minangkabau, menetapkan garis keturunan menurut garis ibu.”
            Tiba-tiba Maharaja Cina bertepuk. Dua orang dayang datang menghadap. “Saya terkesan akan penjelasan tamu kita dari Minangkabau ini. Wawasan saya bertambah. Oleh karena itu kamu siapkan santapan di ruang makan istana.” Ia memberi perintah. Kemudian mengajak Datuk Perpatih nan Sebatang ke ruang santap.
            Berbagai hidangan tersaji di meja. Meja Datuk Perpatih nan Sebatang berhadapan dengan Maharaja Cina. Sebagai orang Minangkabau yang dikenal memiliki “akal panjang”, Datuk Perpatih nan Sebatang berniat melihat wajah Maharaja Cina. Semula ia memintal-mintal mi rebus dalam mangkok, kemudian ia angkat tinggi setinggi wajahnya. Saat itulah ia melahat wajah Maharaja. Kebetulan Maharaja Cina pun memandang ke arah Datuk Perpatih nan Sebatang, tampak Maharaja tersenyum ramah.
            Sayang perbuatan itu diketahui pengawal raja. Dua orang pengawal maju menyeret Datuk Perpatih nan Sebatang ke depan Maharaja. “Baginda, kami siap menerima perintah,” ujar kedua pengawal itu serentak seraya memalangkan pedang ke leher Datuk Perpatih nan Sebatang.
            Maharaja Cina diam sejenak. Ia mengibaskan tangan, tanda agar kedua pengawal itu beranjak meninggalkan tawanannya, Datuk Perpatih nan Sebatang itu. Bangkit Maharaja Cina, ia merangkul Datuk Perpatih nan Sebatang bagai  sahabat lama layaknya. “Lelaki dari Minangkabau ini memang cerdik. Dialah tamu asing yang bisa mencuri melihat wajah saya, seorang Maharaja Cina.”
            Sebelum berangkat, Datuk Perpatih nan Sebatang dipersilahkan Maharaja Cina untuk berkeliling ibu kota. Ia bertemu dengan para biksu di kuil Shaolin, mereka berbincang beberapa saat. Dan bertemu pula dengan pendeta Tao, di sana Datuk Perpatih nan Sebatang pun bertukar pikiran tentang filsafat Alam. Lalu ia pergi ke sentra-sentra kerajinan rakyat, melihat orang membuat barang kerajinan emas dan perak, ukiran kayu, menenun kain. Datuk Perpatih nan Sebatang banyak menimba ilmu pengeahuan di negeri Cina ini. Akhirnya ia mohon diri kepada Maharaja Cina untuk kembali melanjutkan perjalanan. Maharaja Cina memberi beberapa potong kain tenunan, kain bersulam dan lain-lainnya, sebagai cendera mata.


KEMBALI KE MINANGKABAU
             
            Kapal Datuk Perpatih nan Sebatang berlabuh di Tiku bersamaan dengan menyingsingnya fajar. Setelah mohon diri dengan Nangkodo dan anak buah kapal lainnya, ia segera melanjutkan perjalanan. Dari sana ia terus menuju istana, menemui ibu dan adiknya, Puti Jamilan. Datuk Perpatih nan Sebatang memberikan oleh-oleh pada Puti Jamilan yang dibawanya dari negeri Cina. Barang cenderamata yang oleh Datuk Perpatih nan Sebatang, dibuka Puti Jamilan. Riang tak terperikan Puti Jamilan, betapa barang cenderamata yang dibawa kakaknya itu beberapa perangkat pakaian perempuan. Pakaian perempuan itu terbuat dari sutra halus dengan sulaman indah. Kemudian terdapat pula sunting dari emas dan perak.
            “Alangkah baiknya kalau saya bisa membuat pakaian seperti ini,” ujar Puti Jamilan.
            “Kenapa tidak, bukankah kita punya penenun,” tukas Puti Juliah.
            Menurut hikayat, Puti Jamilan memanggil Dayang Pandai Sikek. Puti Jamilan menyuruh Dayang Pandai Sikek membuat tenunan sulam, seperti pakaian-pakaian yang dibawa oleh Datuk Perpatih nan Sebatang. Dan hasil karya Dayang Pandai Sikek itulah dikenal dengan kerajinan Pandai Sikek.
            Keesokan hari, Datuk Perpatih nan Sebatang berjalan-jalan masuk kampung keluar kampung. Masyarakat ramai menyambut lelaki tersebut. Pada kesempatan itu, ia memperkenalkan gelar yang dipakainya sekarang, yaitu Datuk Perpatih nan Sebatang. Dalam pertemuan itu, mereka menceritakan kelakuan Datuk Ketumanggungan. “Ia bukan pemimpin yang baik. Kacak langan bak langan, kacak batieh bak batih. Beraja di hati, bersutan di mata (Kacak lengan bagai lengan, kecak betis bagai betis. Beraja di hati, bersutan di mata).”
            Sejak Datuk Ketumanggungan memegang tampuk pemerintahan, ia menerapkan hukum tarik balas. Yaitu hukum balas membalas, siapa yang membunuh maka ia pun akan dibunuh tanpa diadili. Dan kepada siapa yang membangkang terhadap perintahnya, ia akan dimasukan ke dalam penjara. Hal ini yang membuat rakyat gelisah.
            “Tuan Datuk Ketumanggungan, sebaiknya hukum tarik balas itu, tuan cabut. Ganti dengan yang lebih adil,” usul Datuk Perpatih nan Sebatang ketika bertemu dengan Datuk Ketumanggungan
            “Adil…Apakah hukum tarik balas itu, tidak adil menurutmu. Orang membunuh, apakah dibiarkan begitu saja. Orang mencuri, dibiarkan saja. Denai tidak mengerti jalan pikiranmu, ‘ ujar Datuk Ketumanggungan keras.
            “Maksud denai, mereka yang berbuat kejahatan itu harus diadili lebih dulu. Agar kita dapat mengetahui persoalan yang sebenarnya. Mungkin dia dihukum gantung, mungkin dia dipenjara seumur hidup. Bisa juga dibebaskan karena kejahatan yang dituduhkan kepadanya hanyalah fitnah belaka.”
            Berpikir sesaat Datuk Ketumanggungan. Kemudian berkata,”Ah, kamu mengada-ada. Orang membunuh harus dibunuh. Orang mencuri harus diambil hartanya.”
            “Bagaimana kalau tuan atau anak tuan digigit anjing. Apakah tuan akan membalas menggigit anjing itu pula?”
            Datuk Ketumanggungan diam. Ia lalu bangkit seraya bersungut-sungut meninggalkan Datuk Perpatih nan Sebatang.
            Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Musim pun berlalu dengan cepat. Suatu hari Datuk Ketumanggungan berjalan di depan rumah Mangkutak. Tiba-tiba muncul dari halaman Mangkutak, seekor anjing. Anjing itu tidak menggonggong, ia langsung menerkam betis Datuk Ketumanggungan. Lelaki itu terkejut, dan memukulkan tongkatnya dan tepat mengenai kepala anjing tersebut. Tersungkur anjing itu. Binatang itu mati seketika.
            “Tuan telah melanggar hukum tuan sendiri,” kata Datuk Perpatih nan Sebatang.
            “Anjing itu sudah sepantasnya mati,”ujar Datuk Ketumanggungan.
            “ Dia menggigit betis tuan. Mestinya tuan membalas dengan gigitan pula. Bukan membunuhnya.”
            Kian hari perselihan antara kedua bersaudara, kian meruncing. Masing mereka membuat sistem pemerintahan masing-masing. Sistem pemerintahan tersebut dikenalkan dengan sistem Koto Piliang, yang digagas oleh Datuk Ketumanggungan. Dan Datuk Perpatih nan Sebatang membentuk sistem Bodi Caniago. Perdamaian antara kedua mereka ditandai dengan penikaman batu, di Limo Kaum. (*8)


Catatan tentang hikayat Datuk Perpatih nan Sebatang:

(*8) Hikayat Datuk Perpatih nan Sebatang, semula diceritakan secara lisan atau kaba. Kemudian karena perkembangan zaman, hikayat ini ditulis dengan bahasa Melayu (Minang) dan Indonesia  Seperti juga kaba, yang disampaikan oleh “pekaba” maka hikayat tertulis tentang Datuk Perpatih nan Sebatang pun berbeda-beda, menurut situasi yang sedang berlaku. Seperti yang dicatat pada catatan kaki terdahulu, Datuk Perpatih nan Sebatang bisa saja muncul pada ruang dan waktu yang berbeda. Dalam  adu kerbau, ia bersama Datuk Ketumnggungan, dan Cati Bilang Pandai, berperan besar menggagas kerbau kecil yang diberi tanduk besi runcing. Ia bisa muncul ketika Anggang dari Laut datang. Atau melakukan pengembaraan ke berbagai negeri, dengan waktu yang berbeda, ratusan tahun. Maka tak salah kiranya, kalau Rusli Amran dalam buku Sumatra hingga Plakat Panjang, berkomentar: “Seandainya Sejarah Perang Paderi belum ditulis, kemungkinan Imam Bonjol dapat dianggap Datuk Perpatih nan Sebatang”  (Penerbit Sinar Harapan- 1980)

**


3

Meretas Asal, dan Perjalanan Maharaja Diraja


            Tambo memulai asal-usul dan perjalanan Maharaja Diraja dengan paparan:
Manuruik warih nan dijawek, pusako nan ditolong, kaba asa nan dahulu, kok gunuang sabingkah tanah, bumi ko sapahimbauan, kok lauik sacampak jalo, tanah darek balun lai leba. Timbua gunung Marapi. Lorong nan niniak moyang kito, asa-usuanyo kalau dikaji bana, iyo dalam sapiah balah tigojurai.

Nan tuo banamo Maharjo Alih, nan tingga di banua Ruhum, nan tangah Maharajo Dipang, nan jatuah ka banua Cino, nan bungsu Maharajo Dirajo, nan turun ka pulau Ameh nangko.

Menurut waris yang diterima, pusaka yang ditolong, kabar asal yang dahulunya, gunung sebingkah tanah, bumi sepehimbauan, laut selontaran jala, daratan belum seluas ini. Timbul gunung Merapi. Dalam pada itu, nenek moyang kita, asal-usulnya kalau dikaji benar, ialah dalam serpihan belah tiga jurai.
Yang tua bernama Maharaja Alif, yang turun ke benua Ruhum (Rum Timur), yang ditengah Maharaja Dipang, yang turun ke benua Cina, yang bungsu Maharja Diraja, yang turun ke pulau Emas ( salah satu dari nama pulau Sumatra).
            Kemudian disambung pula dengan kalimat: Takalo maso dahulu, samusim saisuak, iyo bak kato pusako:

            Di mano titiak palito
di baliak telong nan batali
Di mano turun niniak kito
Di lereng gunung Marapi


Menurut kaba atau Tambo, tanah air kita ini dahulunya belum terpisah-pisah seperti sekarang. Tanah air kita masih bersatu dengan tanah Semenanjung Malaka sampai ke dataran Asia.
Dimasa banjir Nabi Nuh (kiamat Nabi Nuh), hancurlah tanah-tanah itu dilanda banjir besar, sehingga terjadi erosi, muncul selat-selat dan pulau-pulau besar dan kecil, yang jumlah ribuan. Dalam mamangannya dinukilkan:

Pisau sirauik bari bahulu
Diasah mangko bamato
Lautan sajo dahulunyo
Mako banamo pulau Paco (pulau Perca, juga nama lain dari Sumatra)

            Ketika air surut Maharaja Diraja berlayar. Tatkala ia dan rombongan melihat gunung Merapi telah timbul, ia merapat dan berlabuh di kaki lereng gunung Merapi. Informasi Tambo menyebutkan Maharaja Diraja dan rombongannya berlabuh pada sebuah tempat yang bernama lagundi nan baselo (sebuah pohon yang akarnya mirip orang bersila). Dan dari sana ia dan rombongannya membagun kampung, taratak, dusun, kemudian nagari.

            Dari kisah Tambo tersebut maka kita perlu meretas satu-persatu, apa yang digambarkan Tambo itu. Sebelum perjalanan dikisahkan, kita mendapat informasi tentang keturunan nenek moyang suku bangsa Minangkabau. Mereka adalah tiga orang bersaudara, putra dari Iskandar Zulkarnain (dalam versi lain). Maharaja Diraja, adalah putra bungsu. Sedangkan yang tertua adalah Maharaja Alif yang memerintah negeri Rum Timur, dan yang kedua adalah Maharaja Dipang, menjadi raja di negeri Cina Boleh dikatakan secara umum pembaca mengetahui akan informasi tersebut. Dan itulah kebanggaan tersendiri sebagian besar anak-kemenakan suku bangsa Minangkabau ini.

ISKANDAR ZULKARNAIN
(Alexander Yang Agung)

            Alexander Yang Agung atau Iskandar Zulkarnain, penakluk yang tersohor dari dunia silam itu dilahirkan di Pello tahun 356 SM, ibukota Macedonia. Orang tuanya, Raja Philip II dari Macedonia, seorang ahli perang. Dengan kemampuannya, ia mampu mengorganisir Angkatan Bersenjata Macedonia, menjadi mesin tempur yang berkualitas tinggi. Dengan Angkatan Bersenjatanya itu, Philip II menaklukan Yunani dan daerah sekitarnya. Sayang ketika ia merancang penyerangan Kekaisaran Persia, dan di tahun 336 SM memulai penyerangan ke bagian timur Kekaisaran tersebut, ia tewas dalam pertempuran. Yang tatkala ia baru berusia empat puluh tahun.
            Memang jauh-jauh hari Philip II telah mempersiapkan putranya, Iskandar.  Tidaklah sulit bagi Iskandar untuk menduduki tahta, mengantikan ayahnya. Tatkala itu ia baru berusia dua puluh tahun, masih muda belia. Seorang anak muda yang memiliki kehandalan militer, dan ia juga diserahkan oleh ayahnya pada seorang filosof, yakni Aristoteles. Di masa itu disebutkan Aristoteles, seorang yang paling cendikiawan dan filosof yang termasyhur zaman itu.
            Semula bangsa yang menjadi taklukan Macedonia menganggap dengan kematian Philip II, mempunyai peluang untuk mengusir dari daerah mereka. Melepaskan diri dari genggaman sepenuhnya dari Macedonia. Akan tetapi anggapan mereka sirna seketika. Dua tahun setelah Iskandar naik tahta. Anak muda ini mampu mengatasi gejolak di daerah tersebut. Setelah itu Iskandar mulai melirik Persia, sesuai dengan cita-cita ayahnya.
            Kekuasaan bangsa Persia, selama dua ribu tahun sangatlah luas. Terbentang mulai dari Laut Tengah hingga ke India. Walaupun di masa itu kejayaan Kekaisaran Persia mulai surut, namun bagi Macedonia masih tetap merupakan lawan tangguh.
            Tahun 334 SM, Iskandar melancarkan serangan awal ke Persia. Iskandar hanya mempunyai tentara 35.000 orang, jelaslah tidak sebanding dengan kekuatan Angkatan Bersenjata Persia. Ini merupakan misi berani mati dari Iskandar. Kendati pun banyak rintangan yang harus dihadapi, Iskandar berhasil memenangkan pertempuran tersebut Dan dalam pertempuran tersebut, yang menjadi kunci kemenangannya adalah karena pasukan benar-benar terlatih. Lalu Iskandar sendiri adalah panglima perang yang gagah berani. Ketiga, dia langsung memberi komando di atas pelana kudanya. Semua membuat rasa percaya diri para tentaranya semakin kuat untuk menggempur musuh-musuh mereka.
            Iskandar Zulkarnain memang seorang penakluk yang tidak ada duanya, di masa itu. Setelah melumat Persia, menerjang Asia Kecil,  Mesir menyerah tanpa perlawanan. Di sana dia diberi gelar Firaun dan dinobatkan sebagai dewa. Babylon pun dilabraknya, itulah akhir dari kejatuhan Kekaisaran Persia. Raja Darius III terbunuh oleh tentaranya sendiri, karena tidak ingin melihat raja itu menyerah pada Iskandar. Asia Tengah pun ia jamah. Demikian juga India bagian barat
Ia beristrahat beberapa tahun. Dalam peristrahatan yang agak panjang tersebut, ia mulai memikirkan tentang kebudayaan. Ia ingin memperlihatkan kepada dunia bahwa bangsa Yunani, bukanlah bangsa barbar. Walaupun ia pernah menaklukan bangsa Persia, ia pun menaruh perhatian pada kebudayaan Persia. Berkat dukungan gurunya, Aristoteles, Iskandar Zulkarnain memadukan kebudayaan Yunani dan Persia, pertemuan antara Timur dan Barat.
Demikianlah selintas riwayat hidup Iskandar Zulkarnain atau lebih dikenal di dunia barat, Alexander the Great. Ada orang bilang ia hanya seorang militer yang haus penaklukan, dan seorang barbar. Tapi dalam kenyataannya, di zamannya hidup para filosof termasyhur. Dan berkembangnya kebudayaan barat dan timur. Pengaruhnya kebudayaan tersebut sampai mendunia. Sayang, dia meninggal pada usia muda tahun 323 SM, saat berada di Babylon. Ia terserang demam panas, dan menghembuskan nafas dalam usia belum lagi tiga puluh tahun. Yang perlu dicatat; Iskandar berhasil mendekatkan kebudayaan Yunani dengan Timur Tengah, sehingga masing-masing mendapat manfaat, sekaligus mempertinggi kebudayaan masing-masing. Pun pengaruh kebudayaan Yunani menyebar ke India, dan Asia Tengah.

Agaknya kebesaran Iskandar Zulkarnain itu menjadi insprasi Tambo untuk menghubungkan nenek moyang suku bangsa Minangkabau. Dalam sejarah disebutkan bahwa seluruh keluarga Iskandar Zulkarnain terbunuh, karena perebutan kekuasaan. Lalu kenapa tiba-tiba muncul tiga orang putra Iskandar Zulkarnain? Dan tiga putra tersebut, menjadi raja di negeri Rum, Cina dan Minangkabau. Dua negeri yang ditunjuk, yaitu Romawi (Rum Timur) dan Cina adalah negeri memiliki kebudayaan tinggi.
Jika kita simak, penaklukan Iskandar Zulkarnain sampai ke India, dan pengaruh kebudayaan Yunani pun menjalar ke daerah taklukannya, termasuk Rum. Sedangkan pengaruh kebudayaan Yunani kepada Cina, perlu kajian yang khusus. Lalu siapakah “pencipta” Tambo itu. Apakah dia seorang perantau dari Minangkabau, yang pernah mengembara ke India, Cina, Rum, Yunani. Atau dia hanyalah seorang pendengar yang cerdas, yang mampu menyerap dan menyimpan dalam kepalanya setiap kisah yang diceritakan pencerita lain. Lantas kapan dia hidup? Kita memang buta akan masalah ini. Lagi pula, awal mula Tambo tersebut dikabakan lewat oral atau lisan. Sedang ketika Tambo dituliskan dengan huruf latin (atau Arab Melayu: kalau ada), tidak ada sedikit pun menjelaskan siapa”pencipta” kaba asal-usul itu.
            Tapi yang lebih penting adalah mencari kenapa asal-usul suku bangsa Minangkabau itu dihubungkan dengan Iskandar Zulkarnain. Sebagai makhluk Tuhan yang diberi bekal dengan akal atau pikiran, kita tidak berdosa membuat hipotesa. Apakah tidak mungkin masih tersisa keluarga Iskandar Zulkarnain dari pembantaian karena perebutan kekuasaan di Macedonia, setelah ia meninggal? Hal itu bisa saja terjadi. Sebagai seorang raja besar, sudah lumrah ia juga mempunyai istri atau selir di luar istana. Dan keturunan yang ada di luar istana itu, mendengar ayah mereka mangkat, dan kekuasaannya diperebutkan oleh panglima-panglimanya. Tentulah mereka menyingkir ke daerah lain, yang lebih aman. Di antara mereka yang selamat, Alif, Dipang, Diraja. Kebetulan nasib baik berpihak kepada mereka, sehingga menjadi pemimpin di suatu wilayah.
            Maharaja Alif menjadi raja di negeri Ruhum (Rum Timur). Lalu Maharaja Dipang dan Maharaja Diraja dapat kita asumsikan bersama ke negeri Cina. Di Cina, Dipang dapat merebut kekuasaan, ia naik tahta dengan gelar Maharaja Dipang. Sementara itu Diraja hanya mendapat kedudukan sebagai kerabat raja.
            Bila kita hubungkan dengan waktu atau masa, kematian Iskandar Zulkarnain pada tahun 323 SM. Kita patok saja usia mereka sekitar dua puluh tahun, maka masa Dipang dan Diraja di negeri Cina sekitar 300 SM. Lantas kita harus mencari pula, dinasti apa yang berkuasa tahun 300 SM. Penulis mendapatkan raja Cina yang berkuasa sekitar 250-210 SM, dia adalah Shih Huang Ti (Mendekati masa hidup Dipang dan Diraja).
            Shih Huang Ti juga menyebut diri Wang, yang artinya raja. Dalam dialek Minang, ucapan Waang dipakai untuk orang kedua. Memang banyak pemakaian kata atau bahasa Cina ke dalam bahasa kita, seperti cawan, teko dan sebagainya. Dan kalau kita simak secara seksama, tampak ada pengaruh Cina terhadap kebudayaan Minangkabau, seperti pakaian pengantin perempuan, pakain lelaki, perhiasan dan lain-lain.
Baiklah, kita menjemput kembali mamangan asal-usul :
           
            Di mano asa titiak palito,
dari baliak telong nan batali
Dari mano asa nenek moyang kito,
dari lereng gunung Marapi

            Kita coba menfasirkan baris kedua dari pantun ini : kata telong, jelaskan bukan berasal bahasa Minangkabau tapi dari Cina, yaitu sebuah lentera yang terbuat dari kertas, atau dikenal juga dengan sebutan lampion. Alat penerangan ini lumrah dipakai pada tempo dulu oleh masyarakat Cina. Sedangkan alat penerangan di Minangkabau, yaitu suluh (ada yang terbuat dari daun kelapa kering, dan ada juga bambu yang diberi sumbu, yakni obor). Maka dapatlah kata “kata telong” merupakan kata bermakna tersirat, bahwa sebelum mereka menetap di lereng gunung Marapi, nenek moyang suku bangsa Minangkabau itu pindah dari negeri asalnya, ialah negeri Cina.
            Diraja tinggal bersama saudara tengahnya, Dipang di Cina beberapa lama. Bila dihubungkan dengan Shih Huang Ti adalah sama dengan Dipang, maka perpindahan Diraja dari Cina, bukanlah perpindahan biasa, dapatlah kita samakan dengan eksodusnya Nabi Musa dari Mesir, karena perselisihan dengan Firaun. Dikisahkan Diraja melarikan diri dari Cina, mempunyai persamaan dengan eksodus Musa dan pengikutnya. Karena di masa pemerintahan Shih Huang Ti terjadi pembantaian terhadap mereka yang tidak sepaham dengan sang raja itu. Hal tersebut itu dilakukan oleh karena Shih Huang Ti ingin “menyelamatkan” kekuasaannya, dari lawan-lawannya. Kemungkinan bahaya tersebut pun datang dari Diraja, saudaranya sendiri.
            Melihat keadaan seperti itu, Diraja dan keluarga serta pengikutnya yang setia, segera melarikan diri. Dari pantai mereka lalu berlayar menuju Sumatra. Hipotesa yang saya buat ini, belumlah final. Sementara itu “kebenaran” Maharaja Diraja memang putra bungsu Iskandar Zulkarnain, baru dikaji sebatas kulit pertama. Tapi saya akan mengajak pembaca terlebih dahulu ke masalah : Apakah Iskandar Zulkarnain sang raja Macedonia tersebut, yang dimaksud oleh Tambo – seperti tertulis dalam al-Quran, surat al- Kahfi ?

            “Mereka akan bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Zulkarnain. Katakanlah aku akan bacakan kepadamu tentangnya. Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di (muka) bumi, dan Kami telah memberi kepadanya jalan (untk mencapai) segala sesuatu. Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbenam matahari, dia melihat matahari terbenam di dalam laut yangberlumpur hitam, dan dia mendapatkan di situ segolongan umat. Kami berkata: Hai Zulkarnain, kamu boleh menyiksa atau berbuat kebaikan terhadap mereka.Berkata Zulkarnain: Adapun orang aniaya, maka kami kelak akan mengazabnya, kemudian dia kembalikan kepada Tuhannya, lalu Tuhan mengazabnya dengan azab yang tidak ada taranya. Adapun orang yang bermal saleh, maka baginya pahala yang terbaik, sebagai balasan, dan akan Kami titahkan kepadanya (perintah) yang mudah dari perintah Kami. Kemudian dia menempuh jalan (yang lain). Hingga apabila ia telah sampai ke tempat terbit matahari (sebelah Timur) dia mendapati matahari itu menyinari segolongan umat yang Kami tidak menjadikan bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari (cahaya) matahari itu, demikianlah. Dan sesungguhnya ilmu Kami meliputi segala yang ada padanya. Kemudian ia menempuh suatu jalan (yang lain lagi) Hingga apabila dia telah sampai di antara dua buah gunung, dia mendapati di hadapannya kedua bukit itu suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan. Mereka berkata,”Hai Zulkarnain, sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatlah kami memberikan suatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?Zulkarnain berkata,”Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku membuatkan antara kamu dan mereka. Berikanlah potongan-potongan besi hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Zulkarnain,”Tiuplah api itu)”. Hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, diapun berkata,” agar kutuangkan (yang mendidih) besi panas itu.” Maka mereka tidak bisa mendaki dan mereka tidak (pula) melobanginya.Zulkarnain berkata,”Ini (dinding) adalah rahmat dari Tuhanku, maka apabila sudah datang janji Tuhanku, dia kan menjadikanya hancur luluh, dan janji Tuhanku itu adalah benar,”Kami biarkan mereka bercampur aduk antara satu dengan yang lain, kemudian ditiupkan lagi sangkakala, lalu Kami kumpulkan mereka itu semua, dan Kami nampakan jahanam kepada orang-orang kafir dengan jelas. Yaitu orang-orang yang matanya dalam keadaan tertutup dari memperhatikan tanda-tanda kebesaran-Ku, adan adalah mereka yang tidak sanggup mendengarnya” (Q,S: 18; 83-101)

            Dari cuplikan al-Quran, surat al-Kahfi tersebut, kelihatan “pembuat Tambo” ingin menjelaskan kepada para pendengar bahwa “nenek moyang” itu adalah orang yang terpilih, sebelum Nabi Muhammad diutus oleh Tuhan. Zulkarnain, bukan sekadar pemimpin militer tapi juga orang yang berilmu, sehingga dia diberi tugas oleh Tuhan memberantas orang-orang kafir. Dan Rasulullah pun seorang negerawan, pemimpin militer dan umat manusia.
            Maka kita tafsirkan  Tambo asal-usul tersebut, diciptakan dan dikabakan oleh seseorang yang telah memeluk agama Islam. Kemungkinan ia berada dan hidup di zaman Minangkabau mencapai puncaknya (*9). Dan bukanlah hal yang muskil apabila asal-usul suatu suku bangsa atau bangsa dikisahkan secara berlebihan. Pengkaitan  dengan negeri Rum, Cina merupakan kebanggaan tersendiri. Disamping itu “pembuat Tambo” diperkirakan dalam membaca dan menerjemahkan al-Quran (dan menafsirkan), belum memiliki pengetahuan yang memadai tentang penerjemahkan (*10). Sehingga dalam memahami surat al-Kahfi, lebih terkesan tergesa-gesa. Lagi pula yang dimaksud dituju hanyalah “kehebatan” Zulkarnain, yang kemudian dihubungkan dengan Iskandar Zulkarnain (Padahal al-Quran hanya menyebut Zulkarnain, bukan Iskandar Zulkarnain) Dari berbagai pendapat umum disimpulkan bahwa Yakjuj dan Makjuj merupakan bagian kisah asal-usul dan pemikiran munculnya Tambo. Karena rangkaiannya, di masa lampau negeri Minangkabau terus-menerus dijajah oleh kerajaan maupun bangsa lain. Dan Yakjuj dan Makjuj merupakan bahaya bagi umat manusia, di mana sikap kedua mahkluk tersebut membuat kerusakan di muka bumi ini. Implementasi dari mereka yang suka berbuat kerusakan dimuka ini, antara lain: penjajahan bangsa lain terhadap bangsa lainnya. (*11)


Catatan kaki:

(*9) Bangsa lain dalam membesarkan bangsanya sendiri, senantiasa mengaitkan asal-usul nenek moyang mereka dengam mitologi: bangsa Yunani dan Romawi mengaitkan dengan para dewa. Demikian pula dengan bangsa Jepang, yang mengaitkan dengan Dewa Matahari. Tampaknya demikian pula dengan suku bangsa Minangkabau.

(*10) Di Indonesia, al-Quran diterjemahkan pertama kali oleh Syekh Abdur Rauf as-Singkile pada abad ke 16. Al-Quran tersebut diterjemahkan (dan tafsiran) dengan bahasa Melayu, yang berhuruf Arab gundul.

(*11) Istilah Yakjuj dan Makjuj (Ya’juj dan Ma’juj) disebut dalam al-Quran, pada surat al-Kahfi:94 dan surat al-Anbiya:98. Al-Quran menyebutkan sifat dari Yakjuj dan Makjuj itu adalah mufsiduna fi al-ard (yang merusak di muka bumi). Pada surat al-Kahfi: dikatakan bahwa penduduk di antara dua gunung merasa cemas kalau Yakjuj dan Makjuj itu datang ke negeri mereka. Mereka bersedia membayar upeti pada Zulkarnain, bila ia bisa membangun tembok pertahanan. Sementara itu pada surat al-Anbiya 96 digambarkan bahwa apabila pintu telah terbuka, dan Yakjuj dan Makjuj masuk, maka terjadilah hari kiamat. Kitab-kitab tafsir berbeda pendapat tentang apa yang dimaksud Yakjuj dan Makjuj. Ada pendapat yang menyebutkan bahwa Yakjuj dan Makjuj tersebut adalah bahaya dari Mongol yang telah memporak-porandakan Bagdad. Tapi kenyataan tersebut dianggap keliru oleh para ahli tafsir lain. Karena Mongol setelah itu telah banyak berbuat dalam membangun dan mendirikan kembali kerajaan Islam, seperti di Turki dan India.

BANJIR NUH

            Informasi yang disampaikan kepada kita: Maharaja Diraja berlayar setelah banjir besar pada zaman Nabi Nuh.  Akan tetapi Tambo tidak menyebutkan bahwa Maharaja Diraja dan pengikutnya merupakan bagian dari umat Nabi Nuh. Tambo hanya menyatakan masa keberangkatan dan berlabuhnya Maharaja Diraja lereng kaki gunung Marapi ketika banjir besar tersebut selesai.
            Ditilik kepada masa terjadinya banjir Nabi Nuh tersebut, sekitar dua puluh dua abad sebelum masehi (XXII SM). Waktu itu kebudayaan manusia sudah berkembang, dan bumi ini telah terkembang sebagaimana yang kita temui sekarang (*12). Jelaslah asumsi yang dikabarkan oleh Tambo tentang bumi belum mengacu pada ilmu Bumi.  Lagi pula kita dibuat bingung karena antara satu informasi dengan informasi saling bertolak belakang. Misalnya, dengan merujuk Maharaja Diraja sebagai salah seorang putra Iskandar Zulkarnain (Abad ke III SM). Dan sangat kacau lagi, apabila ada pula inforamsi yang menyatakan, Zulkarnain yang dimaksud tersebut seorang raja Turki, yang hidup sekitar abad 11 Masehi. Yang kemudian anaknya mendirikan kerajaan Inderapura di Pesisir Selatan.
**
________________________________________________________________________

Catatan kaki:

(*12) Tentang Banjir di zaman Nabi Nuh, bukan saja dimuat dalam al-Quran tapi juga dimuat oleh kitab-kitab lainya: Perjanjian Lama (Bibel). Banjir itu terjadi ketika Nabi Nuh berusia 600 tahun. Maurice Bucalle dalam bukunya” Bibel, Al-Quran dan Sains Modern” (penerbit Bulan Bintang: penerjemahan H.M.Rasjidi) : berpendapat bahwa keterangan al-Quran lebih layak dipercaya. Ia menyatakan bahwa Banjir Nabi Nuh hanya menghukum umat Nuh, bukan seluruh umat yang ada di dunia ini. “Bagaimana mungkin orang dapat menggambarkan bahwa Banjir Nuh itu membinasakan penghidupan di atas seluruh dunia (kecuali penumpang Perahu Nabi Nuh) pada abad ke XXI atau abad ke XII SM. Pada waktu itu di beberapa tempat di dunia telah berkembang bermacam-macam peradaban yang bekas-bekasnya dapat kita lehat sekarang. Bagi Mesir umpamanya, waktu itu adalah zaman yang menyaksikan akhir Kerajaan lama dan permulaan Kerajaan baru.”  Jadi kesimpulan Maurice menyatakan bahwa penjelasan al-Quran tentang Banjir Nuh lebih akurat, layak dipercaya, sesuai dengan Sains Modern. Dan kalau Tambo pun mengabarkan bahwa rombongan Maharaja berangkat menuju pulau Perca, suatu keniscayaan.  


Bersambung 
Catatan:  
Bagi sidang pembaca yang berminat dan berkepentingan untuk menerbitkan tulisan ini secara lengkap yang terdiri dari 17 Bab dapat menghubungi penulis Amran SN di Hp. 081266880894



           
           














2 komentar:

Anesa Satria,SH.MM. mengatakan...

sungguh.. merupakan bukti sejarah yang sangat bermanfaat bagi kita dan generasi selanjutnya. Namun untuk lebih kuat dan pastinya tambo atau sejarah ini, mungkin perlu diseminarkan atau didiskusikan lagi dengan para pakar sejarah dan kebudayaan yang ada di negara kita maupun di manca negara.

TAMBO DUNIA mengatakan...

Terima kasih saya sampaikan atas apresiasinya. Mengenai usul bung Anesa untuk diseminarkan mengenai tambo dan sejarah ini sangat baik dan saya sangat mendukungnya... silahkan bung Anesa berinisiatif untuk hal itu dan dapat menghubungi di hp.081266880894....

Poskan Komentar